Beranda Sekolah Hebat Opini Guru Bermain Peran Tingkatkan Pembelajaran Drama Siswa SMP

Bermain Peran Tingkatkan Pembelajaran Drama Siswa SMP

120
Titi Suminarsih, S.Pd. Guru SMP Negeri 2 Geyer, Geyer, Kabupaten Grobogan
Titi Suminarsih, S.Pd. Guru SMP Negeri 2 Geyer, Geyer, Kabupaten Grobogan

Drama merupakan pertunjukan yang menyangkut gambaran kehidupan manusia. Bermain drama di atas panggung diawali dengan berbagai latihan, yaitu olah rasa, olah vokal, olah tubuh, musik, tari, dan seni lainnya yang mendukung.

Metode pembelajaran sangat penting dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Dalam hal ini pembelajaran drama, guru menggunakan metode bermain peran untuk meningkatkan kemampuan pemeranan drama siswa SMP. Kurikulum 2013 materi drama pada KD. 315 dan KD. 3.16 yaitu: a. mendalami unsur-unsur drama, b. menafsirkan kembali isi drama, c. menelaah struktur dan kaidah kebahasaan teks drama, d. menulis teks drama. Drama dbentuk
oleh unsur-unsur seperti: alur, penokohan, latar, dan unsur-unsur lainnya.

Menurut Lilis Suryani (2008 : 109), bermain peran adalah memerankan karakter / tingkah laku dalam pengulangan kejadian yang diulang kembali, kejadian masa depan, kejadian masa kini yang penting, atau situasi imajinatif. Anak-anak pemeran mencoba untuk menjadi orang lain dengan memahami peran untuk menghayati tokoh yang diperankan sesuai dengan karakter dan motivasi yang dibentuk pada tokoh yang telah ditentukan. Supriyati berpendapat dalam buku metode Pengembangan Perilaku dan Kemampuan Dasar Anak Usia Dini (2008 : 109), bermain peran adalah permainan yang memerankan tokoh-tokoh atau benda-benda sekitar anak sehingga dapat mengembangkan daya khayal (imajinasi) dan penghayatan terahadap bahan kegiatan yang dilaksanakan. Bermain peran berarti menjalankan fungsi sebagai orang yang dimainkannya, misalnya berperan sebagai dokter, ibu guru, nenek tua renta.

Tahapan-tahapan latihan adalah: 1. Konsentrasi, yakni pemusatan pikiran dalam mempelajari sebuah karakter, 2. Imajinasi, yakni kemampuan mengembangkan daya khayal, 3. Ingatan emosi, yakni meningkatkan kepekaan terhadap emosi-emosi alamiah yang mungkin terjadi, 4. Relaksasi yakni meringankan ketegangan pada tubuh akibat lelah saat latihan, 5. Observasi, yakni meninjau secara langsung karakter tokoh yang akan diperankan.

Beberapa hal yang harus diketahui siswa dalam bermain peran atau drama: 1. Penggunaan bahasa, baik cara pelafalan maupun intonasi, harus relevan. Logat yang diucapkan hendaknya disesuaikan dengan asal suku atau daerah, usia, dan status sosial tokoh yang diperankan, 2. Ekspresi tubuh dan mimik muka harus disesuaikan dengan dialog, 3. Untuk lebih menghidupkan suasana dan menjadikan dialog lebih wajar dan alamah, para pemain dapat berimprovisasi di lusr naskah, 4. Melafalkan dengan baik tiap kalimat yang diucapkan tokoh drama, dapat menggambarkan karakter tokoh serta konflik yang timbul di dalamnya. Oleh karena itu, seorang pemain drama harus meresapi isi cerita. Ia perlu memerhatikan petunjuk yang dituliskan pengarang (mengenai suasana dan gerak tokoh) serta kalimat-kalimat yang diucapkannya. Kalimat yang diucapkan harus sesuai dengan suasana yang dimaksud, begitupun gerak yang dilakukannya. Selain memperhatikan hal-hal diatas ssiwa juga harus memahami komponen-komponen dalam bermain peran atau drama yaitu: 1. Penghayatan, penghayatan adalah pemahaman terhadap isi naskah drama yang akan dipentaskan yang terlibat pada ekspresi dan pemahaman karakter tokoh. Dalam bermain peran, pemahaman harus dialkukan terhadap keseluruhan teks, tidak hanya terbatas tokoh yang diperankan saja, 2. Vokal, yang diperhatikan dalam vokal yaitu kejelasan ucapan, jeda, ketahanan dan kelancaran, penampilan, teknik muncul, gerakan, cara berpakaian, pandangan mata, konsentrasi.

Dengan metode bermain peran dalam pembelajaran drama diharapkan siswa lebih antusias dan aktif selama proses pembelajaran dan kemampuan siswa diharapkan dapat meningkat.

Titi Suminarsih, S.Pd.
Guru SMP Negeri 2 Geyer,
Geyer, Kabupaten Grobogan