Beranda Hukum & Kriminal Dinilai Melanggar Undang-Undang, LDA Tentang Baliho di Siti Hinggil Alkid

Dinilai Melanggar Undang-Undang, LDA Tentang Baliho di Siti Hinggil Alkid

12
Ketua LDA Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, GKR Koes Moertiyah Wandansari .

JATENGPOS.CO.ID, SOLO – Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Kasunanan Surakarta menentang pendirian papan baliho yang tengah dibangun di depan Siti Hinggil Alun-Alun Selatan atau Alun-Alun Kidul (Alkid) kompleks keraton. Pasalnya, tempat papan baliho berukuran cukup meter tersebut masuk katagori bangunan permanen yang melanggar Undang-Undang Cagar Budaya.

Ketua LDA Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, GKR Koes Moertiyah Wandansari mengatakan, sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya tidak diperkenankan menambah bangunan permanen di area kawasan cagar budaya. Kecuali jika semi permanen dan bisa dibongkar sewaktu-waktu tanpa merusak bangunan cagar budaya serta tidak menutupi fassade keraton.

“Selain itu, dari sisi estetika juga melanggar. Karena baliho didirikan di depan SIti HInggil sehingga menutupi bangunan utama. Dipasangnya juga hanya beberapa centimeter dari pagar Siti Hinggil juga membahayakan dan berpotensi besar merusak pagar yang merupakan bagian bangunan cagar budaya. Kalau misal roboh pasti juga membahayakan masyarakat dan bisa-bisa ikut membuat pagar Siti Hinggil roboh,” tandas Gusti Moeng, sapaan akrabnya.

Ia pun menyayangkan oknum-oknum yang selama ini bertindak mengatasnamakan Sinuhun Paku Buwono (PB) XIII setiap kali mengambil tindakan di luar pakem dan bahkan cenderung melawan hukum.  Seperti pembangunan baliho permanen dengan pondasi cor beton di dengan Siti Hinggil. Sebagai adik raja, Gusti Moeng khawatir jika tindakan semena-mena tersebut diteruskan, kakaknya yang akan menanggung semuanya.

“Semuanya selalu mengatasnamakan Sinuhun. Padahal belum tentu Sinuhun tahu, tapi nanti kalau ada apa-apa disuruh tanggung jawab. Kasihan sebenarnya saya itu, makanya kemarin saat bertemu langsung di lokasi pembangunan baliho saya ingin menjelaskan kenapa saya tidak setuju baliho di pasang di sana. Karena kami ingin melindungi Sinuhun, jangan sampai apa yang dilakukan melanggar hukum dan Sinuhun yang kena akibatnya, padahal yang berulah oknum-oknum di belakangnya,” ujarnya.

Sebelumnya juga sempat beredar video yang memperlihatkan Gusti Moeng mencoba berbicara dengan PB XIII yang tengah berada di dalam mobil. Di video tersebut, Gusti Moeng bersama cucu PB XIII tampak menjelaskan alasan mengapa ia menentang pendirian baliho permanen di Siti Hinggil Alkid. (jay/bis/rit)