Beranda Sekolah Hebat Opini Guru Bimbel Online Matikan Interaksi Siswa dengan Guru

Bimbel Online Matikan Interaksi Siswa dengan Guru

32
BERBAGI
Sri Pamungkas Sulistianawati, S.Pd.SD Guru SD Negeri Kalikotes, Pituruh
Sri Pamungkas Sulistianawati, S.Pd.SD Guru SD Negeri Kalikotes, Pituruh

JATENGPOS.CO.ID, – Perkembangan teknologi komunikasi melesat dengan pesat sekarang ini.Efeknya, segala sesuatu dilakukan secara online menggunakan jaringan internet.Bahkan hal ini sudah merambah ke segala aspek.Tidak terkecuali aspek pendidikan.

Internet memberikan dampak yang jelas sekali di masyarakat.Sayangnya, tidak hanya dampak positifnya yang besar, namun dampak negatifnya juga.Salah satu contohnya adalah bimbingan belajar (bimbel) secara online.Dari segi positif, dengan adanya bimbel online anak (siswa) dapat belajar dengan praktis hanya menggunakan gadjet.Anak tidak perlu datang ke tempat bimbel yang kebanyakan jauh dari rumah yang harus menggunakan transportasi.Anak hanya duduk santai di rumah dengan membuka gadjet tanpa repot-repot membawa buku yang tebal-tebal. Cara mengikuti bimbel online juga mudah, cukup pasang aplikasi di gadjet lalu transfer uang.

Yang perlu disesalkan di sini, dampak positif itu tidak sebanding dengan dampak negatifnya.Bimbel online, mendidik anak malas beraktivitas secara fisik.Radiasi yang ditimbulkan dari gadjet dapat merusak mata karena harus melihat gadjet dalam waktu yang lama.Jika ada materi yang belum jelas, anak tidak bisa langsung bertanya.

Bimbel online membutuhkan gadjet dengan memori yang besar, sehingga perlu merogoh uang lebih besar untuk membeli gadjet yang lebih modern. Selain itu bimbel online juga membutuhkan quota internet yang besar. Untuk di daerah yang sedikit pedalaman, hal ini sangat sulit karena jangkauan internet yang kurang.

Hal yang lebih buruk, tidak ada tatap muka secara langsung dengan guru (tutor).Tidak ada komunikasi secara langsung di sini. Hal ini menjadikan berkurangnya hubungan sosial antara anak dengan orang lain atau dalam hal ini adalah guru.

Kurangnya interaksi antara guru dengan siswa membawa pengaruh buruk bagi anak-anak Indonesia. Anak-anak cenderung lebih cuek dengan guru. Jika bertemu di jalan atau di tempat-tempat umum di luar jam sekolah, jarang sekali ada anak yang mau menyapa. Anak seolah-olah berprinsip guru itu jika di sekolah saja, jika di luar jam pelajaran maka mereka bukan siapa-siapa.  Jika hal ini benar terjadi, betapa sangat mengerikan.

Berbeda sekali dengan bimbel secara tatap muka langsung, ada hubungan kasih sayang yang muncul antara guru (tutor) dengan siswa (anak).Anak menjadi memiliki kemampuan untuk belajar etika-etika bersosialisasi dengan baik. Besarnya kapasitas berinteraksi dengan orang lain (guru) membekali anak untuk pandai mengolah emosinya. Karena di bimbel ini jelas satu kelasnya lebih dari 5 anak. Maka jelas sekali ada hubungan sosial atau interaksi anak dengan teman lain yang bukan satu sekolah.Hal ini yang tidak diperoleh dari bimbel online.

Bimbel secara tatap muka langsung, di sini siswa dapat langsung mengerjakan soal latihan dengan langsung dibimbing guru (tutor). Ketika siswa merasa kesulitan guru dapat memberikan bantuan secara langsung. Terutama mata pelajaran matematika yang mana butuh latihan mengerjakan soal hitung menghitung. Dengan dibimbing langsung oleh guru (tutor) maka anak dengan mudah menyelesaikan soal matematika yang mereka anggap sulit. Ketika di sekolah anak di suruh mengerjakan soal di papan tulis, anak sudah percaya diri karena sudah sering latihan soal.

Bimbel secara tatap muka langsung, sering disertai nyanyian-nyanyian, yel-yel, atau musik yang mampu meningkatkan motivasi belajar anak. Tidak sedikit para guru (tutor) yang tidak hanya memberikan materi pelajaran, namun juga menambah memberikan nasihat-nasihat yang bisa menambah wawasan dan membimbing pola pikir anak ke masa depan yang lebi bagus. Sehingga ada efek tersirat di sini yaitu tidak hanya anak termotivasi terhadap pelajaran, namun termotivasi juga untuk menetukan jalan hidup.

Jadi,orangtua harus berpikir beberapa kali untuk memilihkan bimbel yang baik untuk putra putrinya. Pilihlah bimbel yang lebih besar dampak positifnya daripada negatifnya.Jangan sampai kita menjadi orangtua yang apatis, anak Indonesia menjadi korbannya.

Sri Pamungkas Sulistianawati, S.Pd.SD
Guru SD Negeri Kalikotes, Pituruh
BERBAGI