Beranda Sekolah Hebat Opini Guru “BUCERGAM” Tingkatkan Kemampuan Membaca ATG

“BUCERGAM” Tingkatkan Kemampuan Membaca ATG

70
Supiyati, S. Pd SLB C Shantiyoga Klaten
Supiyati, S. Pd SLB C Shantiyoga Klaten

3 M yaitu membaca, menulis, dan menghitung, merupakan kemampuan dasar yang harus dikuasai anak. Anak tunagrahita adalah peserta didik yang secara nyata mengalami hambatan dan keterbelakangan intelektual di bawah rata-rata, sehingga mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tugas-tugasnya. (Direktorat PKLK, Pedoman Pelaksanaan Identifikasi dan Asesmen, 2017:14).Adanya hambatan fungsi intelektual, anak tunagrahita lebih sulit menguasai kemampuan membaca.

Anak tunagrahita memiliki karakteristik sangat berbeda antara satu dengan yang lainnya, seperti kurang konsentrasi, sulit berfikir abstrak, memiliki kemampuan rendah di bidang menulis, membaca dan berhitung sehingga memerlukan media pembelajaran yang kongkrit. Ketepatan memilah dan memilih media pembelajaran yang tepat sangat diperlukan dalam proses belajar mengajar.

Kegiatan membaca merupakan sebuah proses yang komplek. Proses belajar membaca bagi tunagrahita harus dilakukan dengan nyaman, menyenangkan. Anak harus terlibat langsung yang berupa kegiatan fisik dan mental dalam pembelajaran. Membaca bagi anak tunagrahita bersifat fungsional (Mumpuniari, 2007:44). Membaca fungsional membaca yang dikaitkan dengan kehidupan anak sehari-hari. Anak tunagrahita diperkenalkan dengan kosakata yang berkaitan dalam kehidupan sehari-hari, seperti rumah sakit, terminal, stasiun, kantor pos, label produk makanan, label produk obat, simbol-simbol di jalan, maupun petunjuk kegiatan di dalam rumah seperti cara penggunaan alat rumah tangga, membaca no telepon, resep makanan.

Guru SLB harus berdaya upaya mencari solusi untuk pembelajaran. BUCERGAM adalah singkatan dari buku cerita bergambar, yaitu media yang sering dipakai dalam proses pembelajaran dengan menampilkan gambar dan tulisan. Buku cerita bergambar disusun dengan variatif, gambar dan tulisan di dalamnya saling mengisi dan melengkapi. Isi dari buku cerita berupa rangkaian gambar dan cerita menarik, sederhana serta kongkrit yang disesuaikan dengan perkembangan anak tunagrahita. Cerita dalam buku bergambar berisi tentang kegiatan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, berupa gambar, kata dan kalimat yang disusun berdasar tema dan subtema. Kata-kata dipilih dan dipilah dalam bentuk sederhana, kalimat disusun dengan pola sederhana, yang isinya disesuiakan dengan kemampuan anak tunagrahita.

Buku cerita bergambar disajikan dengan jelas, ringkas, menarik dan sederhana dalam proses belajar mengajar, disampaikan guru dengan cara bercerita dan anak menyimak. Pengucapan lafal, intonasi setiap kata dalam buku dengan tepat dan mantap. Pada bagian-bagian tertentu guru berhenti sejenak untuk memperhatikan reaksi anak. Anak telah menyimak susunan kalimat sederhana yang diucapkan guru, melihat gambar yang menarik, kemudian mencoba mengulang kata-kata yang telah diucapkan. Kemudian anak diminta mengulang bergantian, berlatih membaca per suku kata menirukan kata dan kalimat sederhana dengan bimbingan guru dengan tujuan hal tersebut dapat membangun imajinasi dan pengetahuan.

Buku cerita bergambar bersifat kongkrit mudah dipahami anak, disajikan dengan gambar berwarna, serta kata dan kalimat yang disusun dengan sederhana berdasar tema dan subtema jelas. Disesuaikan dengan tingkat perekembangan anak. Anak akan lebih tertarik dan fokus dalam menyimak isi buku cerita bila disampaikan dengan menyenangkan dan menarik. Buku cerita bergambar dapat membangkitkan minat dan daya baca yang akhirnya berdampak pada meningkatnya kemampuan membaca anak.

Supiyati, S. Pd
SLB C Shantiyoga Klaten