Beranda Sekolah Hebat Opini Guru Bahasa Resmi Vs Bahasa Gaul

Bahasa Resmi Vs Bahasa Gaul

84
BERBAGI
Heru Patmawati, S.Pd Guru Bahasa Indonesia MTs Negeri 2 Wonogiri
Heru Patmawati, S.Pd Guru Bahasa Indonesia MTs Negeri 2 Wonogiri

Bahasa Indonesia dijadikan sebagai bahasa pengantar wajib sekolah – sekolah di Indonesia, sehingga memiliki peran penting di setiap kegiatan pembelajaran. Buku – buku yang dipakai dalam pembelajaran, kecuali bahasa Arab dan bahasa Inggris,dominan berbahasa Indonesia begitu pula saat Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).

Namun, hal tersebut tidak menjamin siswa dapat berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Dikategorikan baik dan benar jika sesuai dengan situasi pembicaraan dan kaidah yang berlaku dalam bahasa Indonesia.

     Guru dapat menjadi model penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar di dalam maupun di luar kelas, baik lisan maupun tulisan. Jadi, saat guru memberikan pengajaran pada siswa harus menggunakan bahasa yang baik dan benar, karena jika bahasa yang digunakan oleh guru kurang baik atau tidak baku akan ditiru oleh para siswanya.Selain itu, untuk menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa Indonesia, siswa harus dibiasakan menggunakannya dalam kegiatan pembelajaran.

Bahasa itu sendiri muncul karena adanya interaksi sosial. Jadi, faktor yang mempengaruhi kebiasaan siswa dalam menggunakan bahasa Indonesia, yakni interaksi atau komunikasi di lingkungan keluarga, lingkungan dengan teman sebaya atau teman bergaul, serta media sosial (medsos). Faktor yang paling cepat berpengaruh terhadap rusaknya bahasa baku adalah penggunaan ragam bahasa tulis di medsos. Hal ini sangat sulit dihindari atau dibendung karena setiap hari siswa berkomunikasi dengan orang lain dari berbagai kalangan dengan latarbelakang yang berbeda – beda.

Bahasa yang tren di medsos disebut dengan bahasa gaul atau bahasa alay( anak layangan). Sebenarnya bahasa gaul diciptakan untuk kalangan tertentu tetapi justru banyak digunakan dalam komunikasi sehari – hari. Sebagai bahasa obrolan atau chatting bahasa informal ini terkesan lebih akrab daripada bahasa baku. Sehingga remaja cenderung lebih menyukai bahasa gaul untuk chattingan daripada bahasa Indonesia yang baik dan benar agar terkesan gaul, modern. Whatapp misalnya,melalui media ini penyebaran bahasa gaul menjadi lebih cepat. Mengapa? Karena pengguna bahasa tersebut kebanyakan anak remaja seumuran SMP maupun SMA yang setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik.

Bukti pengaruh bahasa gaul dapat dilihat saat siswa diminta presentasi pada kegiatan diskusi khususnya mata pelajaran bahasa Indonesia, bahasa yang mereka gunakan campuraduk antara bahasa Indonesia, bahasa daerah (bahasaJawa),dan bahasa gaul (alay). Tidak hanya dalam ragam lisan saja, dalam ragam tulisan juga ditemukan kesalahan penggunaan bahasagaul. Kesalahan penggunaannya tentu lebih banyak pada ragam lisan daripada tulisan. Contoh bahasagaul yang sering digunakan siswa ,yaitu kata lebay, modus, gokil, kepo, bully, otw, molor,narsis, males, rempong, unyu, kalo, nggak, hape, selfie, mouse, download, up load.

       Jika penggunaan bahasa gaul hanya sebatas obrolan di medsos masih dapat dimaklumi tetapi jika sudah mulai terbawa pada situasi resmi, terutama dalam Kegiatan Belajar Mengajar tentu akan berpengaruh buruk terhadap perkembangan bahasa Indonesia khususnya di kalangan pelajar. Bahasa Indonesia akan terus mengalami perkembangan, tetapi perkembangan yang menyalahi kaidah tidak boleh dan tidak seharusnya mengalahkan bahasa resmi. Jangan malu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar,  hanya karena dikatakan tidak gaul kemudian meninggalkan kaidah bahasa yang benar. Mari menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sebagai wujud cinta kita pada bahasa Indonesia.

Heru Patmawati, S.Pd

Guru Bahasa Indonesia MTs Negeri 2 Wonogiri

BERBAGI