Beranda Sekolah Hebat Opini Guru Kartu Problem Vs Kartu Solusi

Kartu Problem Vs Kartu Solusi

16
BERBAGI
Endang Hastutiningsih, ST.M.Eng Guru SMKN 2 Wonogiri
Endang Hastutiningsih, ST.M.Eng Guru SMKN 2 Wonogiri

JATENGPOS.CO.ID, – “ Heran ya…nilai praktik/ ketrampilannya mayoritas bagus lho, tapi kok nilai teori ancur begini sihh ??” Tidak hanya penulis yang sering mengalami hal tersebut. Rekan-rekan guru yang mengajar mata pelajaran produktif sering mengalami pula. Kondisi demikian patut diperhatikan guru pengajar.

Setelah diidentifikasi, diketahui bahwa ketidaktercapaian target hasil belajar tersebut dikarenakan proses pembelajaran yang dilaksanakan kurang menarik minat sebagian besar siswa. Salah satunya karena waktu pembelajaran yang panjang dan metode pembelajaran yang monoton.  Rendahnya hasil belajar siswa tersebut juga disebabkan oleh proses pembelajaran yang bersifat konvensional, yaitu pembelajaran masih bersifat teacher centered. Metode pembelajaran didominasi oleh metode ceramah dan kurang melibatkan keaktifan siswa.

Mengacu pada kondisi tersebut, maka diperlukan adanya suatu alternatif pemecahan masalah yang dapat memberikan perubahan ke arah yang lebih baik dalam proses pembelajaran, sehingga hasil belajar seluruh siswa lebih meningkat dari sebelumnya. Sebagai salah satu solusi yang dapat dilakukan berkaitan dengan permasalahan di atas adalah dengan menerapkan suatu metode pembelajaran yang lebih menarik bagi siswa dan dapat memfasilitasi siswa untuk lebih aktif dan termotivasi untuk meningkatkan kemampuannya, terutama kemampuan belajar teori produktif  yang dijadikan sebagai fokus kajian.

Metode permainan “Kartu Sederhana” ini dipilih sebagai strategi pemecahan masalah dengan dasar pertimbangan metode pembelajaran ini melibatkan siswa secara aktif dalam mengolaborasikan belajar, bermain,bekerja sama dan berkompetisi. Permainan “Kartu Sederhana” ini merupakan penyederhanaan dari Strategi pembelajaran TGT ( Team Game Tournament ), dimana siswa dibagi menjadi beberapa kelompok yang heterogen, setiap kelompok terdiri 5/6 siswa dengan salah satu siswa sebagai koordinator.

Kartu ini menggunakan 2 set kartu remi yang mudah didapat di toko , satu set kartu berwarna merah berisi pertanyaan yang nantinya akan disebut kartu problem, satu set kartu biru sebagai jawaban yang disebut kartu solusi.

Dalam pelaksanaannya, pembelajaran diawali dengan kegiatan appersepsi dengan mengajak siswa mengingat kembali materi yang telah disampaiakan, kemudian memberikan beberapa pertanyaan. Selanjutnya, memasuki kegiatan inti siswa dikondisikan ke dalam 5 kelompok yang masing-masing terdiri dari 6-7 orang untuk melakukan permainan sesuai dengan prosedur yang telah direncanakan.

Kelas yang sudah terpecah menjadi kelompok kecil saling berdiskusi dan melakukan pengayaan materi produktif yang telah ditetapkan. Koordinator kelompok memimpin anggotanya untuk memilah anggotanya dalam empat katagori, genius, briliant, cerdas dan pandai. Sengaja memberikan nama grade siswa dalam konotasi yang sama, dimaksudkan sebagai sugesti yang positif untuk mereka. Walaupun sebenarnya grade itu dibagi berdasarkan kemampuan dari tingkatan yang tinngi ke rendah.

Acara game inti, siswa melakukan permainan dengan bekal pengetahuan yang cukup dan keceriaan sebagai gambaran motivasi berkompetisi yang sangat besar, menjadi yang terbaik di masing-masing tingkatan menjadi keinginan dari masing-masing siswa. Siswa berkompetisi dengan menggunakan permainan kartu sederhana dalam grade yang sama. Genius dari kelompok satu akan berkompetisi dengan genius kelompok yang lain dan seterusnya.

Secara keseluruhan hasil yang diperoleh dengan menggunakan metode ini siswa sangat antusias dan belajar dengan penuh kegembiraan. Nilai yang diperoleh siswa meningkat  dalam pembelajaran teori produktif. Perubahan yang terjadi pada aktivitas siswa tersebut sudah dapat membuktikan bahwa permainan “Kartu Sederhana” ini cukup efektif dalam meningkatkan keaktifan siswa.

Endang Hastutiningsih, ST.M.Eng

Guru SMKN 2 Wonogiri

 

 

BERBAGI