Beranda Hiburan Fajar Nugros Ekspresikan Kegelisahan Minoritas

Fajar Nugros Ekspresikan Kegelisahan Minoritas

BERBAGI
Para pemain film Terbang: Menembus Langit berswa foto disela-sela konferensi pers di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (23/3). Film karya dari Fajar Nugros dari rumah produksi Demi Istri Production tersebut merupakan film inspiratif dengan latar Indonesia tahun 80-90an tentang keberagaman suku bangsa Indonesia. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/

JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – Film “Terbang: Menembus Langit” sebenarnya mengekspresikan kebinekaan Indonesia yang beberapa waktu lalu sempat menjadi kegelisahan, kata sang sutradara film itu, Fajar Nugros.

“Sutradara dalam membuat film, dalam bahasa senimannya adalah mencari apa yang sedang digelisahkan,” katanya saat Meet and Greet Film “Terbang: Menembus Langit” di Semarang, Minggu malam.

Film garapannya menceritakan  kegigihan Onggy (diperankan Dion Wiyoko) seorang keturunan Tionghoa dari keluarga tidak mampu yang berjuang tidak kenal lelah dalam mencapai keberhasilan.

Kebetulan, kata pria kelahiran Yogyakarta, 29 Juli 1979 itu, Indonesia tahun lalu sedang gelisah, terutama menyangkut soal kebinekaan, padahal Indonesia ada karena berbeda-beda.

Dalam film tersebut, kata dia, keberagaman suku bangsa di Indonesia juga diangkat yang diharapkan bisa menumbuhkan kesadaran masyarakat, khususnya penonton, terhadap kebinekaan Indonesia.

“Ketika kemiskinan dan minoritas seolah tembok besar yang mengungkung, ternyata semua bisa berubah kalau seseorang mempunyai tekad yang kuat. Saya rasa banyak hal yang ‘relate’, sekaligus menginspirasi,” ungkapnya.

Fajar mengakui film itu merupakan biopik yang merupakan kisah nyata meski tidak mengangkat tokoh terkenal, melainkan pemuda yang diceritakan tinggal di Tarakan, Kalimantan dan berkuliah di Surabaya.

“Bukan yang penting siapa tokohnya, sosoknya, tetapi kisah hidupnya yang menginspirasi. Kalau yang diangkat tokoh kenamaan, nyarinya sutradara pasti yang kenamaan juga,” katanya merendah.

Laura Basuki, aktris yang berperan sebagai Chandra, istri Onggy dalam film itu, menceritakan keasyikannya menjalani syuting yang berlangsung selama satu bulan di beberapa kota itu.

“Di Surabaya sekitar dua mingguan, kemudian di Tarakan, Kalimantan. Film ini komplit karena ada drama, komedi, dan kisah perjuangan seseorang,” kata sosok cantik kelahiran Berlin, Jerman, 9 Januari 1988.

Film itu, kata dia, cocok ditonton semua orang, terutama keluarga, orang yang baru pacaran, sebab banyak memberikan nilai positif peran istri dalam mendampingi suaminya berjuang meraih sukses.

Susanti Dewi selaku produser Film “Terbang: Menembus Langit” menambahkan “roadshow” di Semarang itu melanjutkan kegiatan serupa di Medan, Palembang, Surabaya, Makassar, dan Balikpapan.

“Semarang sebagai Ibu Kota Jawa Tengah menjadi tujuan ‘roadshow’ kali ini karena kami melihat antusiasme masyarakat Semarang terhadap film Indonesia semakin meningkat,” katanya. (drh/ant)

BERBAGI