Beranda Sekolah Hebat Opini Guru Guru TIK di tengah Ujian Berbasis Komputer

Guru TIK di tengah Ujian Berbasis Komputer

180
BERBAGI
Entin Dwi Herlina, SE Guru TIK MTs Negeri Bonang Demak
Entin Dwi Herlina, SE Guru TIK MTs Negeri Bonang Demak

JATENGPOS.CO.ID, – Menurut hasil survey Menurut hasil survey Siedoo.com (https://siedoo.com/berita-4965-peringkat-pendidikan-indonesia-dan-budaya-buruknya/), di ASEAN, bidang pendidikan di Indonesia masih belum Berjaya. Dari 10 negara yang ada, Indonesia duduk di peringkat lima. Indonesia masih kalah dari negara terdekat, seperti Malaysia, Singapura ataupun Brunai Darussalam. Sedangkan untuk tingkat dunia, saat ini Indonesia berada di posisi 108 . Secara umum kualitas pendidikan di tanah air berada dibawah Palestina, Samoa dan Mongolia. Hanya sebanyak 44% penduduk yang menuntaskan pendidikan menengah, sementara itu 11% siswa gagal menuntaskan pendidikan alias keluar dari sekolah.

Hal inilah yang mendorong pemerintah untuk menerapkan program ujian berbasis komputer untuk semua jenjang pendidikan menengah di Indonesia. Ujian berbasis computer ini merupakan suatu program pemerintah yang patut kita apresiasi dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia sehingga kualitas pendidikan kita mampu sejajar dengan negara-negara maju lainnya.

Mata pelajaran TIK saat ini dibeberapa sekolah/madrasah sudah tergantikan dengan mata pelajaran prakarya, namun ada juga sekolah/madrasah yang mempertahankan mata pelajaran TIK tetap masuk kelas meskipun dengan format dan durasi waktu pertemuan yang singkat. Mata pelajaran TIK saat ini memiliki format sebagai bimbingan-layanan terhadap peserta didik dan guru/karyawan, sebagai bimbingan-layanan kepada peserta didik diaplikasikan dalam 2  bentuk bimbungan-layanan yaitu bimbingan-layangan klasikal, dimana masih ada jadwal tatap muka dengan alokasi waktu 1 jam pelajaran per minggunya dengan bimbingan-layanan individual, dimana hal ini dilaksanakan diluar jam kegiatan belajar mengajar (KBM). Dilaksanakan apabila ada temuan identifikasi capaian hasil belajar siswa yang masuk katagori belum tuntas.

Dengan kondisi semacam ini ditengah gencarnya tuntutan pemerintah untuk melaksanan ujian berbasis komputer di semua jenjang pendidikan dasar dan menengah dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia secara umum, sebenarnya akan menimbulkan suatu kerancuan, disatu sisi pemerintah menuntut untuk pelaksanaan ujian berbasis komputer yang mana hal itu juga berdampak pada tuntutan kemampuan siswa dalam hal teknologi khususnya komputer, sedangkan di sisi yang lain pemerintah membuat kebijakan bahwa mata pelajaran TIK sudah tidak masuk ke struktur kurikulum yang berlaku.

Untuk sekolah/madrasah yang favorit atau yang berada di lingkungan perkotaan mungkin pelaksanaan ujian berbasis komputer bukan suatu hal yang luar biasa, hal itu karena sekolah/madrasah di lingkungan perkotaan biasanya mempunyai fasilitas fisik yang baik yang mencukupi semua kebutuhan siswa siswinya, ditambah lagi dengan kondisi input siswa yang minat dan kemauan belajarnya cukup tinggi. Tetapi, hal tersebut berbanding terbalik dengan kondisi yang ada di sekolah/madrasah yang berlokasi di pinggiran kota atau bahkan di pelosok atau pedalaman. Umumnya, sekolah/madrasah yang berlokasi di pinggiran mempunyai fasilitas fisik yang kurang atau yang tidak seimbang antara jumlah fasilitas dengan jumlah siswa siswinya, sebagai contoh, 1 unit komputer bisa dipakai praktek untuk 2-3 siswa. Dengan perbandingan seperti itu rasanya sangat naïf kalau kita menuntut persamaan kualitas antara sekolah berfasilitas lengkap dengan yang mempunyai fasilitas minim. Kondisi demikian masih diperparah lagi dengan minat dan kemauan belajar yang rendah dari input siswanya dan kurangnya kepedulian orang tua siswa terhadap pendidikan anaknya.

Di kondisi seperti inilah, kemampuan, kreativitas dan inovasi guru TIK sangat diperlukan untuk meningkatkan kemampuan dan rasa percaya diri siswa bahwa mereka sanggup dan siap untuk mengikuti semua proses pelaksanaan ujian berbasis komputer. Namun, sekali lagi, guru TIK juga tidak akan mampu mewujudkan semua harapan itu tanpa dukungan dari semua elemen sekolah/madrasah yang meliputi guru/karyawan, komite dan wali murid.

Hal yang paling mendasar yang harus dipenuhi bagi sekolah/madrasah yang baru mau akan melaksanakan uian berbasis komputer adalah kelengkapan fasilitas IT. Sekolah/madrasah harus menyediakan komputer sebagai sarana utama pelaksaan ujian berbasis komputer sesuai dengan jumlah siswa atau minimal perbandingan 1 unit komputer untuk 2 orang siswa. Untuk melengkapi kebutuhan ini, sekolah/madrasah tidak bisa hanya mengandalkan anggaran pemerintah saja, tetapi hal ini sangat membutuhkan kerjasama dan partisipasi aktif dari guru/karyawan, komite dan wali murid demi suksesnya pelaksanaan ujian berbasis komputer yang sudah menjadi program pemerintah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia secara umum.

Hal berikutnya yang menjadi perhatian untuk mensukseskan ujian berbasis komputer adalah bagaimana usaha meningkatkan kualitas sumber daya manusianya, baik itu guru maupun siswa siswinya. Guru terutama guru TIK untuk menyiapkan siswa siswinya lebih melek IT lagi. Dengan alokasi yang hanya 1JP/ minggunya atau bahkan tidak ada jam tatap muka dikelas, guru TIK dituntut lebih kreatif dan inovatif serta mampu bekerja sama dengan guru mata pelajaran lainnya. Untuk siswa, kita dapat bekerjasama dengan guru mata pelajaran lain dengan cara mengintegrasikan pembelajaran yang dilaksanakan dengan memanfaatkan fasilitas IT sehingga siswa akan lebih termotivasi yang akan meningkatkan minat belajarnya dan jika itu terjadi maka tujuan pembelajaran yang diharapkan akan berhasil.

Disamping itu, guru TIK juga bisa memberikan bimbingan kepada siswa siswinya diluar jam KBM untuk mengoptimalkan kemampuan siswa siswinya dalam penguasaan IT khususnya kemampuan pengoperasian komputer. Siswa juga harus di motivasi secara terus menerus untuk menumbuhkan rasa percaya diri siswa bahwa mereka mampu dan siap mengikuti semua prosess pelaksanaan ujian berbasis komputer dari awal samapi akhir.

Entin Dwi Herlina, SE
Guru TIK MTs Negeri Bonang Demak
BERBAGI