Beranda Semarang Ajak Mahasiswa Cerdas Berbangsa

Ajak Mahasiswa Cerdas Berbangsa

92
EDUKASi : Pembicara sosialisasi dan edukasi empat pilar kebangsaan, tengah memberikan materi dihadapan peserta yakni para mahasiswa Undip Semarang.
EDUKASi : Pembicara sosialisasi dan edukasi empat pilar kebangsaan, tengah memberikan materi dihadapan peserta yakni para mahasiswa Undip Semarang.

JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – Wakil Ketua Komisi X DPR RI yang juga anggota MPR RI, Agustina Wilujeng Pramestuti mengatakan, pihaknya tak bosan-bosan untuk mensosialisasikan empat pilar kebangsaan baik di masyarakat maupun di sektor pendidikan. Apalagi saat ini ada makna Pancasila yang sudah tereduksi dalam kehidupan berbangsa.

 Hal itu disampaikan dalam Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan, di Gedung ICT Undip Tembalang Semarang, Senin (10/2).

Agustina Wilujeng Pramestuti, mengatakan, salah satu contoh yang terjadi saat ini, munculnya masalah klitih di Jogja.

 “Banyak diantaranya anak-anak dari keluarga baik dan cukup. Ini wujud terkikisnya nilai Pancasila yang mulai tergerus. Hal tersebut, perlu diwaspadai untuk menjaga pengetahuan generasi muda, tentang 4 pilar kebangsaan,” katanya.

Selain itu kasus penolakan warga atas pendirian suatu tempat ibadah, yang masih terjadi. Hal itu juga membuktikan bahwa nilai-nilai Pancasila sudah pudar dan perlu ada formula untuk menanamkan kembali pada generasi muda bangsa ini.

“Padahal Pancasila memberi ruang setiap orang untuk hidup dan aman dan nyaman. Sesuai dengan keyakinan, suku, dan agamanya,” tandasnya Senada, Prof Budi Setiono, Wakil Rektor 1 Undip menyatakan, Pancasila menurutnya merupakan saripati dan pedoman dalam bernegara.

“Persoalannya di Indonesia banyak aturan yang penerapannya tak Pancasilis. Malah ada aturan yang cenderung ke liberal. Misalnya di beberapa aturan dalam pengelolaan transportasi massal, pertambangan, kelautan dan lain-lain,” tuturnya.

Salah satu contoh misalnya soal transportasi, yang di Indonesia cenderung liberal yang mengarah ke chaos. Banyak angkutan umum yang tak dikelola dengan baik, tak tepat waktu, tak dikelola denga baik oleh negara, tak ada asuransi bagi penumpang, dan tak aman.

“Ini seolah penumpang dibiarkan dengan keselamatannya sendiri. Penerapan pengelolaan transportasi ini sangatlah tidak Pancasialis,” tegasnya.

Tak hanya itu, masalah korupsi yang hingga kini masih merajalela di Indonesia sejak beberapa tahun terakhir.

“Dari lima sila dalam Pancasila, sangat bertentangan dengan persoalan kurupsi. Ini problem di negara kita. Jika korupsi masih berlangsung, bisa dikatakan Pancasila sedang dalam bahaya,” imbuhnya.

 Salah satu, mahasiswa yang menjadi pembicara Dian Safi tri, menyambut baik sosialisasi 4 pilar ini agar semangat Pancasila terpatri di hati mahasiswa.

“Bahwa empat pilar ini bukan untuk membatasi warga negara Indonesia dalam berpikir dan bernegara. Tapi sebagai arahan dalam bernegara. Karena Indonesia itu salah satu negara besar yang terdiri dari banyak suku, ras, dan agama. Kalau tidak diarahkan negara bisa bubrah. Pancasila merupakan saripati dan pedoman dalam bernegara,” tandasnya. (ucl/sgt)