Beranda Sekolah Hebat Opini Guru Jigsaw Tingkatkan Belajar IPA

Jigsaw Tingkatkan Belajar IPA

69
BERBAGI
Eva Sulistiyani SD Negeri 2 Tegalsari, Kedu Temanggung
Eva Sulistiyani SD Negeri 2 Tegalsari, Kedu Temanggung

Perkembangan ilmu dan kemajuan teknologi memerlukan sumber daya manusia yang berkualitas agar mampu bersaing dengan bangsa lain. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia merupakan tujuan setiap bangsa dalam menghadapi tantangan kemajuan zaman. Sekolah dasar sebagai tahapan pertama pendidikan, seyogyanya dapat memberikan landasan yang kuat untuk tingkat selanjutnya. Sekolah dasar harus memberikan bekal kemampuan dan keterampilan dasar strategis sejak kelas awal. Upaya meningkatkan mutu pendidikan dasar ini tidak dapat ditunda-tunda lagi terutama dalam peningkatan mutu proses pembelajaran pendidikan dasar di era globalisasi.

Proses pembelajaran IPA yang diterapkan di sekolah dasar khususnya di SD Negeri 2 Tegalsari, Kedu siswa cenderung hanya mendengarkan penjelasan guru yang harus dihafalkan, sehingga siswa menjadi malas dan bosan. Mata pelajaran IPA di SD merupakan kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi, dimaksudkan untuk mengenal, menyikapi, dan mengapresiasi ilmu pengetahuan dan teknologi, serta menanamkan kebiasaan berpikir dan berperilaku ilmiah yang kritis, kreatif dan mandiri Guru seharusnya bisa menumbuhkan semangat untuk belajar di dalam kelas. Terjadinya komunikasi yang intensif antara siswa dengan guru akan meningkatkan kualitas proses pembelajaran.

Menurut Slameto (2003:2) belajar merupakan proses usaha yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Belajar dilakukan untuk mengusahakan adanya perubahan individu yang belajar. Perubahan perilaku itu merupakan perolehan yang menjadi hasil belajar. Hasil belajar merupakan perubahan pemahaman, pengetahuan dan perilaku yang terjadi setelah mengikuti proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan. Salah satu cara mengatasinya menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw. Model ini merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang mendorong siswa aktif dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran untuk mencapai prestasi yang maksimal.

Menurut Isjoni (2013:20) model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw itu merupakan model yang menerapkan metode diskusi dalam dua tahap. Diskusi tahap pertama, siswa dibentuk kelompok sesuai dengan karakteristik materi. Kelompok ini disebut kelompok asal yang pada awalnya masing-masing anggota kelompoknya bekerja secara individual sesuai tugas yang diberikan. Diskusi kedua dibentuk kelompok ahli. Setiap siswa dari kelompok asal yang membahas materi yang sama berkumpul dalam satu kelompok untuk merumuskan materi yang ditugaskan. Kelompok ahli bertugas memberi penjelasan pada kelompok asal.

Langkah dalam pembelajaran kooperatif tipe Jigwsaw materi IPA tentang sistem tata surya diawali dengan pembentukan kelompok dan tiap kelompok diberi tugas untuk mengerjakan yang berbeda. Satu orang dalam kelompok diberi bagian materi yang ditugaskan. Anggota dari kelompok yang berbeda yang telah mempelajari bagian/sub bab (materi) yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab (materi) mereka. Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli, tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu kelompok mereka tentang sub bab/materi yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi. Kemudian langkah terakhir, guru memberikan evaluasi dan reward (penghargaan) dan penutup.

Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw ini memungkinkan siswa untuk mengembangkan pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan secara penuh dalam suasana belajar yang terbuka dan demokratis. Dengan pembelajaran Jigsaw mendorong siswa untuk lebih aktif, kreatif dalam berfikir serta bertanggungjawab terhadap proses belajar yang dilakukannya dan mendorong siswa untuk berpikir kritis dan dinamis. Model ini juga memberi kesempatan setiap siswa untuk menerapkan dan mengembangkan ide yang dimiliki untuk menjelaskan materi yang dipelajari kepada siswa lain dalam kelompok belajar yang telah dibentuk oleh guru sehingga siswa akan tertarik untuk belajar IPA.

Eva Sulistiyani
SD Negeri 2 Tegalsari, Kedu Temanggung

BERBAGI