Beranda Hukum & Kriminal Dirugikan, Nasabah Akan Gugat BPR Joko Tingkir

Dirugikan, Nasabah Akan Gugat BPR Joko Tingkir

BERBAGI
JUAL ASET: Tanah dan bangunan yang dijadikan jaminan pinjaman di BPR Joko Tingkir Sragen. foto: ARI SUSANTO/JATENGPOS
JUAL ASET: Tanah dan bangunan yang dijadikan jaminan pinjaman di BPR Joko Tingkir Sragen. foto: ARI SUSANTO/JATENGPOS

JATENGPOS.CO.ID, SRAGEN – Nasabah bank bernama Teja Rukmana (44), warga Kandungsari RT 21 Desa Kaliwedi, Gondang, Sragen, kecewa dengan pelayanan BPR Djoko Tingkir Sragen. Pasalnya, pihak BPR Joko Tingkir, dituding tidak terbuka memberikan rincian pelunasan hutang Rp 200 juta. Apalagi terindikasi pihak BPR dengan pihak ketiga terjadi persekongkolan, sehingga proses pembayaran penjualan jaminan tanah dan bangunan atas nama Teja Rukmana tak jelas.

Melihat kondisi itu, didampingi Forum Masyarakat Sragen (Formas) akan ajukan gugatan secara hukum.

Divisi Hukum dan  HAM Formas Sragen Wahono menjelaskan, Formas membenarkan adanya aduan dari nasabah BPR Djoko tingkir. Karena pihak nasabah dirugikan dengan indikasi persekongkolan jahat hingga Teja Rukmana dirugikan pihak BPR Joko Tingkir, Sragen.

“Indikasi persengkongkolan itu, penjualan aset jaminan bank milik Teja Rukmana saat dibayar pihak ketiga Dias Puspitasari tidak disaksikan nasabah. Begitu juga, kalo benar ada pelunasan pembayaran jaminan dan pengambilan berkas jaminan, seharusnya juga ada ada dokumen berita acara. Karena jaminan masih atas nama nasabah. Maka dengan temuan itu, ada motif tindak pidana yang dilakukan pihak BPR. Maka nasabah menjadi korban, kami selaku Formas akan dampingi masalah tersebut hingga ke penegak hukum,” tandas Wahono, Rabu (14/5).

Munculnya persoalan itu, kata Wahono, bulan maret 2016 Teja Rukmana ajukan pinjaman ke BPR Djoko Tingkir sebesar Rp 200 juta, dengan proses pelunasan 4 tahun. Angsuran setiap bulannya Teja menyetor Rp 6 juta. Mulai angsuran dipepakati tanggal 16 mei 2016. Selama delapan bulan berturut turut, angsuran lancar.

“Namun karena menginjak angsuran ke sembilan sampai ke sebelas, Teja rukmana alami kemacetan, dan sering didatangi pihak bank. Akhirnya Teja rukmana minta ijin  pihak bank, untuk menjual aset tanahnya seluas 440 m2 dan bangunan rumas tingkat yang terletak di Kandungsari Rt 21 kaliwedi,Gondang, yang sertifikatnya di jaminkan di BPR Djoko Tingkir sragen,” papar Wahono.

Proses penjualan tanah dan bangunan itu, kata Wahono, disepakati dijual seharga Rp 250 juta. Kemudian melalui seoran notaris Winarsih SH, tanah dan bangunan itu anak buahnya bernama Dias Puspitasari. Kemudian pada tanggal 12 Mei 2017, Dias Puspitasari membayar uang muka Rp 30 juta. Uang muka itu diterima Puji Kalistri istri Teja rukmana di rumah orang tuanya di Dukuh Getas, Desa Wonotolo,Gondang, Sragen.

“Pembayaran itu disaksikan mantri BPR Djoko tingkir bernama Sangaji, dan diminta Rp 18 juta sebagai angsuran yang nunggak 3 kali. Sisanya Rp 12 juta diterima istri Teja bernama Puji Kalistri,” jelas Wahono.

Anehnya, kata Wahono, pembeli tanah dan bangunan Dias Puspitasari yang berjanji akan melunasi sisa pembayaran Rp 220 yang dijanjikan bulan Juni 2017 bersamaan proses pengurusan dokumen di BPR Djoko Tingkir Sragen, tidak ada kabar. Begitu juga Teja Rukmana juga tak pernah mendapatkan informasi dari Dias puspitasari, hal pelunasan tanah dan bangunan itu. Disisi lain, petugas BPR Joko Tingkir bernama Sangaji mengaku kekurangan sisa pembayaran telah dilunasi melalui BPR.

Seharusnya, dengan perhitungan telah mengangsur Rp 6 juta x 11 bulan Rp 66 juta. Dikurangi dengan pinjaman Rp 200 juta – Rp 66 juta = 134 juta. Berdasar perhitungan nasabah dari penjualan tanah dan bangunan Rp 220 juta – Rp 134 juta, masih ada sisa dari total pinjaman yang telah dilunasi nasabah dari penjualan aset tersebut.

“Karena Teja Rukmana sendiri juga tak pernah menerima pelunasan penjualan asetnya Rp 220 juta. Bahkan saat Teja  mendatangi rumah pembeli Dias Puspitasari di Mojomulyo Gang 9, Sragen, hanya diberi uang Rp 6 juta.  Lebih terkejutnya Teja Rukmana juga ditelepon oknum anggota PM polisi militer bernama Vian, dalam pembicaraan Teja tidak usah sewa pengacara atau LSM kita rembuk secara kekeluargaan saja,” ucap Wahono.

Karena Teja Rukmana merasa dirugikan, pihak BPR tak memberikan rincian hasil penjualan aset jaminannya, mencoba menyewa pengacara asal Kebakkramat, Karanganyar dan telah mengeluarkan Rp 12 juta tak membuahkan hasil, akhirnya mengadukan masalah itu ke Formas Sragen.

“Setelah mencabut surat kuasa dari pengacara asal Kebakkramat saya minta bantuan Formas sragen untuk menbantu menyelesaikan masalah ini,” tutur Teja. (ars/saf/sct)
BERBAGI