Beranda Travelling Kuliner Ini Lhoo.. Kue Pantat, Kuliner Khas Lereng Gunung

Ini Lhoo.. Kue Pantat, Kuliner Khas Lereng Gunung

149
BERBAGI
Ponirah siap menyuguhkan kue pantat. FOTO : EDO SULIHUN/JATENGPOS.CO.ID

JATENGPOS.CO.ID, BATANG – Kue Pantat alias Getuk Bokong. Dari namanya saja, kuliner yang satu ini sangat unik.  Seperti apa ?

Masyarakat Jawa Tengah mungkin baru kali ini mendengar nama Getut Pantat. Maklum, kuliner ini  banyak  berkembang di lereng gunung Prahu Desa Wonosari Kecamatan Bawang. Bagi  warga Kabupaten Batang sendiri, kue pantat tak begitu akrab.  Tapi bagi pasutri Sunaryo (51) dan Ponirah (41) dan warga Wonosari , Kue Pantat sudah sangat akrab. Maklum sudah  puluhan tahun pasutri ini membuat makanan khas, Getuk Bokong  warisan  nenek moyangnya.

Kuliner khas wong ndeso ini dibuat dengan dasar singkong. Produksinya   cukup memakan waktu dan tenaga. Mula mula singkong harus dikupas kulitnya dan dicuci dengan bersih. Selanjutnya singkong  diparut dan dihaluskan dengan di giling. Kemudian,  airnya dibuang dengan cara diperas. Setelah itu,  singkong yang sudah halus dan kering di rebus  selama 15 menit. Untuk getuk goreng yang berwarna coklat saat direbus adonanya diberi garam secukupnya dan gula aren,  Kalau yang warna putih hanya di kasih garam saja.

Tak hanya itu, bahan bahan  harus ditumbuk agar tidak menggumpal dan untuk meratakan rasa manisnya serta garamnya. Lalu baru proses pencetakan menjadi gethuk bokong dengan menggunkan alat cetak baskom. “Warga  menamakan gethuk bokong atau getuk gaplek, karena  bentuknya yang menyerupai bokong,” terang Sunaryo.

Gethuk dengan diameter 25 cm yang memiliki ketebalan 3 cm biasa di jual di pasar – pasar Kecamatan,  sampai ke pasar Dieng Kabupaten Banjaregara dengan di patok harga hanya Rp 5 ribu sampai Rp 12 ribu. ” Kita biasa jual ke Pasar Bawang dan pasar Dieng Kabupaten Banjarnegara dan Alhamdulillah laris manis habis terjual,” tukas Sunaryo. Sedangkan Camat Bawang Yarsono mengatakan kuliner makanan gethuk pantat atau  gaplek menjadi makanan khas Bawang. Biasanya di jual di pasar-pasar pada hari tertentu. “Biasanya  hari pasaran paing dan wage,” tukas Yarsono. Gethuk bokong ini rasanya manis, gurih, lembut dilidah. Cocok di sajikan dengan kopi  di pagi atau petang hari. (edo/dik)