Beranda Jateng Kedu BPBD Gelar Rakor Penyusunan Kajian Resiko Bencana Kawasan Pariwisata Borobudur

BPBD Gelar Rakor Penyusunan Kajian Resiko Bencana Kawasan Pariwisata Borobudur

14
Rapat koordinasi penyusunan kajian risiko bencana (KRB) kawasan pariwisata Borobudur.

JATENGPOS.CO.ID, MAGELANG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, menggelar rapat koordinasi penyusunan kajian risiko bencana (KRB) kawasan pariwisata Borobudur.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang Edi Susanto di Magelang, Kamis, mengatakan koordinasi tersebut sebagai upaya memperkuat kawasan pariwisata super prioritas (Borobudur) terlepas dari bencana alam dan membahas wilayah cakupan KRB di kawasan pariwisata.

Candi Borobudur merupakan salah satu situs pariwisata dunia dan telah ditetapkan menjadi salah satu kawasan pariwisata super prioritas oleh pemerintah pusat. Untuk itu manajemen bencana juga dipersyaratkan agar penanganan bencana bisa lebih terarah.

“Manajemen bencana pada kawasan pariwisata, utamanya di kawasan Borobudur sangat penting dilakukan agar nantinya penanganan bencana lebih terarah,” kata Edi.

Rapat koordinasi penyusunan KRB kawasan pariwisata Borobudur tersebut juga dihadiri oleh OPD Kabupaten Magelang, BNPB, Balai Konservasi Borobudur, dan pejabat struktural BPBD Kabupaten Magelang.

Sekda Kabupaten Magelang Adi Waryanto mengatakan wilayah Kabupaten Magelang termasuk salah satu daerah yang memiliki keanekaragaman kondisi alam dan faktor penduduknya.

Keanekaragaman tersebut menjadikan Kabupaten Magelang kaya akan sumber daya alam termasuk di dalamnya keberadaan kawasan Candi Borobudur. Di sisi lain, Borobudur merupakan daerah teritorial yang rawan akan bencana serta menyimpan potensi bencana yang dapat terjadi kapan saja.

“Mengingat Candi Borobudur sudah masuk dalam daftar destinasi wisata super prioritas pemerintah, sudah selayaknya Candi Borobudur menjadi tempat wisata yang aman dan nyaman, termasuk ramah bencana bagi turis yang akan menikmati megahnya candi Buddha terbesar di dunia ini,” katanya.

Menurut dia daerah rawan bencana kawasan pariwisata Borobudur menjadi perhatian dan pembelajaran Pemerintah Kabupaten Magelang, masyarakat, maupun pihak berkepentingan lainnya. Oleh karena itu, diperlukan adanya upaya penanggulangan bencana yang terarah dan terstruktur sebagai dasar perencanaan penanggulangan bencana.

Melalui kajian risiko bencana kawasan Borobudur ini diharapkan dapat menentukan potensi bencana, baik potensi luasan bahaya, potensi penduduk terdampak, potensi kerugian, dan gambaran kemampuan daerah dan masyarakat dalam upaya penanggulangan bencana.

“Saya harapkan dalam rapat koordinasi penyusunan KRB kawasan pariwisata Borobudur pada hari ini bisa menjadi acuan penyusunan KRB Kawasan Pariwisata Candi Borobudur. Kemudian kepada OPD terkait di Wilayah Kabupaten Magelang saya imbau untuk secara sinergis menyediakan data valid yang dibutuhkan dalam kajian, sehingga forum diskusi ini menghasilkan satu keputusan yang tepat dalam penyusunan kajian risiko,” katanya. (fid/ant)