Beranda Headline Ganjar Dinilai Sulit Maju

Ganjar Dinilai Sulit Maju

- Ada Persoalan Kasus E-KTP - PDIP: Pilpres Urusan Langitan

14
Pengamat Politik Universitas Al-Azhar, Ujang Komarudin

JATENGPOS.CO.ID, JAKARTA – Ganjar Pranowo menduduki posisi teratas dalam bursa capres 2024 di survei Indikator Politik. Tingginya ganjar dinilai karena faktor adanya suara pemilih Jokowi dan PDIP yang saat ini masih memiliki elektabilitas tinggi.

Jokowi dan PDIP yang masih tinggi,” kata Pengamat politik Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Arya Fernandes, Sabtu (25/10).

Selain itu, jelas Arya, Ganjar merupakan tokoh PDIP yang kuat saat ini dibandingkan tokoh lainnya. Lalu, Ganjar juga menjadi perhatian karena penanganan COVID di Jawa Tengah yang menurutnya sudah beberapa dapat apresiasi.

“Yang punya brand kuat di PDIP ya masih ganjar, ada Risma tapi kan nggak muncul, levelnya juga masuk wali kota. Selain itu, mungkin karena ada aspek penanganan COVID karena sempat beberapa kali diapresiasi,” ujarnya.

Namun, Ganjar dinilai sulit untuk maju dalam pilpres 2024 nanti. Arya mengatakan kultur PDIP dalam penetapan capres itu selalu berdasarkan keputusan Ketua Umu. Sehingga, menurutnya, Ganjar harus meyakinkan Ketum PDIP untuk memilihnya.

“Persoalannya Ganjar harus bisa meyakinkan PDIP untuk bisa memberikan tiket kepada Ganjar, karena kan di PDIP itu proses penetapan capres bukan kontestasi tapi diputuskan oleh ketum tentu melalui AD/ART atau aturan organisasi partai, jadi kesulitan Ganjar meyakinkan PDIP,” ujarnya.

Sama halnya dilontarkan Pengamat Politik Universitas Al-Azhar, Ujang Komarudin. Dia mengatakan walaupun sering muncul, Ganjar berat untuk maju ke pilpres, karena terganjal beberapa persoalan.

“Ganjar walaupun sering muncul disurvei. Tetap agak berat untuk melaju di Pilpres. Karena ada persoalan dalam kasus e-ktp. Dalam kasus tersebut Ganjar disebut-sebut oleh pihak lain terlibat. Itu lah yang membuat langkah Ganjar sedikit berat,” ucapnya.

Meski begitu, Ujang mengatakan Ganjar memang memiliki peluang. Menurutnya, tinggal bagaimana Ganjar membuat kasusnya itu tidak tersorot lagi.

“Karena kasus tersebut akan menjadi belenggu dan akan jadi mainan lawan politiknya. Peluang ada. Tinggal bagaimana dia menaklukan tantangan kasus tersebut agar tak terblow-up lagi,” ujarnya.

Sebelumnya, Lembaga Survei Indikator Politik merilis survei tokoh yang masuk dalam bursa capres 2024. Ada 15 tokoh, Ganjar Pranowo berada di posisi pertama dengan 18,7%. Kemudian di susul Prabowo Subianto 16,8% dan Anies Baswedan 14,4%.

Survei dilakukan pada 24-30 September 2020. Sebanyak 1.200 responden dipilih secara acak. Metode survei dilakukan dengan wawancara via telepon dengan margin of error sekitar 2,9% dan tingkat kepercayaan 95%. Seluruh responden terdistribusi secara acak dan proporsional.

Menanggapi survei tersebut, PDIP menilai posisi Ganjar berada di atas karena kinerjanya dalam pengendalian Covid-19 di Jawa Tengah.

Namun, Politikus PDIP Eva Sundari, menyebut kerja-kerja Ganjar tersebut tidak bisa dikaitkan dengan Pilpres 2024.

“Ganjar lagi fokus kerja dengan baik dan saya melihat tidak ada urusannya dengan Pilpres. Enggak diorientasikan ke Pilpres, saya yakin Ganjar enggak,” ujar Eva dalam acara diskusi daring, Minggu (25/10).

Lagipula, lanjut Eva, rekomendasi maju ke Capres adalah urusan ‘langitan’ di PDIP. “Ganjar tau lah wilayah di internal PDIP untuk urusan itu, Pilpres itu urusan langitan di PDIP,” ujar dia.

Sementara itu Ganjar sampai saat ini masih enggan menanggapi soal hasil survei.

Ganjar hanya menjawab singkat ketika ditanya soal hasil survei Indikator. Ia mengaku memilih fokus mengurusi libur panjang pekan ini yang berpotensi mendatangkan pemudik.

“Aku tak ngurusi mudik wae, ora indikator (aku mengurusi mudik saja, bukan indikator), ” kata Ganjar usai apel kesiapsiagaan bencana di depan kantornya, Jalan Pahlawan Semarang, Senin (26/10).

Politisi PDIP itu memang masih enggan untuk menanggapi hasil-hasil survei soal Pilpres 2024. Beberapa waktu yang lalu, ketika namanya mencuat dalam survei capres, Ganjar juga menyebut lebih memilih untuk memikirkan penanganan COVID-19 dibanding Pilpres yang masih cukup lama.(dtc/tmp/udi)