Beranda Opini Ibu, Kunci Sukses Pendikel

Ibu, Kunci Sukses Pendikel

115
BERBAGI

Ibu, Kunci Sukses Pendikel
Oleh:

Tukijo, S.Pd
Guru SMP 17 Semarang

JATENGPOS.CO.ID.Begitu mulianya wanita, sehingga agamapun menempatkan derajat wanita pada strata yang harus dihormati. Selama ini, subjek ibu terlupakan sejenak, di tengah hirup pikuk aktifitas kehidupan kita. Penulis mencoba menggugah marwah ibu dalam kontek pendidikan. Pendidikan sejati, tidak akan pernah mengabaikan peran ibu dalam segala dinamikanya. Mengapa?
Pembicaraan sosok ibu dalam segala bentuknya tidak akan pernah selesai di meja seminar, dan komunikasi ujaran lisan. Ibu lebih berada pada strata sosial yang memiliki peran edukatif, spirit, dan motivasi hidup bagi keluarganya. Maka, sosook ibu tidak haram kita sebut sebagai madrasah tarbiyah (sekolah yang menanamkan pendidikan).
Peran wanita khususnya ibu, tidak bisa dianggap sebelah mata. Termasuk dalam berbagai ranah yang menempatkan wanita sebagai penggerak, pendidik, dan motivator. Bahkan tak jarang banyak sosok ibu menjadi inspirator bagi anak-anaknya. Ini sebenarnya yang perlu kita pikirkan bersama, mengenai fungsi dan peran ibu dalam dinamika hidup.
Hari Ibu di Indonesia dirayakan secara nasional pada tanggal 22 Desember. Tanggal ini diresmikan oleh Presiden Soekarno di bawah Dekret Presiden No. 316 thn. 1953, pada ulang tahun ke-25 Kongres Perempuan Indonesia 1928. Tanggal tersebut dipilih untuk merayakan semangat wanita Indonesia dan untuk meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara. Kini, arti Hari Ibu telah banyak berubah, dimana hari tersebut kini diperingati dengan menyatakan rasa cinta terhadap kaum ibu. Orang-orang saling bertukar hadiah dan menyelenggarakan berbagai acara dan kompetisi, seperti lomba memasak dan memakai kebaya.
Sejalan dengan upaya tersebut, maka mari kita tempatkan ibu dalam subjek yang sebenarnya. Kemudian kita selaraskan dengan permendikbud 30 tahun 2017 tentang pelibatan keluarga dalam pendidikan. Atau sepakat disebut pendidikan keluarga (Pendikel). Peran pendikel diharapkan mampu mendobrak paradigma lama pendidikan kita. Keluarga menjadi tri matra pendidikan yang memiliki peran strategis.
Dalam proses pendidikan formal, keluarga menjadi bagian yang cukup penting. Hal yang mustahil jika keluarga diabaikan dalam suksesi pendidikan nasional saat ini. Maka sejalan dengan regulasi pendikel tersebut, kita pantas menghargai peran kelurga. Peran keluarga selama ini juga banyak melibatkan ibu. Ibu menjadi kunci penggerak pendidikan di keluarga. Karena asumsi masyarakat kita masih meyakini dan menasbihkan bahwa ibu adalah sosok yang identik dengan ; memasak, berdandan, dan momong anak.
Peran utama ibu dalam kancah pendidikan kita bia lebih maksimal jika peran perempuan dalam hal ini ibu, diberi space yang luas dengan batas tertentu. Tentu peran luas ibu dalam ranah pendidikan keluarga harus bekerja sama dengan sosok ayah di keluarga. Pendidikan tidak bisa lepas dari peran keduanya. Maka bisa diyakini bahwa komponen pendikel khususnya ibu menjadi peran penting.
Kita sepakat bahwa nilai-nilai pendidikan keluarga harus diperankan dan dimiliki ibu. Nilai pengetahuan harus dimiliki sosok ibu dalam perannya sebagai pendidik bagi anak-anaknya. Ibu perlu belajar dari berbagai sumber yang mencerminkan dinamika pembelajaran nilai dan kultur. Hal tersebut diperlukan, karena kultur dan nilai menjadi komponen penting pendidikan anak dalam keluarga.
Seiring dengan reaktualisasi ibu dalam momentum hari ibu, maka para pakar sepakat mencatat fungsi dan peran ibu dalam keluarga, pertama sebagai manajer keluarga, sebagai pendidik bagi anak-anaknya, psikolog bagi anak dan keluarga, sebagai perawat yang paling peduli bagi kesehatan keluarganya, sebagai koki yang setiap saat menyiapkan menu makanan sehat bagi keluarganya, sebagai pelindung, ibu sebagai panutan. Ibu sebagai panutan bagi keluarga dan anak-anaknya mulai dari dandannya sampai perilakunya. Kemudian ibu sebagai akuntan keluarga, sebagai motivatir keluarga, dokter keluarga, dan sebagai fashion desaigner.
Begitu banyaknya peran dan fungsi ibu dalam keseharian kita, khusunya dalam pendidikan keluarga. Maka, benar guru pertama dan utama adalah ibu dalam keluarga. Persoalannya, seberapa besar negara hadir dalam menghargai peran ibu-ibu tersebut?Negara tak boleh abai dengan eksistensi ibu. Jika pendikel ingin berhasil, maka pemerintah hadir dan perlu memaksimalkan perannya untuk menggugah semangat generasi muda. Semangat untuk memartabatkan ibu sesuai peran dan fungsinya, khususnya dalam dunia pendidikan. Jika peran ibu dalam keluarga, dan dalam pendidikan di sekolah dimaksimalkan, ke depan target pendidikan karakter (PPK) dapat berhasil. (*/jan)