Beranda Semarang Akibat Kebijakan Pengalihan Bus dan Rob, 148 Pedagang Terminal Terboyo Gulung Tikar

Akibat Kebijakan Pengalihan Bus dan Rob, 148 Pedagang Terminal Terboyo Gulung Tikar

145
BERBAGI
Terminal Terboyo Semarang sekarang ini sepi sejak pemberlakuan kebijakan pemindahan transit bus antarkota dalam provinsi (AKDP) dan antarkota antarprovinsi (AKAP) mulai 1 Desember 2017. Akibatnya, 148 pedagang di Terminal Terboyo terancam gulung tikar

JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – Setidaknya 148 pedagang di Terminal Terboyo Semarang terancam gulung tikar akibat sepinya pengunjung dengan kebijakan pengalihan bus, selain akibat rob dan banjir.

“Sudah tiga hari ini warung kami terpaksa libur tidak jualan. Apalagi, kondisinya juga banjir,” kata Ketua Persatuan Pedagang dan Jasa (PPJ) Terminal Terboyo Mustofa di Semarang, Selasa (5/12).

Menurut dia, kondisi Terminal Terboyo Semarang sekarang ini sepi sejak pemberlakuan kebijakan pemindahan transit bus antarkota dalam provinsi (AKDP) dan antarkota antarprovinsi (AKAP).

Mulai 1 Desember 2017, bus AKAP yang semula transit di Terminal Terboyo dipindahkan ke Terminal Mangkang Semarang, demikian pula bus AKAP dipindahkan ke Terminal Penggaron Semarang.

“Kami tidak bisa menerima karena yang dipindahkan kok hanya busnya, sementara warga di sini (Terminal Terboyo) tidak ikut dipindahkan. Jadinya, terkatung-katung begini,” katanya.

Sejauh ini, diakuinya belum ada kejelasan rencana tindak lanjut atau relokasi pedagang di Terminal Terboyo Semarang sehingga mereka berharap pemerintah memperhatikan nasibnya.

“Setelah kami cek di Terminal Mangkang, ternyata di sana hanya ada 15 kios besar yang rencananya dipecah jadi 30 kios. Padahal, jumlah pedagang di sini ada 148 orang,” katanya.

Tak hanya itu, kata dia, biaya penyekatan kios juga dibebankan kepada pedagang, selain diperlukan pengadaan pompa air untuk kebutuhan air bersih yang juga dibebankan kepada pedagang.

“Begitu juga di Terminal Penggaron, belum dibangun kios untuk relokasi sama sekali. Kalau di Terminal Penggaron, untuk membangun kios kan anggarannya dari provinsi. Makanya, kami bingung,” katanya.

Sebenarnya, kata Mustofa, pedagang di Terminal Terboyo tidak menolak program Pemerintah Kota Semarang mengenai alih fungsi Terminal Terboyo menjadi terminal angkutan barang.

“Seharusnya, Pemkot Semarang menyediakan kios dulu di tempat relokasi, baru kami menempati. Kalau begitu, kami tidak masalah, tetapi kalau seperti ini kan kami bingung,” katanya.

Sementara itu, Ketua DPRD Kota Semarang Supriyadi mengatakan dampak sosial pemindahan transit bus di Terminal Terboyo belum dipikirkan pemerintah, padahal pedagang tidak menolak direlokasi.

“Mereka sebetulnya kan tidak menolak adanya pemindahan terminal. Tetapi, tempat relokasinya belum disiapkan. Ya, seharusnya disiapkan dulu infrastrukturnya. Kasihan pedagang,” kata politikus PDI Perjuangan itu.

Ia menilai penataan terminal yang dilakukan pemerintah sejauh ini tidak serius, seperti Terminal Mangkang untuk bus AKAP yang ternyata justru memunculkan “terminal bayangan” di daerah Krapyak.

“Kami berharap sosialisasi dijalankan dulu kepada seluruh pihak, baik pelaku transportasi hingga pedagang di terminal. Begitu terminal dipindah, kan jelas tidak ada penumpang di sana,” pungkasnya.(jpo/udi)