Beranda Edukasi Akademisi Sebut Perlu Edukasi Menyeluruh Tentang Bahaya Perundungan (Bullying)

Akademisi Sebut Perlu Edukasi Menyeluruh Tentang Bahaya Perundungan (Bullying)

120

JATENGPOS.CO.ID, Purwokerto – Langkah edukasi secara menyeluruh mengenai bahaya perundungan perlu dilakukan dengan melibatkan orang tua, sekolah, dan masyarakat, kata akademisi dari Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto Wisnu Widjanarko.

“Perlu edukasi secara sistemik dengan melibatkan semua pihak terkait,” kata dia di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Selasa.

Wisnu yang juga dosen komunikasi keluarga FISIP Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto itu, juga mengatakan dalam pembelajaran di sekolah, perlu menyisipkan nilai-nilai moral tentang perundungan sebagai perilaku negatif.

Selain itu, kata dia, perlu upaya para orang tua untuk melatih anak masing-masing agar memilki konsep diri yang positif dan terbiasa asertif atau menghargai orang lain.

Dia mengatakan dengan adanya sinergi dari seluruh pihak terkait ituy maka upaya untuk mencegah perundungan akan semakin efektif.

Dia juga mengingatkan tentang pentingnya berbagai upaya untuk meningkatkan pendidikan karakter bagi generasi muda sebagai salah satu langkah positif dalam mencegah terjadinya kasus perundungan.

Wisnu mengatakan bahwa pendidikan karakter adalah penguatan budi pekerti dan nilai-nilai moral yang menyertai proses pembelajaran, sehingga anak tidak saja cerdas secara intelektual melainkan juga memiliki kepekaan emosional dan sosial.

Dia menambahkan bahwa upaya memperkuat pendidikan karakter bukan hanya menjadi tugas orang tua.

“Ini menjadi tugas bersama, orang tua, para pengajar di sekolah atau di kampus, tugas masyarakat, dan pemerintah, tugas semua pihak terkait,” kata dia.

Dengan demikian, kata dia, perlu sosialisasi mengenai pentingnya pendidikan karakter sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam pencapaian prestasi anak.

“Namun tetap perlu diperhatikan bahwa keluarga memegang peranan penting bagi pendidikan karakter seorang anak. Keluarga menjadi penentu utama, wahana pertama dan utama, karena nilai-nilai kehidupan, budi pekerti, dan moralitas untuk kali pertama dipelajari seseorang anak adalah di tengah keluarga,” kata dia. (fid/ant)