Beranda Sekolah Hebat Opini Guru Guru Harus Mampu Pola Siswa Berpikir Kritis

Guru Harus Mampu Pola Siswa Berpikir Kritis

462
Medi Paryanto,S.Pd SMP N1 Eromoko.Wonogiri
Medi Paryanto,S.Pd SMP N1 Eromoko.Wonogiri

Di banyak negara, berpikir kritis telah menjadi salah satu kompetensi dari tujuan pendidikan, Hal tersebut dilatarbelakangi kajian-kajian yang menunjukkan bahwa berpikir kritis merupakan keterampilan berpikir tingkat tinggi dan telah diketahui berperan dalam perkembangan moral, perkembangan sosial, perkembangan mental, perkembangan kognitif, dan perkembangan sains (Hashemi dkk, 2010). Kemampuan berpikir kritis tersebut seyogyanya dikembangkan sejak dini melalui pembelajaran terutama pembelajaran sains.

Ketrampilan berpikir kritis adalah potensi intelektual yang dapat dikembangkan melalui proses pembelajaran.  Setiap manusia memiliki potensi untuk tumbuh dan berkembang menjadi pemikir yang kritis karena sesungguhnya kegiatan berpikir memiliki hubungan dengan pola pengelolaan diri (self organization) yangada pada setiap mahluk di alam termasuk manusia sendiri. Terdapat suatu anggapan yang penting bagi kita untuk tidak hanya belajar berpikir kritis, tetapi juga mengajarkan berpikir kritis kepada orang lain. Anggapan tersebut sangat penting karena bagi seseorang untuk bisa berhasil di dalam bidang apa pun, dia harus memiliki kecakapan untuk berpikir kritis, dia harus bisa menalar secara induktif dan deduktif, seperti kapan dia melakukan kritik dan mengkonsumsi ide-ide atau saran-saran.

Dapatkah kita melahirkan siswa-siswa yang mampu berpikir kritis atau sebagai pemikir kritis?

Pemikir kritis, biasanya mempunyai ciri-ciri tertentu, misalnya: (1) mau mengakui bahwa informasi dan pengetahuan yang ia miliki masih kurang, salah atau tidak didukung oleh fakta nyata atau bukti dan alasan yang kuat, atau dengan kata lain ia mau mengakui ide orang lain yang lebih rasional, (2) cenderung mengarah pada upaya untuk memecahkan masalah atau mencari solusi, (3) mampu menunjukkan kriteria dalam menganalisis suatu masalah,(4) mampu menjadi pendengar aktif dan memberikan feedback rasinal setelahnya,(5) sabar menahan untuk memberikan komentar atau menilai sebelum memperoleh fakta, data, dan informasi yang jelas dan lengkap untuk mengambil kesimpulan,(6) mau menolak informasi jika tidak didukung oleh argumen, data, fakta yang jelas.

Mengutip pendapat Scriven dan Paul (2007), Filsaime (2008) mengungkapkan bahwa pemikir kritis yang ideal memiliki rasa ingin tahu yang besar, aktual, nalarnya dapat dipercaya, berpikiran terbuka, fleksibel, seimbang dalam mengevaluasi, jujur dalam menghadapi prasangka personal, berhati-hati dalam membuat keputusan, bersedia mempertimbangkan kembali, transparan terhadap isu, cerdas dalam mencari informasi yang relevan, beralasan dalam memilih kriteria, fokus dalam inkuiri, dan gigih dalam mencari temuan.

Peranan kita sebagai guru untuk mengembangkan berpikir kritis dalam diri siswa adalah sebagai pendorong, fasilitator, dan motivator. Berpikir kritis dapat dipelajari dan ditingkatkan bahkan pada usia dewasa. Agar proses berpikir kritis terjadi dalam pembelajaran diperlukan adanya perencanaan yang spesifik pada materi, konstruk, dan kondisi. Materi dalam kurikulum hendaknya disusun secara sistematis agar dapat dengan mudah diasimilasi. Konstruk bertujuan agar siswa dapat membangun struktur kognitifnya. Kondisi dimaksudkan agar siswa belajar sesuai dengan urutan untuk mengembangkan struktur kognitifnya dan menggunakannya dalam memecahkan masalah yang dihadapi masyarakat.

Mengingat pentingnya melatihkan berpikir kritis selama pembelajaran, selayaknyakita memberikan perhatian pada keterampilan tersebut selama pembelajaran karenasiswa atau mahasiswa yang memiliki kemampuan berpikir yang baik, maka baikpula kemampuannya dalam menyusun strategi dan taktik agar dapat meraih kesuksesan dalam persaingan global di masa depan.

Medi Paryanto,S.Pd

SMP N1 Eromoko.Wonogiri