Beranda Sekolah Hebat Opini Guru Discovery Learning Bina Rasa Tanggung Jawab Siswa pada Mapel PKn

Discovery Learning Bina Rasa Tanggung Jawab Siswa pada Mapel PKn

96
WITRI,S.Pd SD Guru SD Negeri 2 Klampok,kec Purwareja Klampok, Banjarngara
WITRI,S.Pd SD Guru SD Negeri 2 Klampok,kec Purwareja Klampok, Banjarngara

METODE discovery learning adalah metode mengajar yang mengatur sedemikian rupa sehingga anak memperoleh pengetahuan yang belum diketahui melalui pemberitahuan sebagian atau seluruhnya, kemudian ditemukan sendiri oleh anak menurut https://sulipan.wordpress.com. Tanggung jawab bermakna konotasi artinya adalah wajib menanggung segala sesuatu kalau terjadi apa-apa, boleh dituntut,dipersalahkan,diperkarakan (Lukman Ali, 2000:1139). Jadi menurut penulis metode discovery learning sangat cocok untuk menerapkan rasa tannggung jawab siswa terhadap mata pelajaran PKn.

Dilingkungan keluarga biasanya itu ada aturan- aturan yang mengikat gunanya untuk membina rasa tanggung jawab anggota keluarganuya . Agar tercipta rasa aman,damai serta rasa dilindungj atau disayang dan kekeluargaan tercipta rukun. Dalam pembelajan ini penulis ingin mngajak siswa untuk menemukan rasa tanggung jawab untuk belajar. Yaitu dengan menerapkan metode discovery learning atau metode penemuan pada mata pelajaran PKn. Karena penulis mengamati anak jaman now kurang punya rasa tanggung jawab. Apalagi kalau diberi tugas kebanyakan mengeluh,segi waktu lama,terkadang ada anak yang tidak mengerjakan dengan alasan lupa atau tugas ketinggalan dirumah. Dengan melihat kondisi itu di SD Negeri 2 Klampok yang dulu awal masuk kelas VI baru 50 % anak yang sadar akan tanggung jawabnya, prestasi hanya standar memenuhi KKM. Dengan KKMnya 70 dan anak yang memenuhi KKM baru 60% Maka penulis ingin membiasakan anak untuk memupuk rasa tanggung jawab agar dapat mencapai KKM yang penuh khususnya di kelas VI pada mata pelajaran PKn.

Pada mata pelajaran PKn dangan KD (kompetisi dasar) : 1.4 Mensyukuri persatuan dan kesatuan sebagai anugrah Tuhan YME beserta dampaknya. 2.4 Menampilkan sikap tanggung jawab terhadap penerapan nilai persatuan dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 3.4 Menelaah persatuan dan kesatuan terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan materi membaca dan berdiskusi tentang makna persatuan dan kesatuan dalam kehidupan sehari-hari.Caranya yaitu mulai dari diri anak itu sendiri untuk membaca Pancasila sila ke 3 yaitu Persatuan Indonsia kemudian anak disuruh membuat pertanyaan,kemudian berdiskusi dengan bimbingan guru untuk mengungkapkan arti persatuan dan kesatuan.

Setelah diskusi selesai guru beserta siswa menyimpulkan hasil pembelajaran PKn bahwa menggunakan discovry learning ternyata: 1.Anak mampu menjelaskan persatuan yang berarti menyatunya orang/organisasi untuk membina satu mufakat atau tujuan sama. 2. Kesatuan adalah kokoh/kuat walupun banyak segala macam bahaya/goncangan yang ingin membubarkan akan tetap bersatu. Apalagi untuk persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. 3.Bisa menumbuhkan rasa tanggung jawab,tugas yang diberikan selalu tepat waktu, kedisiplinan meningkat,rasa percaya diri berkembang,anak mau bertanya tidak malu atau takut lagi serta rasa malas sedikit–sedikit berkurang. 4. Bisa menunjukan karakter keadaban,kecenderungan untuk rasa tanggung jawab pribadi/golongan/kelompok,sanggup menerima konsekunsinya,penerapan disiplin dalam kelas. 5. Mencintai/menyanyangi sesama teman,warga sekolah,keluarga,bangsa dan negara.6. Menghormati sesama teman,walaupun berbeda latar belakang sosial dan budaya. 7.Toleransi antar teman,agama,perbedaan budaya, etnik,adat istiadat.

Dalam hal ini ada dua karakter yang perlu dipahami yaitu simpati dan empati. Dua kata itu merupakan kunci dalam hidup bersama/ berteman dan pergaulan baik ditingkat keluarga, sekolah,masyarakat. Kesalahanpahaman antar teman akan dapat dikurangi bila saling memahami prinsip,komunikasi lancar pasti dapat terselesaikan dengan baik. Dari hasil pembelajaran menggunakan discovery learning dapat disimpulkan bahwa rasa tanngung jawab anak terhadap tugas yang dulu hanya 50% berubah menjadi 95%. Kemudian hasil belajar yang dulu hanya 60% kemudian meningkat menjadi 90% dari siswa.

WITRI,S.Pd SD
Guru SD Negeri 2 Klampok,kec Purwareja Klampok, Banjarngara