Beranda Sekolah Hebat Opini Guru Dilematis Seni Di Era Globalisasi

Dilematis Seni Di Era Globalisasi

23
BERBAGI
SITI NAFISAH, S.Pd (Guru Seni Budaya SMPN 3 Pegandon)
SITI NAFISAH, S.Pd (Guru Seni Budaya SMPN 3 Pegandon)

JATENGPOS.CO.ID, – Eksistensi seni memiliki peranan urgen dalam setiap aspek kehidupan. Kehadiran seni sering menjadi perbincangan dikhalayak umum. Terkadang seni hanya dijadikan tangan untuk membuat sensasi guna mendukung popularitas diri. Bahkan untuk memamerkan celah-celah seksualitas atau pornografi sering orang berdalih pada seni. Sehingga dengan mengatasnamakan seni segalanya dianggap tidak melanggar norma apapun. Persoalannya adalah seni yang baik itu bagaimana?  Apakah setiap karya itu merupakan seni ? Dua hal itulah dari dulu hingga sekarang menjadi perdebatan di tengah hiruk pikuknya masyarakat dalam rangka membangun pendidikan karakter.

Jika kita mencermati perjalanan seni, maka cukup menarik  yang bisa kita tangkap. Seni bisa kita  kategorikan lagi untuk berekspresi yang notabene menjadi salah satu kebutuhan hidup manusia. Realita internal kehidupan spiritual setiap insan membutuhkan penyaluran agar dapat mencapai keseimbangan rohaniah yang sehat. Proses mengapresiasi seni adalah aktifitas proses kreasi yang lebih bersifat objektif dengan memadukan realitas internal yang subjektif melalui  pendekatan objektif. Kita diharapkan mendapatkan pengalaman yang berharga, yakni keharmonisan, antar kehidupan batiniah dan lahiriah. Dari proses kegiatan berekspresi ini, potensi artistik setiap insan akan berkembang. Karya manusia adalah objek-objek real  mengenai apa yang mereka harapkan dan inginkan dan menjadi dokumen penting bagi kehidupan psikologis manusia.

Dua pandangan Seni

Dalam wacana seni ada dua pandangan atau madzab yang sering dijadikan rujukan dalam berkarya. Pertama, Art Pour Art. Madzab  ini beranggapan bahwa seni adalah seni. Hal ini berorientasi pada seni murni dan tidak terkait dengan aspek-aspek yang lain. Apa yang mereka cipta adalah sebuah seni dengan mengesampingkan berguna atau tidak. Baginya seni  adalah keindahan dan kenikmatan yang bisa membuat penikmat seni mendapatkan kepuasan. Kedua, Art Pour Engage, seni adalah bermanfaat.

Anggapan seni bahwa seni adalah seni tidak berlaku bagi madzab ini. Menurutnya, seni itu harus bermanfaat dan menjunjung norma.  Jika yang dicipta tidak bermanfaat meskipun mengandung norma keindahan, maka hal itu tidak dapat dikategorikan sebagai seni. Seni harus memiliki manfaat di tengah masyarakat, seperti menghibur, mendidik, membentuk pendidikan karakter yang positif. Jadi, selain indah seni dapat memancarkan nilai-nilai kemanfaatan yang cukup tinggi sehingga dalam perjalanan hidup manusia selalu dikelilingi hal-hal yang indah tetapi positif. Segala sesuatu itu dianggap seni manakala dapat memberi manfaat dalam kehidupan manusia. Jadi, seni yang baik adalah seni yang berguna dan bermanfaat baik secara lahiriah dan batiniah.

Seiring  dengan perkembangan zaman, era global merupakan era yang penuh tantangan terutama dalam pembentukan karakter anak. Seni yang dinikmati tidak sekedar dipandang dari permukaannya saja. Sering orang mencari popularitas dengan menciptakan seni yang terkadang bertentangan dengan norma-norma yang ada. Misalnya, seni yang bernuansa pornografi, bernuansa pelanggaran ajaran agama, dan masih banyak yang lainnya.

Apabila kita mengabaikan dari salah satu hal-hal di atas maka sudah pasti akan bisa menjadi yang timpang. Sebagai masyarakat timur, kita selalu menjunjung norma dalam setiap aspek kehidupan, termasuk seni. Seni sudah selayaknya tidak mengesampingkan kebermanfaatan bagi hidup dan kehidupan manusia. Sebuah karya dikatakan seni manakala memiliki keindahan dan kebermanfaatan. Seni haruslah berguna bagi masyarakt, bahkan seni bisa dipandang sebagai perspektif dalam mendukung kebutuhan rokhani. Dengan demikian perspektif  seni di era globalisasi kian berkualitas.

Kita menyadari, pada hakekatnya semua manusia oleh Tuhan diberi apa yang diistilahkan “Sense Of Beauty”  rasa keindahan. Meskipun ukuannya relative tidak sama pada setiap orang. Jelas setiap manusia sadar atau tidak menerapkan rasa keindahan ini dalam kehidupan sehari-hari, misal saat kita memantas diri dalam berpakaian, memilih kosmetik, berdandan,  dan sebagainya. Begitu pula dalam melengkapi kebutuhan hidup, kita dipandu oleh rasa keindahan. Katakanlah dalam menata arsitektur rumah dan sekitarnya, memilih perabotan, dan sebagainya. Itu semua adalah wajar sebagai manusia yang menjunjung kualitas seni. Manusia yang wajar merupakan manusia yang peduli terhadap keindahan. Hidup ini hampa manakala jauh dari keindahan. Dengan keindahan manusia bias tercukupi kualitas hidup secara lahir maupun batin.

Dalam perjalanan hidup, esensinya manusia itu semakin kritis dan cerdas. Bisa membedakan antara positif dan negative, yang berguna dan tidak, yang membangun dan tidak, yang berkualitas dan tidak. Dalam kaitannya dengan seni, baik seni lukis, seni kriya, seni tari, ataupun seni yang lain lambat laun manusia di era global itu akan bisa memilah-milah mana yang konstruktif. Jika manusia itu menganggap seni sebagai hal yang konstruktif, maka dengan sendirinya akan mengapresiasi seni itu dengan maksimal. Sebaliknya, jika seni itu tidak memiliki unsure konstruktif maka dengan sendirinya seni itu akan dipinggirkan. Dalam konteks ini masyarakat secara otomatis melakukan seleksi diri dalam rangka membangun perspektif seni ke depan, terutama di era global yang penuh dengan berbagai intrik kehidupan. Jika kita tidak dapat memfilter karya seni, maka kita sendiri yang akan terperosok ke jurang peradaban yang negatif. Sebaliknya jika kita mampu memfilter karya seni, kita akan mendapatkan manfaat besar dalam rangka membangun karakter bangsa menuju kehidupan yang berkualitas dalam hal jasmani maupun rokhani.

SITI NAFISAH, S.Pd

(Guru Seni Budaya SMPN 3 Pegandon)

BERBAGI