Beranda Travelling Ada ‘Virus’ Digital di Pelatihan Dasar SDM Kepariwisataan Goes to Campus Edisi...

Ada ‘Virus’ Digital di Pelatihan Dasar SDM Kepariwisataan Goes to Campus Edisi Buleleng

390
Ada ‘Virus’ Digital di Pelatihan Dasar SDM Kepariwisataan Goes to Campus Edisi Buleleng
Ada ‘Virus’ Digital di Pelatihan Dasar SDM Kepariwisataan Goes to Campus Edisi Buleleng

BULELENG – Pelatihan Dasar SDM Kepariwisataan Goes to Campus, Selasa (12/3), benar-benar menjadi panggung pencerahan. Tenaga Ahli Menteri Pariwisata Bidang Pemasaran dan Kerjasama Pariwisata I Gde Pitana, secara khusus membedah tema digital, di Gedung Pasca Sarjana Universitas Ganesha, Bali.

Mantan Kadispar Bali itu tergolong jago. Pengalamannya saat menakhodai Deputi Pengembangan Pariwisata Mancanegara itu ikut ditularkan di forum. Digital lifestyle menjadi fokus bahasannya. Dan semuanya diikupas secara tuntas.

“Zaman sudah berubah. Dulu kita bicara soal transformasi. Sekarang sudah bergeser ke digital,” kata Pitana saat menjadi pembicara di Pelatihan Dasar SDM Kepariwisataan Goes to Campus, Selasa (12/3).

Pertanyaannya, apa benar realitanya seperti itu? Semua sudah bergeser ke digital?

“Kalau tak percaya lihat saja perusahaan transportasi terbesar di dunia seperti Uber. Mereka tidak punya pool sendiri, tidak punya sopir sendiri, tidak punya kendaraan, tapi bisa dinobatkan sebagai perusahaaan transportasi terbesar di dunia. Sekarang, trendnya orang lebih suka menggunakan kemajuan teknologi untuk mengembangkan usahanya,” papar Pitana.

Metodenya sudah berbeda. Old game is over. Dulu, mindset orang adalah adalah beli, miliki, dan menguasai. Sekarang tidak harus memiliki, tapi memanfaatkan kekosongan atau kapasitas yang kosong milik orang seperti Gojek, Grab dan Uber. “Mau tak mau, suka tidak suka, cara lama harus ditinggalkan. Semua harus bergeser ke digital agar bisa survive. Termasuk pariwisata,” ujar pria berkacamata itu.

Kantas kenapa harus Go Digital? Ratusan mahasiswa Ganesha Bali diajak akrab dengan dunia maya. “Yang pertama konsumen kita sudah berubah. Perilakunya semakin digital,” urai Pitana.

Istilah “always-connected travellers” jadi makin nge-hits. Dimanapun dan kapanpun semua saling terkoneksi dengan adanya mobile apps/devices. “Jika kita tak berubah mengikuti perubahan konsumen, kita pasti akan mati,” paparnya.

Ratusan mahasiswa Ganesha Bali kemudian diajak ikut nimbrung mempromosikan pariwisata via digital. Diajak memproduksi foto-foto, video, grafis, text story yang bagus dari destinasi wisata. Diajak memviralkan di dunia maya.

Tanggapan Menpar Arief Yahya? Sangat positif. Menyentuh kalangan milenial di Universitas Ganesha Bali adalah salah satu bentuk komitmen Kemenpar untuk menghidupkan media sosial di kalangan anak-anak muda Indonesia. Apalagi untuk memenangkan pasar pariwisata dunia, Indonesia harus menguasai dunia digital. “Seperti yang sering saya katakan, the more digital, the more personal. Semakin digital, saya meyakini bisa menyentuh satu-persatu konsumen secara personal. Ingat, go digital or you’ll die. So, let’s change and embrace the digital world,” tutur Menteri asal Banyuwangi itu. (rif)