Beranda Jateng Solo Dr Eko Joko Trihadmono Tokoh Inspiratif Penjaga Budi Pekerti, Terima Penghargaan Muresko

Dr Eko Joko Trihadmono Tokoh Inspiratif Penjaga Budi Pekerti, Terima Penghargaan Muresko

28
PENGHARGAAN : Joko Plengeh saat menerima penghargaan dari Muresko, diserahkan oleh Direktur Muresko Bimo Kolor Wijanarko. Foto : Ade Ujianingsih/Jateng Pos

JATENGPOS.CO.ID, SUKOHARJO – Kiprah Eko Joko Trihadmono, sebagai sosok yang konsisten menjaga tradisi dan eksistensi kesenian Jawa, serta nilai nilai luruh budaya Jawa, mendapatkan apresiasi dari Museum Rekor Sukoharjo (Muresko).

Muresko memberikan penghargaan berupa tokoh terkreatif dibidang seni dan budaya, yang tetap berkarya dimasa pandemi covid19. Penghargaan Muresko dengan nomor 481/MRK/2021 ini diserahkan oleh Direktur Muresko Bimo Kokor Wijanarko, Sabtu (9/1).

Pria Sukoharjo bergelar doktor Bahasa ini membuktikan diri konsisten menjaga tradisi Budi pekerti Jawa. Hal itu dibuktikan dengan karya lima buku yang dipersembahkan untuk pelestarian budaya Jawa. Yang hebat, selama pandemi covid19 ini, ia memberikan ‘panggung’ bagi seniman Sukoharjo untuk menampilkan karyanya melalui siaran YouTube bersama CalistaTV.

“Berawal dari keresahan saya, budaya Jawa khususnya ‘unggah ungguh’ dan Budi pekerti mulai ditinggalkan. Ini yang membuat saya getol ‘mengkampanyekan’ budi pekerti khususnya untuk anak muda,” kata pria yang akrab dipanggil Joko Plengeh, Minggu (10/1).

Joko Plengeh merupakan guru Bahasa Jawa di SMKN 8 Surakarta, lalu usai menyelesaikan pendidikan S3, ia juga mengabdikan diri menjadi dosen Bahasa Jawa di UNS.

“Pandemi membuat pekerjaan dan kreativitas kita jadi terbatas, namun saya mengajak masyarakat khususnya seniman agar tidak berhenti berkreasi,” tegasnya.

Joko yang juga memiliki usaha Production House (PH) video shooting, mengajak para seniman di Sukoharjo dari berbagai aliran untuk tampil secara bergiliran menuangkan karyanya yang disiarkan secara live streaming YouTube CalistaTV.

Ada berbagai genre musik yang diwadahi untuk pentas, mulai dari Sholawatan, Karawitan, Keroncong, Dangdutan, Wayang Kampung Sebelah, Puisi, Geguritan, Deklamasi. Band dari berbagai aliran seperti tembang kenangan, Koes Plus, Pop, hingga Top 40. Sedikitnya ada 60 kali siaran streaming yang sudah dilakukan selama pandemi.

Lalu lima buku yang sudah diselesaikan antara lain Bukan Bahasa Biasa (2016), Warisane Simbah (2017), Berpidato Yang Praktis (2017), Kidung Kepatihan Wetan dan Sekar Gadhung Melathi (2020), dan sebuah buku lagi yang siap masuk percetakan yakni Bahasa Protokol Milenial.

Juga ada beberapa judul buku lagi yang masih dalam pengerjaan, yakni ‘Pitutur luhur dalam cerita wayang’, ‘Bahasa Jawa di Masyarakat Soloraya’ dan ‘Kajian pragmatik Sholawat klasik di Kampung Sumedangan’.

“Saya juga siapkan proyek buku antologi geguritan karya siswa didik saya di SMKN 8, setiap ada kesempatan saya pasti tularkan budaya membaca dan mengarang buku bagi siswa, guru atau siapapun,” imbuhnya.

Direktur Muresko, Bimo Kokor Wijanarko menyampaikan, penghargaan diberikan kepada Joko setelah pihaknya melakukan pengamatan beberapa bulan.

“Kesederhanaan dan kepedulian Joko terhadap para seniman di Sukoharjo telah membuat Muresko memutuskan memberi penghargaan sebagai bentuk apresiasi,” ungkap Kokor.

Kokor memastikan, Muresko akan terus mencari tokoh tokoh yang menginspirasi, unik, kreatif untuk diberikan apresiasi, khususnya tokoh di tingkat Kabupaten Sukoharjo. (Dea/bis/rit)