Beranda Headline Gerindra Mengaku Tak Tahu Soal Draf Aliansi Ulama

Gerindra Mengaku Tak Tahu Soal Draf Aliansi Ulama

287
BERBAGI
Ahmad Muzani.ist

JATENGPOS.CO.ID, JAKARTA – Gerindra membantah mengetahui adanya draf aliansi dari ulama. Tudingan itu dilontarkan Ketua Umum PBB Yusril Ihza Mahendra mengungkapkan ada ‘draf aliansi’ dari ulama yang tak pernah direspons Ketum Gerindra Prabowo Subianto.

Sekjen Gerindra Ahmad Muzani mengaku tak pernah mengetahui tentang ‘draf aliansi’ itu.

“Saya nggak pernah baca ya. Saya nggak pernah dengar ada draf itu dari Pak Yusril atau dari PBB,” kata Muzani di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (8/11/2018).

Muzani kemudian berbicara soal kondisi koalisi Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Menurut dia, hingga saat ini Gerindra bersama PKS-PAN-Demokrat tak pernah bermasalah.

“Pembicaraan tentang koalisi kita dengan PKS, Demokrat, PAN, lancar-lancar saja nggak ada problem,” ujarnya.

Ia pun masih berharap PBB melabuhkan dukungan untuk Prabowo-Sandi. Namun Muzani menghormati apapun keputusan yang akan diambil Yusril terkait dukungan PBB di Pilpres 2019.

“Kita berharap sih PBB bisa mendukung Pak Prabowo dan Sandi. Tapi kan Pak Yusril ketua umum. Sebagai advokat dia ke sana (Joko Widodo-Ma’ruf Amin), tapi partai kesini kan ya agak ini juga,” tutur Muzani.

“Tapi sekali lagi persoalan ini buat saya sudah selesai ketika Pak Yusril sudah memutuskan ke sana. Tidak perlu ada lagi yang harus dijelaskan panjang lebar,” imbuh dia.

Yusril menyebut koalisi yang dibangun kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno tidak jelas formatnya. Dia lalu bicara soal ‘draf aliansi’ dari ulama yang tak direspons Prabowo.

Yusril mengungkit ‘draf aliansi’ itu guna menanggapi pernyataan Ketua DPP Partai Gerindra Habiburokhman yang mempertanyakan pernyataannya soal pemilu di Indonesia dan di Malaysia. Menurutnya, wajar saja dirinya berbicara tentang koalisi Prabowo dan membandingkannya dengan pemilu di Malaysia.

“Tidak pernah saya menyamakannya, tetapi dalam hal membentuk ‘koalisi’ (yang sebenarnya tidak ada dalam sistem presidensial) perbandingan dengan Malaysia itu akan banyak membantu dalam menyusun ‘koalisi’ dalam pemilu serentak di Indonesia,” kata Yusril.

BERBAGI