Beranda Nasional Agustina Wilujeng Prihatin Kekerasan Generasi Muda Meningkat

Agustina Wilujeng Prihatin Kekerasan Generasi Muda Meningkat

12
BERBAGI
Anggota MPR RI Agustina Wilujeng bersama para pembicara pada acara Sosialisasi Empat Pilar di Gedung Wanita Jalan Sriwijaya Semarang Minggu Malam (11/02). FOTO:ARIS SYAEFUDIN ZUHRI/JATENGPOS

JATENGPOS.CO.ID. SEMARANG– Anggota MPR/DPR RI Agustina Wilujeng mengaku prihatin dengan aksi kekerasan yang dilakukan oleh kalangan pelajar dan pemuda di Indoensia cenderung meningkat belakangan ini. Terkini, Minggu siang (11/2) ada seorang pemuda nekat melakukan aksi penyerangan terhadap jemaat Sosialisasi Empat Pilar di Yogyakarta.

“Kejadian itu sangat memprihatinkan kita semua. Namun harapan kami, hal ini tidak memicu kemarahan dan aksi belas dendam. Semua pihak bisa menyikapi dengan kepala dingin,” katanya saat memberikan sambutan dan sekaligus membuka acara Sosialisasi Empat Pilar di Gedung Wanita Jalan Sriwijaya Semarang, Minggu malam (11/02).

Selain aksi kekerasan meningkat, menurut politisi dari PDIP ini, sikap toleransi, menghormati, saling menghargai dan saling tolong menolong pada diri pelajar, remaja dan pemda juga menipis. Padahal sikap-sikap seperti itu harus terus dijaga, dalam rangka membangun situasi aman dan nyaman serta menegakkan NKRI saat ini dan mendatang.

“Inilah pentingnya sosialisasi empat pilar dikalangan remaja dan pemuda. Ini sebagai upaya untuk menjaga dan mengamankan NKRI serta menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman di lingkungan tempat tinggal,” ucapnya anggota dewan dari Dapil Jateng IV ini.

Banyak contoh kasus yang menggambarkan betapa menipisnya rasa sikap toleransi, menghormati, saling menghargai dan saling tolong menolongan itu. Seperti siswa tidak takut lagi pada guru bahkan ada kasus siswa menghajar gurunya sampai tewas dan juga ada yang merampok driver taksi sampai meninggal. Balum lagi, contoh kecil saat berada di kendaraan umum, melihat ada orang tua yang berdiri karena tidak ada tempat duduk, namun remaja itu tetap duduk santai pura-pura tidak tahu, asyik main hand phone.

“Contoh lain ada anak sekolah sebuah SMP berani marah pada polisi gara gara ditilang. Padahal jelas jelas dia salah. Masih banyak lagi,” bebernya.
Untuk mengatasi semua itu, Agustina minta agar pendidikan budi pekerti dihidupkan dan diajarkan tidak hanya sisi teorinya saja tapi sampai pada aplikasi dalam kehidupan sehari hari.

“Menurut saya apa yang dilakukan di sekolah belum cukup. Karena masih terfokus pada pelajaran teori saja belum mengarah pada praktek dalam kehidupan sehari hari. Orang tua harus memperhatikan pendidikan di keluarga. Anak di rumah harus diajarkan hormat terhadap orang tuanya. Seperti budaya cium tangan ketika anak akan sekolah atau bepergian, itu juga hal yang bagus keluarga dan di sekolah sangat relevan dalam upaya memberikan pendidikan pekerti,” terangnya.

Melalui sosialisasi empat pilar, yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika, Agustina yakin jiwa Nasionalisme masyarakat akan tumbuh karena dengan empat pilar bangsa, Republik Indonesia bisa berdiri kokoh sampai saat ini. (biz/saf/muz)