Beranda Sekolah Hebat Opini Guru “Cari Jodoh” Tingkatkan Hasil Belajar Siswa

“Cari Jodoh” Tingkatkan Hasil Belajar Siswa

148
Ambarwati, S.Pd.Si. Guru IPA SMP Negeri 2 Tlogomulyo, Temanggung
Ambarwati, S.Pd.Si. Guru IPA SMP Negeri 2 Tlogomulyo, Temanggung

Pembelajaran IPA di SMP masih menyisakan permasalahan pada siswa. Permasalahan tersebut dipicu oleh beberapa hal, diantaranya terbatasnya alat maupun bahan di laboratorium yang akan digunakan sebagai media pembelajaran, sehingga guru cenderung melaksanakan pembelajaran yang bersifat informatif dan monoton. Pembelajaran IPA selama ini masih didominasi oleh guru, sehingga siswa masih relatif pasif. Hal ini membuat siswa kurang tertarik terhadap pembelajaran, sehingga akhirnya berdampak pada hasil belajar yang masih rendah. Kondisi tersebut terjadi juga di SMP Negeri 2 Tlogomulyo, khususnya pada pembelajaran IPA kelas IX materi sistem ekskresi.

Menurut Siregar (2014:3), belajar adalah proses perubahan pengetahuan, keterampilan atau sikap yang dialami seseorang setelah melakukan suatu kegiatan atau pengalaman. Semakin banyak peran serta siswa dalam sebuah pembelajaran, maka akan semakin banyak siswa yang berhasil. Hal itu dikarenakan siswa tidak hanya monoton menunggu sajian guru, tetapi mereka ikut berperan menjadi aktor dalam sebuah pembelajaran. Tentunya ini menjadi tantangan bagi seorang guru untuk dapat melibatkan siswanya dalam sebuah pembelajaran yang menarik dan menyenangkan agar makin banyak siswa yang mendapatkan pengalaman belajar yang penuh makna. Sebagai salah satu solusinya, guru menerapkan model pembelajaran yang penuh makna dan menyenangkan, yaitu dengan pembelajaran kooperatif dengan teknik cari jodoh.

Pembelajaran kooperatif teknik cari jodoh menurut Lorna Curran seperti yang dikutip Kurniasih (2015:56) adalah pembelajaran yang memberikan kesempatan siswa untuk bekerja sama menyelesaikan suatu masalah dengan kemasan permainan. Siswa diberi kesempatan berkelompok, berdiskusi, berpikir dan aktif bergerak untuk menemukan pasangan-pasangan yang cocok dengan kartu-kartu pertanyaan atau jawaban yang mereka pegang.

Dalam pembelajaran menggunakan teknik cari jodoh, siswa diberi stimulus untuk menyelesaikan lembar kerja siswa dengan literasi buku terlebih dahulu dalam kelompok-kelompok kecil, kemudian baru dikelompokkan dalam tiga kelompok besar yaitu kelompok pemegang kartu soal, kelompok pemegang kartu jawaban dan beberapa siswa pandai sebagai kelompok pemegang kunci jawaban. Dalam waktu yang dibatasi, siswa pemegang kelompok kartu soal dan kartu jawaban saling berinteraksi dan diskusi untuk mendapatkan pasangannya yang cocok, setelah mendapatkan jodoh/ pasangan yang mereka anggap cocok/ benar, pasangan tersebut menuju ke kelompok pemegang kunci jawaban untuk dikoreksi kebenaran pasangannya. Jika benar pasangan kedua siswa mendapatkan point dan jika masih salah, kembali berbaur untuk mencari pasangannya yang cocok. Dalam kegiatan ini guru bertindak sebagai fasilitator, memberi penguatan dan bersama-sama siswa menyimpulkan konsep pembelajaran.

Pembelajaran kooperatif teknik cari jodoh membuat siswa aktif berpikir dan bergerak dalam kompetisi untuk mendapatkan pasangan yang benar dalam waktu yang cepat. Dalam kemasan permainan yang menarik dan kompetitif ini, siswa tertarik dan terpancing berperan aktif dalam pembelajaran, sehingga dengan semua proses yang mereka alami, siswa secara tidak langsung telah melakukan proses belajar yang penuh makna dan menyenangkan, sehingga konsep-konsep pembelajaranpun dapat mereka kuasai secara maksimal.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan ternyata Penggunaan model pembelajaran kooperatif teknik cari jodoh dapat meningkatkan hasil belajar IPA materi sistem ekskresi pada siswa kelas IX SMP Negeri 2 Tlogomulyo. Hal tersebut ditandai dengan meningkatnya daya serap dan ketuntasan belajar siswa. Selain itu, suasana pembelajaran lebih hidup dan siswa lebih antusias dalam mengikuti pelajaran bila dibandingkan dengan sebelum menggunakan model pembelajaran teknik cari jodoh. Dalam pembelajaran, guru diharapkan untuk lebih kreatif dalam memilih metode dan model pembelajaran yang bervariasi agar pembelajaran lebih menarik dan tidak membosankan.

Ambarwati, S.Pd.Si.
Guru IPA SMP Negeri 2 Tlogomulyo, Temanggung