Beranda Hiburan Gubernur Jawa Tengah Jadi Dosen Akpol di Film Layar Lebar Sang Prawira

Gubernur Jawa Tengah Jadi Dosen Akpol di Film Layar Lebar Sang Prawira

83

JATENGPOS.CO.ID, Semarang – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, mendapat peran  sebagai dosen Akpol berpangkat Kombes dan mengajar mata kuliah Pancasila di tingkat IV, dalam film layar lebar berjudul Sang Prawira

Film besutan sutradara Ponti Gea yang akan tayang di bioskop XXI 1 Oktober 2019 mendatang. Nantinya, akan dibintangi 95% personel anggota Polda Sumatera Utara dan bintang ternama dari Jakarta Anggika Bolsterli itu.

“Bapak saya itu dulu mengharapkan ada anaknya yang menjadi polisi. Harapan itu ditujukan kepada saya. Kalau jadi polisi angkatan 90, mungkin sekarang berpangkat Kombes atau bintang satu. Akhirnya saya menjadi polisi, tapi di film,” kata Ganjar Rabu (10/7/2019).

Dalam adegan film, Ganjar mengajar di ruang kelas dan mengenakan seragam dinas kepolisian berpangkat Kombes. Dia menjelaskan tentang syarat sebuah negara besar itu memiliki energi, pangan, mineral, laut dan rakyat yang banyak.

“Tidak banyak negara yang seperti itu. Coba, sebutkan negara besar itu mana saja,” kata Ganjar kepada taruna dan taruni.

Tiga taruna yang berasal dari Medan, Sunda dan Jawa menjawab tiga nama negara. India, Brazil dan Indonesia.

“Ya, Indonesia. Negeri ini akan makmur dan maju di masa depan. Dan di pundak kalian semua, negeri ini akan berkembang,” tegasnya.

Usai syuting, politisi PDI Perjuangan yang juga mantan anggota DPR RI itu meminta kepada para taruna dan taruni untuk tidak pernah melakukan pelanggaran terhadap aturan.

Sementara itu, sutradara Sang Prawira Ponti Gea mengatakan, film yang rencananya berdurasi 100 menit itu bercerita tentang perjalanan seorang anak desa dari pinggiran Danau Toba yang bercita-cita jadi polisi.

Selain melibatkan Ganjar Pranowo sebagai pemain, dirinya juga mengajak Bripka Herman Adi Basuki, operator PLD Sub Bagian Humas Polres Purworejo atau yang dikenal dengan Pak Bhabin Herman dalam akun Polisi Motret di akun Youtube.

“Kenapa kami melibatkan Bapak Gubernur Jateng, karena kami ingin menunjukkan kerjasama yang kuat antara kepolisian dengan pemerintah,” ujarnya.

Ponti menambahkan, film itu menyuguhkan pergulatan sebuah keluarga di mana antara isteri dan suami tidak sepaham dalam merancang masa depan anaknya ketika anaknya duduk di bangku SMA.

Si Ibu, kata Ponti, ingin menuruti kemauan anaknya jadi polisi sementara si bapak lebih condong anaknya bekerja di luar negeri agar dapat menolong keuangan keluarga yang selama ini tergolong miskin.

Ide cerita film lahir dari para pejabat Utama Polda Sumut yang didukung oleh Wakapolda Sumut Brigjen Pol Mardiaz Kusin Dwihananto kemudian diperkaya oleh Kapoldasu Irjen Pol Agus Andrianto, terutama tentang sosok seorang polisi yang berani dan tangguh serta muatan pesan moral pedagogis (strategi pembelajaran) kepada masyarakat.

Film layar lebar ini selain menampilkan profesionalisme polisi dlm menjalankan tugas, juga memperkenalkan berbagai kultur masyarakat dan destinasi wisata serta membangun rasa nasionalisme.

Lokasi syuting mengambil 130 titik dan tersebar di beberapa daerah seperti Karo, Simalungun, Tobasa, humbahas Tanjung Balai, Sibolga, Nias, Medan, Semarang (Akpol) dan Jakarta (Mabes Polri).

Dia mengakui, keinginannya untuk memproduksi sebuah film agar bisa mengobati rasa kerinduan dan cintanya pada kamupung halaman serta memberikan pesan pesan moral, adat istiadat yang kerap dilanggar seiring berjalannya perkembangan zaman. (fid/ntan)