Beranda Jateng Kedu Begini Penampakan Balai Desa di Wonosobo Pasca Diguncang Gempa

Begini Penampakan Balai Desa di Wonosobo Pasca Diguncang Gempa

89
BERBAGI
Kondisi Balai Desa Kajeksan Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Wonosobo yang hancur diguncang gempa, Jumat (15/12). FOTO:JPNN

JATENGPOS.CO.ID. WONOSOBO- Balai Desa Kajeksan Kecamatan Sukoharjo ambrol di guncang gempa pada Jumat lalu. Pemerintah desa setempat berharap pemerintah daerah bisa membantu membangun kembali fasilitas tersebut. Pasalnya dengan tingkat kerusakan mencapai 70 persen, balai desa tidak bisa digunakan lagi.

“Bangunan itu baru berumur satu setengah tahun, ketika saya jadi kades, saya meneruskan proses pembangunan gedung itu, tapi Jumat (15/12/2017)  gedung ambrol diguncang gempa,” ungkap Kades Kajeksan Trisilo, Senin (18/12/2017).

Menurutnya, gedung balai desa rusak parah, dari monitoring yang dilakukan oleh pihak pemerintahan desa, tingkat kerusakan mencapai 70 persen, bahkan ada beberapa bangunan yang masih dalam posisi menggantung dan menunggu jatuh serta roboh.

“Kita belum bisa berbuat banyak, aktivitas kantor desa juga terganggu, sebab kantor menyatu dengan balai desa,” ucapnya.

Kades yang baru dilantik satu tahun lalu  itu menabahkan bahwa, sebelum gedung balai desa ambrol, malah itu baru saja digunakan untuk kegiatan olah raga badminton warga setempat. Beruntung, satu jam sebelum diguncang gempa, aktivitas olah raga sudah selesai, sehingga tidak ada korban.

“Malam itu, sebelum ambrol di guncang gempat, gedung balai desa baru saja dipakai untuk kegiatan badminton,” katanya.

Menurutnya, peristiwa gempa  jumat malam itu cukup membuat warga desa kajeksan panik, bahkan warga menilai guncangan gempa tersebut lebih besar daripada gempa-gempa sebelumnya.

“Guncangnnya memang sangat besar, kita rasakan lebih besar dibandingkan gempa bumi sebelumnya,” imbuhnya.

Ambrolnya gedung balai desa kajeksan menurutnya sangat dramatis. Saat ambruk, area gedung dengan luas uas 16 x19,75 meter dan tinggi 7 meter tersebut tertutup kabut debu tebal. Dan baru hilang setelah lima menit.

“Saat ambrol itu seluruh area balai desa tertutup debu hingga bangunan tidak terlihat, lima menit berselang, setelah debut hilang terbawa angin, kita baru tahun kondisi balai desa sudah hancur,” terangnya.

Pihaknya mengaku tidak bisa berbuat banyak dan pasrah. Namun sejumlah langkah telah dilakukan oleh pihak pemerintahan desa, diantaranya menutup sementara balai desa agar tidak membahayakan warga setempat. Melaporkan kejadian tersebut ke pihak pemerintah kecamatan, BPBD dan dinas terkait.

“Kita beharap ada bantuan dari pemerintah daerah dan juga dinas terkait, untuk kembali membangun balai desa tersebut,” katanya.

Sebab jika dibiarkan begitu saja akan semakin membahayakan warga serta menggangu aktovitas pelayanan di desa setempat, pasalnya balai desa bersatu dengan kantor desa.

“Kita sudah berkoordinasi dengan pihak terkait baik itu pemerintahan kecamatan, BPBD dan harapannya bisa dibangun kembali, kalau bisa robohkan semua dan bangun dari nol, tapi itu tergantung dari penilaian nanti,” katanya

Sementara itu, Ketua Komisi C DPRD Wonosobo Wahyu Lembusuro Nugroho mengatakan bahwa robohnya gedung balai desa Kajeksan akibat dari bencana alam, maka pemerintah kabupaten perlu memerhatikan situasi itu dan secepatnya menyusun langkah.

“Kita prihatin dengan kejadian itu,  kita dorong  pemkab  melalui  dinas terkait serta BPBD bisa membantu  pemerintahan desa kajeksan,” katanya.

Pihaknya mengaku sudah melakukan monitoring langsung balai desa kajeksan. Menurutnya jika tidak ada penanganan cepat,  maka pelayanan desa akan terganggu sebab balai desa menyatu dengan kantor desa.

“Yang perlu ditandaskan, ambrolnya balai desa itu  dampak dari bencana, dan jika tidak segera dibangun akan menggangu pelayanan terhadap warga setempat,” pungkasnya. (gus/jpnn/muz)

BERBAGI