Beranda Sekolah Hebat Opini Guru Budaya Membaca VS Abad Literasi

Budaya Membaca VS Abad Literasi

BERBAGI
Muhammad Arwani, S.Psi., M.Pd., M.M Guru MI Negeri Kota Kudus
Muhammad Arwani, S.Psi., M.Pd., M.M Guru MI Negeri Kota Kudus

JATENGPOS.CO.ID, – Penelitian UNESCO tahun 2014 membuktikan rata-rata anak-anak Indonesia hanya dapat membaca 27 halaman buku per tahun, artinya minat membaca anak-anak Indonesia masih sangat kurang sehingga diperlukan dorongan agar mereka mau membaca buku sedikitnya satu buku dalam satu bulan (Bandung Pos, 19 Agustus 2015). Fenomena ini sangat kontradiksi dengan budaya anak-anak di Finlandia yang rata-rata mereka mampu membaca 300 halaman buku dalam waktu lima hari. Bahkan budaya anak- anak di Jepang  mencapai 150 halaman per hari dan kebiasaan membaca buku selama 10 menit sebelum belajar dan beraktivitas, ini adalah kebiasaan yang baik yang patut dicontoh dan dibudayakan di Indonesia.

Budaya baca Jepang yang tinggi mampu menjadi salah satu dari 10 rahasia sukes orang Jepang. Penumpang densha (kereta listrik) di Jepang, baik anak-anak maupun dewasa sambil membaca buku atau koran, baik yang duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca. Banyak penerbit yang mulai membuat komik bergambar untuk materi-materi kurikulum sekolah baik SD, SMP maupun SMA.

Namun realita di lapangan, sebagian besar habituasi anak- anak Indonesia lebih senang aktivitas yang lain seperti menonton, memutar lagu, bermain game bahkan chatting di berbagai sosmed dari pada membaca. Banyak fenomena di kelas peserta didik sering kali dijumpai belum siap belajar saat KBM dimulai karena kurangnya budaya membaca materi buku pelajaran mereka sehari- hari. Pada saat guru menyampaikan appersepsi dan mereview materi pelajaran sebelumnya sering kali dijumpai peserta didik lupa tentang apa yang dipelajari kemarin jika tidak ada PR atau tugas.

Keadaan ini akan menghambat peserta didik tersebut menghadapi zaman yang semakin maju sejalan perkembangan peradaban. Pergantian abad memiliki karateristik yang berbeda sehubungan dengan perlengkapan, peralatan serta teknologi yang digunakan manusia untuk membantu kehidupannya. Sejak zaman pra sejarah dimana belum mengenal tulisan sampai sekarang era digital yang menuntut manusia harus menguasai teknologi melalui proses demi proses yang membutuhkan kemampuan dan budaya membaca yang tinggi.

Problematika di Indonesia saat ini adalah rendahnya keterampilan literasi kritis karena belum disadari oleh semua pihak, termasuk pendidik. Aktifitas belajar yang belum mampu memaksimalkan kebiasaan peserta didik membaca dan menulis, sehingga ruang nafas literasi kritis untuk berkembang bebas. Aktifitas membaca hanya menyerap informasi sebanyak-banyaknya, tanpa refleksi bacaan yang dibaca. Banyak peserta didik bingung bila dihadapkan pada informasi yang yang memerlukan pemahaman tinggi. refleksi bacaan antara lain membuat tabulasi matrik, cerpen, biografi, resume, peta konsep, proposal penelitian dan sebagainya. Urgenitas literasi kritis merupakan keterampilan yang harus dilatih di sekolah.

Kemampuan literasi merupakan hak setiap orang dan merupakan dasar untuk belajar sepanjang hayat. Kemampuan literasi dapat memberdayakan dan meningkatkan kualitas individu, keluarga, masyarakat. Karena sifatnya yang “multiple Effect” atau dapat memberikan efek untuk ranah yang sangat luas, kemampuan literasi membantu memberantas kemiskinan, mengurangi angka kematian anak, pertumbuhan penduduk, dan menjamin pembangunan berkelanjutan, dan terwujudnya perdamaian. Buta huruf, bagaimanapun, adalah hambatan untuk kualitas hidup yang lebih baik.

Tujuh dimensi dalam pengertian literasi adalah: 1) Dimensi geografis bergantung tingkat pendidikan dan jejaring sosial; 2) Dimensi bidang bercirikan tingkat kualitas bangsa dibidang pendidikan, komunikasi, militer, dan lain sebagainya; 3) Dimensi ketrampilan, bersifat individu melalui membaca, menulis, menghitung, dan berbicara; 4) Dimensi fungsi melalui memecahkan persoalan, mendapatkan pekerjaan, mencapai tujuan, mengembangkan pengetahuan, dan mengembangkan potensi diri; 5) Dimensi media, (teks, cetak, visual, digital) sesuai dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat, begitu juga teknologi dalam media literasi. 6) Dimensi jumlah (kemampuan ini tumbuh karena proses pendidikan yang berkualitas tinggi contoh kemampuan berkomunikasi; dan 7) Dimensi bahasa, (etnis, lokal, internasional) literasi singular dan plural, hal ini yang menjadikan monolingual, bilingual, dan multilingual.

Sekolah berperan penting dalam mengembangkan kreativitas siswa dan guru untuk Beberapa potret keberhasilan sekolah yang mampu mengimplementasikan literasi banyak memperoleh manfaat yang besar antara lain: dapat menjadi keunggulan sekolahnya, dapat memperoleh prestasi dalam berbagai bidang lomba skala nasional bahkan intarenasional. Literasi harus direalisasi bukan hanya teori saja, terutama  di lapangan dalam pendidikan maupun non pendidikan. Sejarah kebudayaan Islam terdapat histori bahwa wahyu yang pertama kali diterima Nabi Muhammad SAW adalah surat Al Alaq ayat 1-5 yang intinya diperintahkan Allah untuk membaca. Sejarah Indonesia terukir bahwa RA. Kartini mengajak kaum wanita untuk membaca dan bersekolah melalui karya Habis Gelap Terbitlah Terang yang memberi motivasi kepada kaum wanita untuk beremansipasi dalam pendidikan dengan membaca dan bersekolah kaum wanita harus mampu keluar dari era kegelapan ilmu. Nasehat para ulama mengajarkan manusia untuk Man Jadda Wa jadda artinya siapa yang bersungguh-sungguh dalam berusaha akan berhasil.

Gerakan membaca nasional sudah disosialisaikan secara nasional. Harapannya semua komponen yang berhubungan dengan gerakan membaca nasional tersebut menyambut dengan hati dan sikap yang terbuka untuk memperbaiki kualitas pendidikan nasional. Tugas pendidikan nasional bukan hanyatugas guru di sekolah saja melainkan tugas semua pihak yang berhubungan dengan kompak mensinergikan kebijakan- kebijakannya sehingga harapan baik negara ini mampu mencapai tujuan antara lain semua peserta didik diharapkan mampu memiliki ketrampilan literasi kritis yang tinggi.

Muhammad Arwani, S.Psi., M.Pd., M.M

Guru MI Negeri Kota Kudus

BERBAGI