Beranda Hukum & Kriminal Heboh Video Oknum Polisi Tampar Wanita, Ini Pengakuan Bripka Riyanto

Heboh Video Oknum Polisi Tampar Wanita, Ini Pengakuan Bripka Riyanto

511
: Bripka Riyanto menyampaikan permintaan maaf saat konfrensi pers di Mapolres Blora, Rabu (2/5). FOTO:FEBRIAN CHANDRA/BLORA POS

JATENGPOS.CO.ID. BLORA- Video oknum polisi menampar seorang wanita beredar luas di media sosial dan menghebohkan warganet. Terlihat dalam video berdurasi 30 detik tersebut  seorang oknum polisi menampar seorang perempuan di atas panggung hiburan hingga jatuh tersungkur.

Diduga korban saat itu jatuh pingsan. Terlihat pula balita yang berada di sebelah korban yang melihat kejadian itu langsung menangis histeris.

Video tersebut diunggah oleh akun media sosial (medsos) Instagram @thesar_ganjar_shaputra pada, Selasa (1/5) malam. Dalam sekejap sontak menjadi viral dan mendapat berbagai tanggapan dari para warganet. Diketahui wanita tersebut bernama Sulastri warga Desa Sendangrejo, Kecamatan Bogorejo, Blora.

Kapolres Blora AKBP Saptono, S.I.K, M.H,  membenarkan kejadian tersebut berada di wilayah hukumnya. Dalam press release yang digelar di Mapolres Blora, AKBP Saptono mengungkapkan, kejadian tersebut terjadi pada saat pentas musik dangdut di lapangan Desa Gayam, Kecamatan Bogorejo, Selasa (1/5) sore memeriahkan acara sedekah bumi.

Kapolres kembali mengatakan, dalam video yang menampilkan aksi kekerasan itu, dilakukan oleh oknum anggotanya bernama Bripka Riyanto yang bertugas di Polsek Bogorejo. Sedangkan korban bernama Sulastri yang diduga tengah mengidap penyakit gangguan penyakit jiwa, tak lain adalah keponakan dari Bripka Riyanto sendiri.

“Bripka Riyanto adalah paman dari Sulastri. Jadi dia (Riyanto, red) adalah adik no 8 dari ibunya Sulastri,” jelas Kapolres.

Lebih jauh Saptono menuturkan, Bripka Riyanto yang juga masih tetangga dari korban Sulastri. Dia terpaksa melakukan kekerasan tersebut lantaran malu terhadap ulah Sulastri yang sedang berada di atas panggung borjoget dan diketahui dalam kondisi mabuk.

“Jadi korban saat itu di atas panggung dangdut dan kondisinya dalam keadaan mabuk. Mungkin malu karena Sulastri juga keponakannya sendiri disuruhlah untuk turun. Karena tidak mau turun, dia emosi dan jengkel dilakukanlah pemukulan tersebut,” beber Saptono.Kendati demikian, Saptono menyayangkan atas aksi ulah koboi yang telah dilakukan oleh oknum anggotanya tersebut.  Menurutnya, dengan melakukan aksi tersebut di hadapan umum apalagi mengenakan seragam, sangat tidak dibenarkan dan aksi tersebut jelas sangat bertentangan dengan visi misi serta tugas pokok dari Kepolisian.

“Apapun namanya jelas tidak boleh itu memukul, sangsi disiplin akan kita berlakukan kepada yang bersangkutan. Polisi itu harus melayani, melindungi dan mengayomi masyarakat,” tegas Kapolres.

Sementara itu, Ibu kandung korban Rakiyah dan 2 orang kakak kandung korban juga dihadirkan dalam acara pres srilis. Salah satu kakak korban bernama Punari juga menambahkan, dari keluarga sebenarnya sudah menitipkan Sulastri kepada Riyanto.

“Kami memang menitipkan Sulastri kepada pak Riyanto, maksudnya ya kalau berbuat onar kami minta untuk diamankan, karena keluarga sudah tidak sanggup mengatasi ulahnya,” ujar Punari.

Punari kembali mengungkapkan, korban adalah ibu 2 orang anak. Korban sudah 3 bulan belakangan ini, diduga mengalami gangguan kejiwaan karena tengah menghadapi proses perceraian dengan suaminya.

“Sebelumnya sih tidak seperti itu, mas, sekarang ini tiba-tiba dia mengamuk sendiri dan ngancam-ngancam. Pernah ngancam ibu, katanya ibu mau dibunuh, lha kami kan jadi takut. Oleh karena itu, kami titip ke pak Riyanto kalau Sulastri bikin ulah tolong di amankan saja,” pungkasnya.

Terpisah, Bripka Riyanto mengatakan dia mengaku lepas kontrol dan menampar keponakannya itu hanya sekali. Hal tersebut dia lakukan lantaran keponakannya tersebut telah berbuat hal yang memalukan, yakni berjoget erotis dan mabuk.

“Saya suruh pulang, kasihan anaknya yang dibawa diatas panggung. Tapi dia ngeyel,” kata Bripka Riyanto yang kebetulan bertugas melakukan keamanan acara dangdutan itu.

Riyanto juga telah menyesali segala perbuatannya. Apalagi hal tersebut dia lakukan dengan menggunakan baju dinas. “Saya menyesal dan saya mohon maaf kepada masyarakat. Dan masalah ini sebetulnya adalah masalah keluarga. Saya juga minta maaf kepada institusi Polri,” sesalnya. (feb/muz)