Beranda Sekolah Hebat Opini Guru ADL, Tingkatkan Kemandirian ABK Tunagrahita

ADL, Tingkatkan Kemandirian ABK Tunagrahita

549
: Onah, S.Pd. SLB PRI Pekalongan
Onah, S.Pd. SLB PRI Pekalongan

Anak tunagrahita tidak bisa mengurus diri sendiri sesuai usianya. Berdasarkan pengalaman penulis mengajar siswa kelas II Tunagrahita di SLB PRI Pekalongan, ada beberapa anak belum bisa memakai baju. Belum bisa memasang sepatu. Sedang berolahraga salah satu anak pipis di lapangan. Bahkan ada yang masih memakai pampers karena suka ngompol dimana saja tanpa kendali. Masih banyak orang tua yang betah menunggu anaknya di sekolah karena khawatir dengan aktivitas anaknya selama mengikuti pembelajaran. Hal-hal seperti ini dapat terjadi karena dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti: Hambatan dan keterbelakangan mental dan intelektual anak jauh di bawah rata-rata. Hambatan dalam tingkah laku dan penyesuaian diri. Pola asuh yang salah dari orang tua anak tunagrahita dengan memperlakukan mereka layaknya bayi. Ditambah pengetahuan orang tua yang minim tentang cara melatih dan membimbing kemandirian anak tunagrahita sejak dini akan mempengaruhi kondisi anak pada masa perkembangannya.

Untuk itu diperlukan kerjasama antara orang tua dan guru melalui kegiatan pembelajaran program khusus Activity of Daily Living untuk membimbing Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Tunagrahita mengembangkan kemampuan menolong dirinya sendiri, melakukan keterampilan hidup sehari-hari, dan hidup bermasyarakat tanpa banyak meminta bantuan orang lain.

Activity of Daily living (ADL) atau aktivitas kegiatan harian yang lebih familier dalam dunia pendidikan anak berkebutuhan khusus dikenal dengan istilah “Bina Diri”. ADL/ Bina Diri mengacu pada suatu kegiatan yang bersifat pribadi, tetapi memiliki dampak berkaitan dengan human relationship. Disebut pribadi karena mengandung pengertian bahwa keterampilan-keterampilan yang diajarkan atau dilatihkan menyangkut kebutuhan individu yang harus dilakukan sendiri tanpa bantuan orang lain bila kondisinya memungkinkan. Oleh karena itu, bagi anak tunagrahita keterampilan ini perlu mendapat bimbingan secara bertahap dan berkesinambungan sesuai dengan tahapan perkembangan dan kemampuan anak tunagrahita dengan harapan: (1) Anak dapat mengembangkan kemampuan sesuai dengan potensi yang dimiliki. (2) Guru dapat memusatkan pada pengembangan kompetensi Bina Diri anak didik dengan menyediakan berbagai kegiatan, sumber belajar, dan bahan ajar sesuai dengan kemampuan anak didik dan kondisi lingkungan sekolah. (3) Orang tua dan masyarakat dapat berperan aktif dalam pelaksanaan program ADL/Bina Diri di sekolah agar dapat ditindaklanjuti di rumah. (4) Sekolah dapat menyusun program ADL/Bina Diri sesuai dengan keadaan peserta didik dan sumber belajar minimal yang tersedia.

Program khusus ADL/Bina Diri terdiri dari beberapa aspek pengembangan dimana satu sama lain saling berhubungan dan ada keterkaitannya antara lain: Merawat diri (makan- minum, kebersihan badan, menjaga kesehatan). Mengurus diri (berpakaian, berhias diri). Menolong diri (menghindar dan mengendalikan diri dari bahaya). Berkomunikasi (Verbal, non verbal, isyarat,gambar). Bersosialisasi (pernyataan diri, pergaulan dengan anggota keluarga, teman ,dan anggota masyarakat). Pendidikan seks( membedakan jenis kelamin, menjaga diri dan alat reproduksi, menjaga diri dari sentuhan lawan jenis).

Program khusus ADL/Bina Diri SDLB Tunagrahita bertujuan agar anak memiliki kemampuan: (1) Mengenal cara-cara melakukan Bina Diri (merawat diri, mengurus diri, menolong diri, berkomunikasi, bersosialisasi, dan pendidkan seks). (2) Melakukan Sendiri kegiatan ADL/Bina Diri dalam hal (merawat diri, mengurus diri, menolong diri, berkomunikasi, bersosialisasi, dan pendidikan seks).

Pada akhirnya pendidikan di SDLB Tunagrahita melalui pembelajaran program khusus ADL/Bina Diri anak mampu melakukan sendiri kegiatan ADL/Bina Diri minimal dapat memenuhi kebutuhan dirinya dan menyesuaikan diri dengan lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Onah, S.Pd.
SLB PRI Pekalongan