Beranda Jateng Fraksi PDIP Salatiga Perhatikan Lembaga Non Formal

Fraksi PDIP Salatiga Perhatikan Lembaga Non Formal

41
Peduli Pendidikan : Fraksi PDI Perjuangan Kota Salatiga saat kunjungan ke Ponpes Al-Falah di dukuh Grogol, Salatiga. ( foto : dekan bawono/ jateng pos).

JATENGPOS.CO.ID,  SALATIGA – Memasuki tatanan baru (new normal) di Kota Salatiga, Fraksi PDI Perjuangan Kota Salatiga mengunjungi Ponpes Al Falah dan SMP Kristen 4, Senin (29/6). Kunjungan tersebut untuk melihat kesiapan sejumlah pendidikan non formal di era new normal.

“Mereka ini turut serta mencerdaskan anak bangsa sudah semestinya kita diperhatikan. Maka saya juga minta nanti Pemkot Salatiga memperhatikannya,” ujar Ketua Fraksi PDI Perjuangan Teddy Sulistio, Senin ( 29/6).

Dikatakan Teddy, tidak hanya pondok pesantren saja, namun juga yayasan pendidikan lain yang kita sapa. Ini untuk mengisi celah-celah kosong yang mungkin belum sempat didiskusikan oleh gugus tugas.

“ Kita mengisi saja, mungkin belum sempat tersapa,” imbuhnya.

Menurut Teddy yang juga Ketua DPC PDIP Salatiga ini, dengan anggaran yang masih dimiliki Pemerintah Kota Salatiga senilai Rp 53 miliar untuk penanganan Covid19, mestinya lembaga pendidikan non formal turut diperhatikan.

Ia mencontohkan selama ini lembaga pendidikan non formal di Salatiga telah banyak mendatangkan santri dari luar daerah. Sehingga ikut menyumbang roda ekonomi masyarakat.

Sementara Wakil Ketua Fraksi PDI Perjuangan M. Kemat menambahkan, kedatangan ke pesantren ini mengingat para santri baru sudah mulai masuk dan kami ingin menyapa.

” Selain itu ada sejumlah sarana dan prasarana yang dibutuhkan memasuki new normal, semisal masker handsaniter dan sebagainya. Bahkan juga kebutuhan pokok dan vitamin. Kami dari Fraksi PDI Perjuangan akan berusaha. Kita akan lihat data di pesantren berapa jumlah atau kebutuhannya,” pungkasnya.

Pengasuh Ponpes Al-Falah Grogol, Sidomukti, Kota Salatiga Nur Khozin mengaku memasuki new normal, kebutuhan pesantren yang mendesak saat ini adalah sarana prasarana seperti tempat wudhu, ruang karantina dan sarana pendukung lainnya seperti thermo gun, handsanitaser dan lainnya.

“Kami sementara telah menyediakan empat ruangan khusus untuk karantina santri. Lalu kami juga butuh pendampingan kesehatan dari dinas kesehatan terkait,” ujarnya

Dikatakannya, jumlah santri saat ini sebanyak 430 orang. Sementara agar memudahkan penerapan protokol kesehatan kedatangan santri dibatasi setiap 2 minggu maksimal 80 santri.

“ Para santri yang berasal dari daerah zona merah sementara dilarang kembali ke pesantren. Sedangkan mereka berasal dari zona hijau diwajibkan menyertakan surat keterangan sehat,” pungkasnya.(deb/bis)