Beranda Jateng Camat Koordinir Warga Tolak MTA

Camat Koordinir Warga Tolak MTA

Kasus Intoleransi Terjadi di Jateng

4500
BERBAGI
INTOLERANSI:Sejumlah warga tampak menghalang-halangi kegiatan pengajian Majelis Tafsir Alquran (MTA) di Desa Sidomukti, Kecamatan Adimulyo, Kabupaten Kebumen. Penolakan warga atas pengajian MTA itu diduga dikoordinir Camat Adimulyo, Heru Nugroho SH, bersama Kepala Desa Sidomukti Suparmin dan MUI setempat.
INTOLERANSI:Sejumlah warga tampak menghalang-halangi kegiatan pengajian Majelis Tafsir Alquran (MTA) di Desa Sidomukti, Kecamatan Adimulyo, Kabupaten Kebumen. Penolakan warga atas pengajian MTA itu diduga dikoordinir Camat Adimulyo, Heru Nugroho SH, bersama Kepala Desa Sidomukti Suparmin dan MUI setempat.

JATENGPOS.CO.ID, KEBUMEN – Kasus intoleransi terjadi di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Camat Adimulyo diduga mengkoordinir warga untuk menolak kegiatan penghajian yang dilakukan Majelis Tafsir Alquran (MTA) di wilayahnya. Ajakan itu dilakukan bersama Kiai Bustomo, Kepala Desa Sidomukti dan MUI Kabupaten Kebumen Camat Adi Mulyo, Heru Nugroho, SH ketika dikonfirmasi membenarkan adanya penolakan tersebut. Menurutnya, di Kecamatan Adimulyo sudah dibentuk forum penolakan MTA yang dipimpin oleh Kiai Bustomi.

“Bahkan terbentuk juga cabang-cabang dari forum penolakan MTA diberbagai tempat yang masing-masing ada koordinatornya yang ditunjuk oleh Kiai Bustomi.”ungkapnya, kemarin.

“Kami juga sudah keluarkan surat permintaan untuk menghentikan pengajian MTA, dan kami di back up dari Kabupaten. Saya keluarkan surat tersebut karena warga menolak keberadaan MTA. Warga tak menghendaki ada kajian MTA karena ada warga yang melihat saat pengajian semua jamaah MTA membelakangi kiblat. Ini yang menjadikan mereka menolak.”imbuhnya.

Kiai Bustomi ketika dikonfi rmasi melalui telepon menegaskan bahwa penolakan kegiatan pengajian MTA, karena jemaah MTA salat tidak pakai qunut, tidak mau tahlilan, yasinan di tempat orang meninggal. Kami menolak karena MTA itu minoritas ya harusnya mengikuti yang mayoritas. Dan jamaah MTA belajarnya dari Qur’an terjemahan itu gak boleh, “terangnya.

Senada dengan Kiai Bustomi, Kiai Attakib yang juga perangkat desa Sido Mukti mengatakan warga Sido Mukti menolak MTA, karena tidak bermadzab. “Kami menolak MTA karena katanya tidak bermadzab, saya sendiri belum pernah mendengar kajian MTA, hanya katanya orang-orang yang pernah mendengar tentang MTA” ujarnya. Kepala Desa Sidomukti Suparmin dalam keterangannya menyatakan dirinya ditekan oleh warga agar menolak MTA. “Secara pribadi saya tidak menolak, ini buah simala kama buat saya” ungkapnya.

Menanggapi terjadinya penolakan tersebut, Ketua Cabang MTA Adimulyo MS Hartono menegaskan bahwa pengajian harus tetap berjalan. MTA itu lembaga dakwah yang sah, yang meresmikan berdirinya MTA di Kebumen adalah presiden. MTA itu sudah tersebar di seluruh Indonesia, dari Aceh sampai Merauke ada cabangnya.” tandasnya.

“Kami minta aparat penegak hukum menegakkan hukum yang ada. Mana yang salah ya di tindak. Jangan malah menekan kami yang mengaji. Ngaji Alqur’an dan sunnah itu perwujudan dari revolusi mental yang presiden gaungkan. Sesuai Surat Edaran Menteri Agama No. 3 tahun 1978 disebutkan bahwa dakwah tidak memerlukan izin, hanya pemberitahuan kepada kepolisian untuk minta bantuan keamanan. Kalau ada yang mengganggu harus ditindak tegas” ujarnya penuh semangat.

“Tugas kami sebagai lembaga dakwah adalah memperbaiki akhlak dan moral. Harusnya yang ditindak itu yang menolak dan yang merusak tempat ngaji kami. Itu di kemujan dilempari telor busuk. Melanggar nggak itu?“serunya.

“Selain ke aparat penegak hukum, kami juga meminta Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Kebumen bisa berlaku adil dan mengayomi semua ummat muslim di Kebumen, termasuk MTA. MUI harus mendukung aktivitas dakwah Islamiyah. Bukan malah ikutan menghalangi. Perbedaan pemahaman jangan di jadikan alasan untuk menolak. Nggak adil itu namanya” pungkasnya.

Dari penulusuran di lokasi demo sebagian warga hanya ikut-ikutan, dan ditengah tengah pendemo ada beberapa yang tercium aroma minuman keras. Situasi makin memanas saat ratusan simpatisan MTA berhadapan dengan demonstran. Aparat kepolisian dibuat sibuk mengendalikan massa. Simpatisan MTA bersikukuh tidak mau meninggalkan lokasi sebelum pengajian selesai.

Dan massa pendemo juga minta kajian dibubarkan. Menghadapi situasi demikian akhirnya aparat kepolisian mengambil keputusan membantu warga MTA yang akan ngaji memasuki lokasi pengajian dengan membuka blokir yang dipasang pendemo. Dengan pengamanan maksima pengajian berjalan lancar dan tertib. (roe/udi).

BERBAGI