Beranda Ekonomi Asuransi Astra Revitalisasi TK Inklusi di Semarang

Asuransi Astra Revitalisasi TK Inklusi di Semarang

108
BANTUAN- Kepala Cabang Asuransi Astra Semarang, Paulus C Wijanarko, secara simbolis menyerahkn bantuan sarana prasarana belajar bagi TK Fun & Play Inclusion School Semarang, yang diterima oleh Agung Prasetyo, selaku Penanggung Jawab TK Fun & Play Inclusion School Semarang. FOTO : ANING KARINDRA/JATENG POS
BANTUAN- Kepala Cabang Asuransi Astra Semarang, Paulus C Wijanarko, secara simbolis menyerahkn bantuan sarana prasarana belajar bagi TK Fun & Play Inclusion School Semarang, yang diterima oleh Agung Prasetyo, selaku Penanggung Jawab TK Fun & Play Inclusion School Semarang. FOTO : ANING KARINDRA/JATENG POS

JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – PT Asuransi Astra melakukan revitalisasi sejumlah sarana prasarana di TK Fun and Play Inclusion School Semarang, Kamis (12/9/19). Tidak hanya revitalisasi, Asuransi Astra turut memberikan sejumlah bantuan berupa trampolin, meja, bak pasir dan lainnya.

Kepala Cabang Asuransi Astra Semarang, Paulus C Wijanarko mengatakan, bantuan yang diberikan tersebut merupakan bagian dari program #PijarIlmu yang diinisiasi oleh Asuransi Astra. Melalui program revitalisasi ini, diharapkan dapat mendukung kegiatan di sekolah inklusi itu.

“Pemilihan TK Fun & Play ini juga atas dasar metode pendidikan mengedepankan permainan dengan konsep yang matang dan penuh pembelajaran, serta telah di akui cepat dalom proses tumbuh dan kembang anak-anak spesial atau sahabat kecil,” katanya.

Paulus menuturkan, melalui sedikit bantuan dari Asuransi Astra Cabang Semarang, TK Fun & Play diharapkan dapat terus mampu mengembangkan metode pembelajaran yang selama ini diterapkan. Selain itu, bantuan sarana prasarana dapat bermanfaat untuk terus melatih tumbuh dan kembang adik-adik spesial.

Penanggung Jawab TK Fun & Play Inclusion School Semarang, Agung Prasetyo, menyambut baik berbagai bantuan yang diberikan oleh Asuransi Astra tersebut. Menurutnya, TK yang baru berdiri sejak setahun lalu itu bermula dari penelitian disertasinya yang kemudian membentuk sebuah sekolah spesial tersebut.

“Saat ini kami memiliki sembilan guru termasuk saya. Sedangkan anak-anak ada 25 dari mulai usia 3,5 tahun,” ungkap Agung, yang juga pengajar di Universitas PGRI Semarang.

Dijelaskan, sebelumnya TK tersebut memiliki 50 siswa, namun kemudian dibatasi untuk mengintensifkan berbagai program yang ada agar maksimal. Untuk kelas sendiri anak-anak tersebut dibagi dua kelas, TK A 15 anak, TK B 10 anak. Mereka dibagi dari jam sekolah 7.30 – 9.30 dan 9.30 – 11.30.

“Banyak orang tua mengantarkan anaknya ke sini, datang jauh-jauh karena sangat senang melihat perkembangan anaknya. Namun sekolah ini memang kita putuskan dibatasi,” ujarnya.

Ke depan, pihaknya berharap tidak hanya mendirikan TK tersebut namun anak-anak bisa melanjutkan hingga jenjang sekolah dasar.(aln)