Beranda Jateng CATAT!! Kades di Temanggung Minta Kartu Tani Dibubarkan

CATAT!! Kades di Temanggung Minta Kartu Tani Dibubarkan

BERBAGI
Kepala desa se Kabupaten Temanggung mengikuti evaluasi penggunaan kartu tani di Pendopo Pengayoman, Senin (12/3). FOTO:SETYO WUWUH/JPNN

JATENGPOS.CO.ID. TEMANGGUNG– Para kepala desa di Kabupaten Temanggung meminta agar kartu tani dibubarkan. Pasalnya baik sumber daya manusia (SDM) yang menangani maupun petani, belum belum siap dengan adanya kartu tani.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh para kepala desa saat evaluasi penggunaan kartu tani di Pendopo Pengayoman Temanggung, Senin (12/3).

Sukirman salah satu kepala desa menuturkan, kartu tani hanya menyulitkan petani saja, sebab kuota pupuk yang diberikan oleh pemerintah tidak sesuai dengan luasan lahan yang dimiliki oleh petani.

“Salah satu contohnya petani di tempat saya, dia menggarap lahan seluas setengah hektar. Tapi kuota yang diterima hanya sebanyak 50 kilogram saja. Jumlah pupuk ini sama sekali tidak mencukupi kebutuhan petani,” tukasnya.

Senada juga diungkapkan oleh Suwito, Kepala Desa Kedungkumpul Kecamatan Kandangan. Menurutnya, sistem kartu tani sangat ribet dan ruwet, sehingga banyak petani yang merasa sangat bingung.

Salah satu contohnya yakni, ketika petani memasukan saldo sejumlah uang ke kartu tani, namun ternyata saldo tersebut tidak masuk alias kosong. Selain itu di pengecer atau tempat untuk mengambil pupuk data saldo yang telah diisi masih kosong.

 

Permasalahan ini katanya tidak hanya dialami oleh petani di wilayahnya saja, melainkan hampir dialami oleh semua petani di Kabupaten Temanggung. Sehingga petani sangat berharap agar ada perbaikan sistem di kartu tani ini.

“Harus ada perbaikan, sehingga petani merasa tidak dipersulit ketika akan mengambil pupuk. Jika tidak, kartu tani ini sebaiknya dibubarkan saja, mengingat aplikasi kartu tani masih belum bisa maksimal,” terangnya.

Kartu tani ini, lanjutnya, memang sebagai salah satu upaya agar pupuk bisa benar-benar sampai ke tangan petani yang membutuhkan. Namun demikian kartu tani belum bisa memberikan manfaat seperti yang diinginkan.

“Jangan sampai dengan adanya kartu ini petani justru menjadi lebih susah, seharusnya petani bisa menjadi lebih mudah,” urai Suwito.

Sementara itu, Kepala Biro Infrastruktur dan Sumber Daya Alam Setda Provinsi Jateng, Peni Rahayu menjelaskan, petani tidak diwajibkan untuk menabung di kartu tani. Selain itu tidak harus ada uang yang mengendap di kartu tani.

Pihaknya juga mengimbau agar petani tidak mengubah nomor PIN kartu tani, sehingga dalam perjalannya tidak menyulitkan pengecer atau toko yang ditunjuk untuk mendistribusikan pupuk.

Namun jika petani akan memanfaatkan kartu tani untuk menabung maka dipersilahkan untuk mengubah nomor PIN.

“Jika tidak ada saldonya, petani bisa menebus dengan uang tunai, nantinya pengecer yang akan mentransfer ke bank,” tandasnya. (set/jpnn/muz)

BERBAGI