Beranda Nasional Karding Ajak Alumni Sumbang Ikan ke Korban Gempa

Karding Ajak Alumni Sumbang Ikan ke Korban Gempa

1493
BERBAGI
Rektor Undip (ketiga dari kanan) bersama Ketua Umum Kerapu Abdul Kadir Karding (kedua dari kanan) menerima penghargaan Rekor MURI untuk ikan cakalang yang diolah menggunakan asap cair yang disusun sepanjang 50 meter di kampus Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Undip, Sabtu (13/10).

JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – Sebanyak 333 ekor ikan cakalang yang diolah dengan asap cair berhasil memecahkan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).

Ratusan Ikan ini, disusun berjajar sepanjang 50 meter di kampus Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) universitas Diponegoro Semarang, Sabtu (13/10).

Penghargaan tersebut menandai 50 tahun berdirinya Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Undip. “Panjang ikan yang dijejer adalah 50 meter sebagaimana peringatan emas berdirinya FPIK Undip,” terang Sri Widayati, eksekutif manajer MURI.

Dikatakan, ada kriteria agar sesuatu bisa tercatat di Rekor MURI. Yakni Paling, Pertama, Unik, Langka. “Pengasapan Ikan dengan asap cair merupakan yang pertama kali,” ujarnya.

Pemberian Rekor MURI tersebut merupakan rangkaian puncak dari Gebyar Kerapu. Kerapu yang merupakan singkatan dari Keluarga Alumni Perikanan Undip, merupakan organisasi alumni yang hingga saat ini sudah berusia 50 tahun, atau memperingati Dies Emas.

Ketua Umum Kerapu Abdul Kadir Karding mengatakan, asap cair merupakan hasil temuan yang dapat mendukung bisnis alumni. Menurutnya, temuan tersebut akan ditawarkan kepada sejumlah perusahaan yang bergerak di bidang perikanan. Ia berharap temuan ini bisa membantu di bidang perikanan. juga perekonomian.

“Kita akan bangun kerjasama dengan kelompok-kelompok yang memiliki bisnis bidang perikanan. Kalau bagus akan kita sampaikan ke Pemerintah agar menjadi satu andalan,” kata dia.

Dengan kemampuan mengawetkan lebih lama ini, ia juga berencana untuk membawa ikan asap cair ini untuk membantu korban bencana di Palu atas nama Undip. “Nanti kita akan menggerakkan alumni supaya dapat menyumbangkan ikan asap ini untuk korban gempa. Mereka butuh nutrisi dan olahan ikan dengan asap cair akan membantu pemulihan kesehatan korban,” ujarnya.

Sedangkan Fronthea Swastawati, penemu dan pemegang hak paten atas teknologi ini mengatakan bahwa teknologi asap cair ini sangat baik untuk kesehatan.

Teknologi ini, juga sebagai solusi atas persoalan pencemaran lingkungan. Sebab, dengan hasil Ikan yang cukup banyak, masyarakat Indonesia masih menggunakan cara konvensional untuk mengasapkan ikan.

“Pada asap, banyak terdapat kandungan senyawa berbahaya. Sementara asap cair ini dibuat dengan teknologi firolisis,” ujarnya.

Rektor Universitas Diponegoro Yos Johan Utama yang juga menerima penghargaan, memberikan apresiasinya. Menurutnya, asap cair yang juga mampu mengawetkan ikan ini merupakan salah satu contoh hasil riset yang berhasil dihilirisasi. “Masih banyak nelayan yang melakukan pengawetan dengan cara yang membahayakan. Dengan ini, bisa lebih higienis dan masa pengawetan lebih lama,” kata dia. (drh)