Beranda Sekolah Hebat Opini Guru Kartini, Bidadari Berselendang Bianglala

Kartini, Bidadari Berselendang Bianglala

115
BERBAGI
Retno Fajarwati, S.Pd Guru SMA Negeri 1 Sidoharjo, Wonogiri
Retno Fajarwati, S.Pd Guru SMA Negeri 1 Sidoharjo, Wonogiri

JATENGPOS.CO.ID, – Batas kekebasan wanita sesungguhnya sangat jelas, yakni fitrahnya. Peran yang disandangnya sebagai istri yang mendampingi suaminya serta ibu yang melahirkan dan mendidik anak-anaknya. Jika batas ini dilanggar bisa menimbulkan masalah-masalah sosial di masyarakat. Besarnya peran wanita di sektor publik yang tidak seimbang lagi dengan peran domestik ternyata menjadi sesuatu yang harus waspadai di negara ini. Wanita yang ke luar dari rumah untuk menjalankan aneka kebaikan adalah “kebolehan” sedang profesionalisme peran ibu rumah tangga sebagai istri atau pendamping suami dan ibu sebagai pendidik anak-anaknya  sebuah “kewajiban”. Banyak wanita yang menjadi guru, menteri, dokter, ekonom bahkan politikus, fakta ini menunjukkan sesama wanita harus saling menguatkan perannya. Dikhawatirkan, efek lanjutnya bisa jadi juga karena wanita merasa dapat bebas dan mampu memenuhi kebutuhannya.

Masalah sosial lainnya, jatuhnya mentalitas generasi muda, karena pola pendidikan yang salah atau tidak sempurna. Hal ini kebanyakan karena wanita yang tidak cukup memenuhi peran utamanya sebagai ibu, karena belenggu kebebasan telah menyibukkannya dengan peran-peran lainnya yang sifatnya lebih material dan sama sekali tak sebanding dengan peran utamanya sebagai wanita.

Raden Ajeng Kartini, nama pahlawan yang terkenal dengan bukunya “Habis Gelap Terbitlah Terang” salah satu sosok wanita Indonesia untuk terbebas dari kungkungan kebodohan dan keterbelakangan. Kerja kerasnya untuk dapat mengangkat harkat dan martabat wanita selalu menginspirasi perjuangan wanita. Pemikirannya yang luar biasa mengenai keterindasan yang dialami kaum perempuan yang dibatasi haknya. Kartini prihatin atas sikap pemerintah, adat jawa yang tidak memperbolehkan menikmati pendidikan, wanita dianggap rendah oleh laki-laki. Pada saat itu, pendidikan hanya milik ningrat saja, wanita hanya berperan sebagai ibu yang melahirkan dan memebesarkan anak-anak, mengurus rumah tangga dan melayani suami. Jika ini berlanjut terus maka wanita tidak akan berkembang.

Pemikiran dan cita-cita Kartini inilah ditangkap sebagai emansipasi, kebebasan sepenuhnya bagi wanita untuk sejajar dengan pria. Pemikiran Kartini terkait dengan peran wanita yang cerdas, pemikiran yang luas. Kiprah Kartini tidak saja dipandang dalam pemikiran mengenai keadilan serta kesetaraan Gender tetapi mengenai kebangsaan serta upayanya untuk membebaskan diri dari kungkungan budaya ningrat.

Jika dulu Kartini berjuang mendobrak adat demi kesetaraan, Kartini sekarang justru terjebak pada hal sebaliknya. Kartini sekarang justru mengurai kembali benang yang sudah dipintai, sebagai sebuah perjuangan emansipasi. Mereka merayakan hari kartini, namun mengecilkan arti perjuangannya. Kartini sekarang dengan segala askes kebebasan yang dimilikinya dapat menggunakan dalih kecerdasan dan kompetensi untuk menghindari peran pokoknya. Kartini sekarang terbelenggu dalam kebebasannya. Padahal sebuah kebebasan tidak sepenuhnya baik, manusia memerlukan batas-batas tertentu (guide) yang bisa mengarahkannya.

Banyak wanita Indonesia yang kini telah dipercaya menjadi pemimpin, baik di perusahaan atau instansi pemerintahan karena kemampuannya. Wanita pun lebih banyak yang beraktivitas di ruang publik untuk mengembangkan diri dan menuju puncak karier. Hal ini sah-sah saja, asal diiringi dengan pemaknaan perjuangan emansipasi. Emansipasi itu ada untuk kebaikan bersama, yakni untuk diri dan keluarga.Untuk menyeimbangkan hal ini, dibutuhkan komitmen bersama dalam sebuah keluarga. Komitmen itu harus disepakati dan dijaga dengan komunikasi dua arah (keterbukaan), sehingga tidak merusak tatanan rumah tangga.

Kartini sekarang harus menyadari bahwa peran pria atau suami adalah pemimpin yang harus dipatuhi juga didampingi. Bukan memanfaatkan kedudukannya untuk hal-hal yang merugikan dirinya maupun keluarganya. Wanita harus bisa menikmati “ruang”nya untuk bersosialisasi, berkumpul dengan yang lain, namun jangan sampai melalaikan tugas utama. Wanita harus tetap bertanggung jawab atas semua perannya, sehingga tidak memaknai emansipasi dengan bebas melakukan apapun dan mengabaikan peran utamanya.

Kartini, Bidadari berselendang bianglala yang hidup di zamannya penuh dengan banyak perjuangan, harapannya banyak pelangi yang indah untuk Kartini sekarang. Semoga Kartini-kartini Indonesia bisa memaknai emansipasi secara tepat. Bisa melahirkan generasi yang berahklak mulia, berkarakter dan berakidah kuat dan membawa kebaikan bagi masyarakat dan negara.

Retno Fajarwati, S.Pd

Guru SMA Negeri 1 Sidoharjo, Wonogiri

BERBAGI