Beranda Sekolah Hebat Opini Guru Jarimatika, Tingkatkan Kemampuan Berhitung Penjumlahan dan Pengurangan

Jarimatika, Tingkatkan Kemampuan Berhitung Penjumlahan dan Pengurangan

5
Rofiqoh, S.Pd.SD SDN Banjarejo Kec. Kaliangkrik Kab. Magelang

Matematika merupakan suatu pelajaran yang ada di setiap jenjang pendidikan di Indonesia mulai dari SD sampai sengan SMA. Dilihat dari kenyataan sehari-hari di SD Banjarejo ketergantungan siswa terhadap guru dalam pembelajaran sudah melekat dalam diri siswa. terlihat siswa belum menunjukkan motivasi belajar yang tinggi. Mereka tidak terlihat aktif dalam pembelajaran, hanya mencatat dan mendengarkan penjelasan guru sehingga yang diperoleh selama beberapa jam di kelas hanya yang disampaikan guru ketika mengajar, selebihnya tidak memperoleh pengayaan dari buku-buku referensi yang ada. Metode pembelajaran yang digunakan guru masih bersifat ortodok bila berhubungan dengan metode berhitung.

Demikian pula yang terlihat dari kondisi pembelajaran siswa kelas 1 di SDN Banjarejo Kec. Kaliangkrik Kab. Magelang dijumpai hambatan. Hambatan tersebut mengacu dari hasil observasi yang dilakukan penulis selama satu semester pada semester gasal tahun pelajaran 2019/2020. Hambatan pembelajan terdapat dalam muatan pembelajaran matematika, khususnya penjumlahan dan pengurangan terutama dalam nilai belasan dan puluhan. . Data awal yang diperoleh dari nilai ulangan harian dengan rata-rata kelas hanya 53,63 jauh dari KKM yang ditargetkan mencapai 75. Kondisi pembelajaran ini tentu memprihatinkan mengingat penjumlahan merupakan salah satu materi dasar yang berkesinabungan dengan materi matematika selanjutnya.

Matematika sendiri berisi lambang, rumus dan membutuhkan pemahaman serta ketelitian dalam memecahkan soal. Apabila siswa menyukai pembelajaran ini serra memiliki pemahaman yang baik dalam mengerjakan soal, maka siswa akan memiliki penalaran dan logika yang baik. Matematika melatih siswa untuk berpikir kritis dan aktif (Ahmad Susanto, 2014 : 183). Untuk permasalahan yang penulis hadapi, penulis mencoba berbagai model, strategi, serta metode pembelajaran merupakan salah satu cara untuk membuat pembelajaran menjadi aktif, efektif, dan mencapai tujuan pembelajaran. Salah satu dari strategi pembelajaran ini adalah problem based learning dengan menggunakan metode jarimatika.

Jarimatika adalah “suatu metode berhitung yang memanfaatkan jari-jari tangan sebagai alat bantu untuk proses berhitung” (Septi Peni Wulandari, 2007:17) Jarimatika adalah cara berhitung operasi kali, bagi, tambah dan kurang dengan menggunakan tangan. Jarimatika merupakan suatu metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran khususnya dalam berhitung sedangkan media yang digunakan adalah jari-jari tangan untuk memudahkan pemahaman siswa dalam berpikir konkret.

Ada beberapa tahapan sebelum mempelajari jarimatika agar anak-anak benar paham terhadap apa yang dipelajarinya dan perkembangannya dapat terpantau. Berdasarkan pendapat Septi Peni Wulandari (2007:20) tahapan mempelajari jarimatika sebagai berikut : sebelum mempelajari matematika, siswa terlebih dahulu perlu memahami angka atau lambang bilangan, setelah itu siswa diberikan wawasan tentang konsep penjumlahan dan pengurangan dengan menggunakan benda-benda konkret, sebelumnya  memulai pembelajaran siswa diajak bernyanyi mengenal lambang-lambang yang digunakan di dalam jarimatika (pengenalannya dengan praktek langsung, dapat dengan senam gembira mendemonstrasikan formasi jari tangan yang digunakan dalam jarimatika), ajak siswa terus bergembira jangan merepotkan siswa untuk menghafal lambang-lambang jarimatika, siswa mencoba melakukan operasi penjumlahan dan pengurangan sederhana dengan menggunkan jarimatika, mengulang-ulang proses berhitung dengan jarimatika sampai menguasai.

Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan 2 siklus dengan menerapkan metode jarimatika dinilai mampu meningkatkan kemampuan berhitung penjumlaha dan pengurangan. Hal ini terbukti pada kondisi awal sebelum dilaksanakan tindakan nilai rata-ratanya 53,63 dan setelah diadakan 2 siklus Tindakan nilai rata-ratanya naik menjadi 93,18, dengan demikian secara klasikal pembelajaran telah mencapai ketuntasan belajar.