Beranda Sekolah Hebat Opini Guru Atasi Perilaku Insecure Pada AUD

Atasi Perilaku Insecure Pada AUD

BERBAGI
Sri Hayati, S.Pd.AUD Guru TK YWKA Kutoarjo – Purworejo
Sri Hayati, S.Pd.AUD Guru TK YWKA Kutoarjo – Purworejo

JATENGPOS.CO.ID, – Sebagai seorang guru PAUD, hendaknya kita paham dengan perilaku anak didik kita, karena Anak Usia Dini (AUD) bersifat unik dengan berbagai macam karakter. Pada dasarnya anak usia dini bersifat ceria, polos dan ingin tahu, namun kadang kita jumpai anak didik yang berkarakter pencemas, penakut, perasaan rendah diri dan pemalu. Perilaku-perilaku semacam itu sering disebut jenis perilaku “neurotik atau insecure” (perasaan tidak aman).

Perilaku insecure pada anak dapat dicegah dengan mengasuh anak dalam cara-cara yang dapat meningkatkan kepercayaan diri, kemampuan beradaptasi dan optimisme diri. Untuk itu perlu adanya kerjasama yang baik antara orang tua, guru, serta pihak-pihak yang terkait. Jika tidak hati-hati mencermati perilaku anak, bisa saja guru akan salah mengartikan perilaku anak tersebut, dan tentu saja hal itu tidak kita inginkan. Maka, pengenalan dan pendidikan sejak awal dapat membantu kita mengenali anak yang memiliki perilaku-perilaku insecure.

Takut adalah emosi yang kuat dan tidak menyenangkan, yang disebabkan oleh kesadaran atau antisipasi akan adanya suatu bahaya (Schaefer & Millman, 1981). Ketakutan yang khas pada masa kanak-kanak meliputi rasa takut terhadap gelap, takut ditinggalkan, takut binatang, orang asing dan situasi yang tidak dikenal.

Sekurang-kurangnya 50% anak memiliki ketakutan umum dengan 10% dari mereka mempunyai dua atau lebih ketakutan yang bersifat serius. Ketakutan dapat membuat anak menghindari situasi kompetitif dan mengganggu hubungan anak dengan teman sebayanya. Beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk mengatasi ketakutan pada anak usia dini adalah : Pertama, bermain merupakan sebuah cara alami untuk mengendalikan perasaan dan kejadian-kejadian yang dianggap menakutkan oleh anak. Bermain pura-pura merupakan salah satu cara untuk membantu anak mengendalikan ketakutannya secara memuaskan dan konstruktif. Ada baiknya disediakan pula buku-buku bergambar yang mengilustrasikan bagaimana anak mampu mengendalikan situasi yang menakutkan bagiannya. Kedua, perhatian dan penghargaan dapat meningkatkan rasa aman pada anak. Kita tunjukkan empati dengan cara memahami bagaimana anak berpikir dan merasa tenang hal yang ditakutinya (memberikan anak kebebasan untuk berpikir dan merasa tentang apa pun). Ketika anak mengekspresikan perasaan takutnya, kita seharusnya menerima ketakutannya dan membantu anak dengan memberi pemahaman dan makna pada kejadian-kejadian yang mereka alami. Ketiga, memberi penghargaan (reward) terhadap kesiapan anak untuk berubah dan tumbuh menjadi lebih berani akan sangat berarti. Pujilah sekecil apapun setiap langkah keberanian yang dilakukan anak dengan memberi reward konkret misalnya : bintang, stiker, stempel dan lain-lain.

Anak yang pemalu adalah yang bereaksi secara negatif terhadap stimulus baru serta menarik diri terhadap stimulus tersebut (Berk, 2000). Anak yang pemalu sering menghindari orang lain dan biasanya mudah merasa takut, curiga, hati-hati dan ragu-ragu untuk melakukan sesuatu. Mereka biasanya tidak mengambil inisiatif, sering diam, berbicara dengan suara pelan dan menghindari kontak mata. Karena anak yang pemalu jarang membuat masalah, mereka sering tidak diperhatikan (khususnya di sekolah). Beberapa anak yang pemalu tampak kurang ramah dan kurang banyak bicara pada orang lain.

Hal-hal yang dapat kita lakukan untuk membantu anak didik yang memiliki sifat pemalu adalah : Pertama, mendukung kepercayaan diri dan sikap yang wajar dengan memberi pujian atas tindakannya. Ajari anak untuk menjadi dirinya sendiri dan mengekspresikan pendapatnya secara terbuka. Kedua, menyediakan suasana yang hangat dan penuh penerimaan dengan menghargai kemandirian anak sehingga anak merasa bahwa mereka diterima. Anak akan merasa disayang dan aman ketika merasa dihargai. Ajari anak bahwa mereka adalah bagian dari komunitas kelas, jadi mereka dapat mencari dukungan kapan pun mereka perlu tanpa rasa malu.

Sri Hayati, S.Pd.AUD

Guru TK YWKA Kutoarjo – Purworejo

BERBAGI