Beranda Ekonomi Harga Masih Tinggi, Disdag Minta Pedagang Samakan Harga Bawang

Harga Masih Tinggi, Disdag Minta Pedagang Samakan Harga Bawang

70

JATENGPOS.CO.ID, Semarang – Jelang Hari Raya Lebaran,  Dinas Perdagangan Kota Semarang melakukan pantauan ke sejumlah pasar, baik pasar modern maupun pasar tradisional untuk melihat harga komoditas bahan pokok.

Dipimpin langsung oleh Kepala Disdag Fajar Purwoto, tim langsung bergerak ke sejumlah tempat seperti Pasar Bulu, Superindo, Giant, dan Pasar Karangayu. Tak lupa dalam giat tersebut turut serta anggota BPOM dan satgas pangan.

Fajar mengatakan, berdasarkan dari hasil evaluasi di pasar tradisional untuk bawang merah harganya masih Rp 30.000 dan bawang putih kating Rp 40.000, namun di pasar modern harganya masih tinggi kisaran Rp 60.000 ke atas.

“Itu harganya masih tinggi ya, padahal kami sudah memerintahkan untuk menurunkan harganya,” katanya mau .

Fajar menjelaskan, berdasarkan instruksi Menteri Perdagangan dan Asosiasi Pasar Seluruh Indonesia (Asparindo) kisaran harga bawang merah seharusnya berada diharga Rp 30.000 dan bawang putih kating diharga Rp 40.000.

“Saya minta buat pedagang di pasar-pasar baik yang modern atau tradisional diminta untuk menyamakan harga standar untuk komoditas tersebut,” tegasnya

Ia menegaskan, pihaknya akan melakukan tinjauan kembali lagi, dan akan mengajak pihak polrestabes untuk ikut serta memantau harga bawang putih di pasaran

“Nanti kalo kami masih menemukan harga bawang masih tinggi maka akan diambil tindakan. Karena orang yang biasa datang ke mall (pasar modern) taunya harganya mahal terus, padahal kami sudah maksimal menormalkan harga dengan menggelontorkan stok bawang,” tegasnya.

Dalam upaya menjaga stabilitas harga bawang, Fajar mengatakan, pihak Disdag hingga kini sudah menambah suply stok bawang merah dan bawang putih kating hingga 85 ton yang digelontorkan di pasar-pasar sehingga harga pasar yang terjadi menjadi normal.

Selain memantau komoditas bawang, dalam kesempatan tersebut Disdag juga melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah komoditas bahan pokok lainnya seperti telur dan makanan kaleng.

“Untuk makanan kaleng kita cek ternyata masih layak konsumsi, sehingga masyarakat dipastikan aman mengkonsumsi makanan yang ada di pasar tradisional dan modern,” tandasnya. (fid/ntan)