Beranda Jateng Jembatan Timbang Masih Dibutuhkan

Jembatan Timbang Masih Dibutuhkan

BERBAGI
PANTAU MUDIK. Rukma Setyabudi dan Asfirlah Harisanto saat Roadshow Peninjauan Persiapan Arus Mudik Lebaran 2018, Selasa (22/5/2018).

JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – Ketua DPRD Jateng Rukma Setyabudi mengatakan, jembatan timbang masih dibutuhkan guna mengawasi kendaraan khususnya truk angkutan barang yang melintas. Kelebihan tonase kendaraan seringkali memicu kecelakaan di jalan raya.

“Kalau tanpa jembatan timbang, bagaimana kita bias memantau kendaraan kelebihan tonase atau tidak. Perlu ada ketegasan, kebijakan pusat yang sama di setiap daerah harusnya bisa. Saat ini di Jawa Tengah baru dua yang berfungsi, ini jelas tidak memadahi,” ungkapnya dalam Kegiatan Roadshow Peninjauan Persiapan Arus Mudik Lebaran 2018, Selasa (22/5/2018).

Dalam FGD yang dilaksanakan  di atas gerbong KA Kaligung itu, Ketua DPRD Jateng menyatakan fenomena truk melebihi muatan yang diperbolehkan banyak dilanggar. Seperti kasus terbaru, kecelakaan truk pengangkut gula pasir di Brebes yang menewaskan 11 orang dikarenakan kelebihan muatan. Berat angkutnya sampai 36 ton sedangkan kelayakannya hanya 20 ton.

“Kami berharap pengawasan angkutan barang ditingkatkan. Aparat berwenang diminta melakukan pengawasan dan penindakan jika memamg diperlukan,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Komisi C DPRD Jateng, Asfirla Harisanto mengungkapkan saat ini kendaraan pengangkut nyaris seperti mesin pembunuh di jalanan. Perlu ada pengawasan yang ketat dari Dinas Perhubungan. Di antaranya adalah uji kelayakan kendaraan berupa uji kir perlu dilakukan dengan cermat dan ketat.

“Petugas uji kir lebih menekankan pada aspek adminidtrasi kendaraan, sementara fisik kendaraan yang seharusnya jadi prioritas justru dilihat sekilas saja. Perlu perubahan mental petugas kir yang ada di dinas perhubungan kabupaten-kota,” saran Asfirla.

Kabid Angkutan Dinas Perhubungan Jawa Tengah, Ginaryo, mengakui sekarang ini selain kir tidak ada pengawasan lanjutan. Jembatan timbang yang semula jadi alat kontrol muatan, sekarang juga terbatas perannya.

Ginaryo juga melihat ada masalah lain di angkutan barang, yaitu tidak adanya pembinaan yang memadai terhadap sopir angkutan barang. “Nyaris tidak ada pembinaan sopir angkutan barang secara memadai,” tukasnya. (adv)