Beranda Hukum & Kriminal Begini Kondisi Siswa SMAN I Kecelakaan Bus di Tol Ngawi

Begini Kondisi Siswa SMAN I Kecelakaan Bus di Tol Ngawi

BERBAGI
Salah seorang rombongan wisata SMA Negeri 2 Magelang yang terlibat kecelakaan di Jawa Timur, Kamis lalu, saat ini tengah mendapatkan perawatan intensif di RSUD Tidar. Foto:wiwid arif/jpnn

JATENGPOS.CO.ID. MAGELANG- Korban kecelakaan bus study tour SMA Negeri 2 Magelang yang terjadi di jalan tol Nganjuk-Ngawi, Kamis (5/4) lalu, hingga kini masih menjalani perawatan intensif di RSUD Tidar, Kota Magelang. Mereka masing-masing tiga guru dan pendamping, serta dua orang siswa.

Kelima korban antara lain Nuli Mursini (56), guru sekaligus Waka Kesiswaan SMA Negeri 2 Magelang, Sandika Priyatmoko, guru, warga Secang, Ahmad Ariyadi, warga Ngempon, Ngadirejo, Temanggung. Kemudian, dua orang siswa yang dirawat, Zaki Raja Nugroho (17) , warga Susukan Grabag dan Muhammad Herza Saputra (17), warga Perum Tidar Indah, Magersari.

”Sejak kamis malam kami menerima lima pasien di UGD. Mereka adalah korban rombongan SMA Negeri 2 yang mengalami kecelakaan di Jawa Timur,” kata Kepala Bidang Perawatan RSUD Tidar, Kota Magelang, Nasrudin, Jumat (6/4).

Mereka tiba di UGD sekira pukul 22.30 WIB Kamis malam lalu. Kedatangan mereka langsung disambut dokter dan perawat untuk melakukan perawatan intensif.

”Kondisi awal, ada yang memar, pusing. Seperti Pak Sandika, nyeri dada kanan, siswa Zaki keluha pelipis kanan, mata biru, karena benturan Ibu Nuli, luka di kepala,” ujarnya.

Hingga saat ini, kondisi kelima mulai membaik. Namun, mereka belum diperbolehkan pulang karena masih harus menjalani perawatan intensif oleh pihak rumah sakit. Pasien pun dirawat secara khusus di ruang VIP di kamar perawatan Alamanda RSUD Tidar.

”Kami masih pantau terus dan rawat pasien, hingga kondisinya membaik,” imbuhnya.

Staff Humas SMA Negeri 2 Magelang, Kristina Eka Yuliati, mengatakan, seluruh korban kecelakaan kini sudah berangsur membaik.

”Beberapa memang masih perlu perawatan khusus, seperti ibu Nuli, yang harus menjalani penanganan medis di bagian hidung karena patah. Tetapi semuanya dalam kondisi stabil,” ujar Eka.

Eka mengatakan, atas kejadian ini, pihaknya akan melakukan evaluasi secara menyeluruh. Ia berharap kejadian ini tak akan terulang kembali di masa yang akan datang

”Kami jadikan pelajaran, kami evaluasi, agar tak terulang lagi. Ini adalah musibah, sepatutnya kita ambil hikmahnya. Yang penting para guru dan murid semua selamat,” ujarnya.

Peristiwa kecelakaan itu tak hanya membuat para orangtua dan walimurid di SMA Negeri 2 Magelang panik. Bahkan, pihak sekolah terpaksa menunda proses belajar mengajar, karena khawatir kondisi siswa masih trauma.

”Kami tidak membebani materi pelajaran kepada siswa, terutama kelas XI yang baru saja wisata dari Bali selama lima hari,” kata salah satu guru bahasa Inggris, SMA Negeri 2 Magelang, Istiyatun Rahayu.

Ia berujar, jika tidak terjadi kecelakaan, rombongan wisata sebenarnya diprediksi tiba di Magelang sekitar pukul 12.00 WIB Kamis lalu. Namun, kecelakaan yang merenggut satu korban jiwa itu, memaksa rombongan pulang terlambat hingga petang hari.

”Ada jeda sehari semalam untuk mereka beristirahat, sehingga kami tidak akan membebani siswa dengan pelajaran terlebih dahulu,” imbuhnya.

Perempuan yang pernah menjabat Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) Bidang Kesiswaan tersebut mengaku diminta pihak sekolah untuk memberi therapy healing bagi para siswa kelas XI. Tujuannya, siswa bisa kembali fresh dan ceria untuk menerima materi pelajaran.

”Healing diharapkan bisa menghilangkan trauma siswa pascainsiden kecelakaan,” paparnya.

Dalam terapi tersebut, Istiyatun memberikan pengertian kepada para siswa bahwa kejadian kecelakaan tersebut adalah musibah. Dirinya juga meminta agar semua pihak tidak menyalahkan salah satu orang, karena kejadian ini sudah menjadi kehendak Tuhan.

”Meskipun ada unsur kesalahan manusia, tapi saya harap tidak saling menyalahkan. Sopir pun saya kira sudah berusaha tentunya,” ujarnya.

Para siswa pun merespons positif upaya pihak sekolah dalam pemulihan psikologis pascakejadian kecelakaan. Kebanyakan mereka mengaku sudah melupakan kejadian tersebut. Apalagi saat peristiwa kecelakaan, kebanyakan para siswa sedang tidur.

”Iya, saat kejadian saya tidur di bagian belakang. Saya hanya sempat mendengar sopir teriak ‘awas’ dan mengerem kendaraan. Meski tidur saya reflek mencari pegangan. Alhamdulillah tidak mengalami apa-apa dan sekarang biasa aja tuh,” kata Yantria Gusta siswa kelas XI IPA yang saat itu menaiki bus nahas tersebut. (wid/jpnn/muz)

BERBAGI