Beranda Sekolah Hebat Opini Guru Belajar Matematika Abad Ke-21

Belajar Matematika Abad Ke-21

BERBAGI
Tinuk Triyana, S.Pd, MBA Guru di SMA Negeri 1 Wonogiri
Tinuk Triyana, S.Pd, MBA Guru di SMA Negeri 1 Wonogiri

JATENGPOS.CO.ID, – Fenomena membanjirnya tenaga kerja asing (TKA) di Tanah Air telah menjadi isu hangat akhir-akhir ini. Dikeluarkannya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing dianggap oleh berbagai pihak sebagai penyebab semakin tingginya jumlah TKA yang bekerja di Indonesia. Sebenarnya, masalah TKA hanya salah satu tantangan yang harus kita hadapi saat ini. Harus kita sadari bahwa kita telah memasuki abad ke-21, abad dimana dunia berubah begitu cepat dan pasar bebas diberlakukan sehingga persaingan semakin ketat baik persaingan tenaga kerja, perdagangan, ilmu pengetahuan dan teknologi serta tatanan kehidupan. Ini artinya siapapun yang tidak memiliki kompetensi hidup di abad ini niscaya akan terlindas oleh kerasnya roda zaman.

Lalu, bagaimana kita menghadapi situasi ini? hal yang pertama kita lakukan adalah jangan saling menyalahkan, tetapi kita introspeksi diri dan berusaha untuk meningkatkan kualitas diri. Menyiapkan sumber daya manusia (SDM) dengan kemampuan yang sesuai dengan karakretistik abad 21 yaitu pribadi yang tangguh, memiliki kompetensi dan skill yang unik dan terlatih serta memiliki kemampuan berfikir logis, kritis serta kreatif dalam memecahkan masalah.

Hal ini senada dengan salah satu manfaat dari belajar matematika, yaitu mengasah dan mengembangkan kemampuan berfikir logis, kritis, kreatif serta pantang menyerah dalam menghadapi masalah. Untuk mengembangkan kemampuan tersebut, terlebih dahulu kita harus mengubah paradigma mengajar yang berpusat pada guru dimana guru memutuskan “apa yang harus dipelajari anak-anak” dan “bagaimana mereka harus berpikir” menjadi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dengan prioritas utama guru mengajar anak-anak tentang “bagaimana cara belajar” dan “bagaimana cara berfikir”.

Namun, mengajar dengan metode belajar siswa aktif belumlah cukup. Harus diperhatikan juga  karakteristik belajar siswa sesuai dengan jenis kecerdasannya yang dimilikinya. Gardner (Revolusi belajar: 2015) dengan “Teori Multi-Kecerdasan” mengemukakan secara garis besar ada delapan jenis kecerdasan yaitu, Kecerdasan Linguistik (Bahasa), Kecerdasan Logis-Matematis (menalar), Kecerdasan Visual-Spasial (visualisasi gambar), Kecerdasan Musikal, Kecerdasan Kinestetik-Tubuh, Kecerdasan Interpersonal (Sosial), Kecerdasan Interpersonal (analisis diri), dan Kecerdasan Naturalis (dunia kealaman).

Oleh karena itu, penulis sebagai guru mata pelajaran matematika di abad ke-21, mencoba mengajar dengan mengkombinasikan beberapa teknik pembelajaran yang ramah terhadap semua jenis kecerdasan yang dimiliki siswa. Pembelajaran menggunakan bantuan IT dengan bahasa dan tulisan yang menarik, memberikan soal latihan yang konstektual disertai gambar (atau jika perlu diajak terjun langsung ke lapangan) akan merangsang siswa untuk menganalisis soal dan berfikir kreatif serta kritis dalam menyelesaikan masalah matematika yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

Metode diskusi dan tanya jawab dimana kelas dibagi menjadi beberapa kelompok dipilih dengan tujuan siswa bisa saling berinteraksi, mengemukakan ide dan gagasan mereka, serta saling menghargai pendapat orang lain. Kelas yang lebih interaktif membuat suasana lebih berwarna dan tidak monoton, sesekali diputarkan lagu favorit siswa dengan volume rendah menjadikan siswa lebih bersemangat dalam belajar dan  tidak  merasa bosan.

Pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada hasil kognitif saja tetapi juga mengasah kemampuan dan bakat yang dimiliki peserta didik seperti bakat seni, musik ataupun olahraga. Memberikan ruang peserta didik untuk mengekpresikan diri, mengemukakan ide-ide kreatif mereka, menganalisis setiap masalah yang ditemui serta mampu menyelesaikannya dengan cara yang pernah mereka pelajari.

Dengan pembelajaran ala abad ke-21 tersebut, diharapkan peserta didik mampu menyerap informasi dan pelajaran dengan lebih cepat sekaligus bisa mengembangkan bakat dan ketrampilannya untuk menyesuaikan perubahan zaman. Hal ini selaras dengan pekerjaan yang paling bernilai di abad ke-21 yaitu pekerjaan dengan kecerdasan atau bakat yang besar dan terlatih, mandiri dan menjadi manusia yang secara ekonomi tidak tergantung. Dengan begitu, kita tidak perlu khawatir lagi akan persaingan bebas karena kita telah mencetak generasi emas Indonesia punya skill dan kompetensi yang siap bersaing di abad ini.

Referensi:

https://ekonomi.kompas.com/read/2018/04/24/084500726/menyoal-tenaga-kerja-asing-dan-dampaknya-untuk-indonesia

Colin Rose & Malcom J Nicholl. Revolusi Belajar Accelerated Learning for the 21st Century. 2015. Penerbit: Nuansa Cendekia.

Tinuk Triyana, S.Pd, MBA
Guru di SMA Negeri 1 Wonogiri
BERBAGI