Beranda Sekolah Hebat Opini Guru “Bersuka” Tingkatkan Kemampuan Membaca Permulaan

“Bersuka” Tingkatkan Kemampuan Membaca Permulaan

44
Kristi Yunitasari, S.Pd SDN 2 Bendungan, Tretep, Temanggung
Kristi Yunitasari, S.Pd SDN 2 Bendungan, Tretep, Temanggung

Buku adalah gerbang dunia dan membaca adalah kuncinya. Ungkapan ini menyadarkan kita akan betapa pentingnya kemampuan membaca yang harus dikuasai oleh siswa melalui pembelajaran membaca di Sekolah Dasar (SD) khususnya kelas satu. Kemampuan membaca adalah modal dasar untuk keberhasilan siswa dalam berbagai mata pelajaran. Namun permasalahan membaca permulaan banyak ditemui di sekolah. Hal ini serupa dengan yang terjadi pada siswa kelas satu SDN 2 Bendungan, Tretep, Temanggung. Seluruh siswa baru tidak ada yang berasal dari TK (Taman Kanak-kanak). Mereka berasal dari rumah tangga sehingga sebagian besar siswa belum mengenal huruf/abjad dan hanya mendapat pembelajaran membaca dari sekolah. Permasalahan membaca permulaan yang lain yaitu rasa bosan siswa terhadap metode pembelajaran yang hanya dilakukan dengan membaca tulisan di papan tulis ataupun buku secara bersama-sama, hingga ditemukan siswa pada tingkat kelas yang lebih tinggi memiliki kemampuan membaca yang rendah. Karena itu mengajar anak membaca merupakan sebuah tantangan bagi guru kelas satu.

Mengajar adalah menciptakan suasana yang menyenangkan. Apalagi kegiatan yang menyenangkan bagi siswa selain bermain? Bermain bagi anak adalah kehidupan layaknya bekerja bagi orang dewasa. Selain menyenangkan, permainan memiliki peran penting dalam perkembangan kognitif dan sosial anak. Bermain merupakan pemicu kreatifitas, siswa yang banyak bermain akan meningkat kreatifitasnya menurut Sugianto (dalam Depdiknas: 2007). Apabila permainan bertujuan untuk meningkatkan keterampilan bahasa tertentu, permainan tersebut dinamakan permainan bahasa (Soeparno dalam Suyatna, 2008: 122). Salah satu variasi permainan bahasa adalah mengajak siswa “Bersuka” yaitu bermain suku kata.

Bermain suku kata dilakukan dengan menggunakan kartu suku kata sebagai alat bermain dalam pembelajaran. Menurut Piaget dalam Sudarna (2014: 12) perkembangan kognitif anak usia 7-12 tahun ada pada tahap operasional konkret yaitu kemampuan anak untuk berpikir secara logis sudah berkembang dengan syarat objek yang menjadi sumber berpikir logis tersebut hadir secara konket. Melalui penggunaan kartu huruf, kartu suku kata, atau kartu kata diharapkan mereka dapat melihat meraba kemudian akan lebih mudah untuk merangkai menjadi kata dan kalimat yang bermakna.

Langkah-langkah “Bersuka” terlebih dahulu mempersiapkan media pembelajaran berbagai kartu suku kata mulai dari kartu huruf a i u e o kemudian kartu suku kata ba bi bu be bo sampai za zi zu ze zo dengan warna yang berbeda untuk setiap suku katanya. Pada tahap awal siswa diajak untuk menggabungkan satu kartu huruf dengan satu kartu suku kata membentuk sebuah kata yang memiliki makna misalnya : i-bu dan a-di. Pada tahapan berikutnya siswa diajak menggabungkan dua kartu suku kata atau lebih membentuk sebuah kata yang memiliki makna misalnya : bi-bi dan bo-la. Apabila siswa sudah pandai dalam membentuk kata maka level permainan ditingkatkan dengan menggabungkan kata menjadi kalimat yang bermakna misalnya : a-di be-li bo-la. Siswa akan bebas bermain tanpa paksaan dan tekanan untuk berekplorasi membuat kata. Permainan ini seperti sebuah perlombaan dengan memberi predikat pada pasangan/kelompok yang paling banyak dan cepat membentuk kata.

Dengan “Bersuka” pembelajaran membaca permulaan menjadi menarik dan menyenangkan bagi siswa kelas satu yang baru mengenal simbol-simbol huruf yang bersifat abstrak bagi mereka. Siswa menjadi aktif, dapat belajar bekerja sama dan memiliki rasa percaya diri. Motivasi belajar semakin meningkat dan harapannya kemampuan membaca siswa di kelas satu semakin baik dan tidak ada lagi siswa tingkat kelas yang lebih tinggi ditemukan tidak lancar membaca.

Kristi Yunitasari, S.Pd
SDN 2 Bendungan, Tretep, Temanggung