Beranda Hukum & Kriminal Bosan Menganggur, Nafinga Mengaku Bisa Gandakan Uang, Begini Modusnya

Bosan Menganggur, Nafinga Mengaku Bisa Gandakan Uang, Begini Modusnya

BERBAGI

JATENGPOS.CO.ID. TEMANGGUNG- Bosan dengan status pengangguran, Nafinga (35) warga Dusun Kalikuning, Desa Sendangsari, Kecamatan Garung, Kabupaten Wonosobo, nekad melancarkan aksi penipuan. Dari aksinya tersangka mengumpulkan pundi-pundi rupiah hingga ratusan juta.

“Tersangka ini sudah melakukan ksi penipuan, untuk sementara ini korbannya batu satu yang melapor ke Polres,” kata Kasubag Humas Polres Temanggung AKP Henny Widiyanti, kemarin.

Ia mengatakan, tersangka menipu korbannya dengan berkedok sebagai dukun penganda uang, sehingga korban tertarik dengan tipu muslihatnya.

“Sekarang tersangka harus berurusan dengan pihak berwajib. Lantaran, pemuda pengangguran ini telah melakukan penipuan dengan berkedok sebagai dukun yang bisa menggandakan uang,” terangnya

Ia mengatakan, dari laporan korban yakni Daafiq (39), warga Kelurahan Kertosari, Kecamatan Temanggung. Perkenalannya dengan tersangka karena yang bersangkutan tinggal di Kertosari, sedangkan Nafinga indekos di kampungnya. Dari perkenalan ini kemudian korban dikelabuhi tersangka.

“Kepada korban, tersangka mengaku sebagai orang pintar dan bisa melakukan suatu ritual untuk mendatangkan rejeki atau uang. Aksi tipu-tipu itu dimulai pada tanggal 25 November 2017. Korban diminta menyerahkan sejumlah uang untuk digunakan membeli uba rampe ritual. Namun, setelah melakukan ritual hingga berbulan-bulan ternyata uang korban tidak pernah bertambah malah hilang,” ujarnya kemarin.

KBO Satreskrim Polres Temanggung Iptu Zaenal Akrom menuturkan, korban sudah mengeluarkan uang Rp 130 juta. Dari jumlah itu Nafinga menjanjikan bisa berlipat ganda hingga miliaran rupiah. Korban terpikat setelah melalui bujuk rayu, hingga menyerahkan uang sebesar Rp 130 juta secara bertahap, tapi ternyata uang tidak pernah bertambah.

“Korban sempat curiga kenapa setelah ritual uang tidak kunjung bertambah. Tapi tersangka berkilah karena di rumah Daafiq ada barang riba, berupa televisi yang dibeli dari hasil kredit maka harus dilarung. Korban pun menyerahkan televisi itu kepada sang dukun, tapi belakangan diketahui justru barangnya disimpan sendiri sama tersangka, atas laporan korban maka kami melakukan penangkapan,” katanya.

Ia mengatakan, bersama tesangka diamankan beberapa barang bukti diantaranya, satu cawan atau teko berbentuk ular naga, terbuat dari besi berwarna emas, dua lembar kain warna hitam berisi rajah, dan satu televisi LED merek SHARP AQUOS 32 inchi.

“Barang bukti ini digunakan tersangka untuk mengelabuhi korban, dari cawan itu katanya akan keluar banyak uang. Ini sudah sangat jelas penipuan,” tukasnya.

Ia menambahkan, untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya tersangka masih harus meringkuk di sel tahanan guna menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Dia dijerat Pasal 378 KUH Pidana tentang penipuan dan penggelapan dengan ancaman hukuman empat tahun penjara.

“Sementara baru satu korban, kami masih melakukan penyidikan terhadap korban, siapa tahu masih ada korban lainnya,” tutupnya.

Sementara itu, tersangka Nafinga kepada wartawan mengaku nekad melakukan penipuan ini, pasalnya sudah beberapa tahun terakhir ini dirinya tidak mempunyai pekerjaan, padahal anak dan istrinya tetap harus dipenuhi kebutuhan ekonominya.

“Terpaksa, karena nganggur ngak ada kerjaan. Cati kerja susah banget,” ujarnya.

Ia menuturkan, untuk mengelabuhi korban dia menggunakan cawan atau teko berbentuk naga yang disebut sebagai teko ajaib. Di depan korban saat ritual teko berbahan besi logam berwarna emas itu digosok-gosok pada bagian samping seperti ritual memanggil jin.

“Sebenarnya teko itu hanyalah barang biasa tidak mengandung mistis dan dibeli di Pasar Legi Parakan seharga Rp 400 ribu. Kalau uang milik Pak Daafiq yang Rp 130 juta sudah habis untuk foya-foya main di kafe, main perempuan, dan mabuk, selama satu setengah bulan terakhir ini,” akunya.

Menurutnya, selama ini korban memang sedang dalam kondisi kurang lancar usahanya, padahal korban berkeinginan memiliki kekayaan yang lebih.

“Dari sini, korban bercerita kalau butuh uang banyak, kemudian saya ngaku bisa memperbanyak uang. Akhirnya korban mau menuruti semua keinginan saya. Termasuk memberikan sjumlah uang itu,” tuturnya. (set/jpnn/muz)

BERBAGI