Beranda Jateng Kasus Jarum Tertinggal dalam Kelamin, UPTD Anggap Wajar

Kasus Jarum Tertinggal dalam Kelamin, UPTD Anggap Wajar

BERBAGI
dr Puji Basuki, Kepala UPTD Puskesmas Cepu. FOTO:DWI FAJAR/JATENGPOS

JATENGPOS.CO.ID. CEPU- Terkait dugaan malpraktik yang dilakukan oleh salah satu bidan UPTD Puskesmas Cepu berinisial G terhadap salah satu pasien Sunti Suprapti (22) warga Cepu Kidul mendapat tanggapan Kepala UPTD Puskesmas Cepu dr Puji Basuki.

Menurut Puji Basuki, penanganan kasus persalinan tersebut sudah sesuai dengan SOP yang ada dan seperti pada umumnya. Dia menjelaskan, terdapat beberapa proses yang sulit dalam persalinan, seperti ketuban pecah, pendarahan, hal tersebut penanganannya tidak mudah.

Dia juga menegaskan bahwa hal itu merupakan sesuatu yang wajar dan sudah dalam satu rangkaian ditangani . Begitu sudah diketahui, semua dilakukan penindakan dan pengambilan.

‘’Jadi tidak ada jarum yang patah dan masih utuh. Tapi ada corpal (corpus alenum) yang tersisa dan itu wajar,” ujar Puji Basuki, Senin (2/4).

Lebih lanjut Puji Basuki menjelaskan, begitu ada corpal yang tertinggal langsung dilakukan tindakan saat itu juga. ‘’Semua dalam koridor persetujuan dan melakukan edukasi kepada pasien. Jadi tidak ada pemaksaan,’’ ujarnya.

Terkait dengan bidan yang berusaha meminta jarum kepada pasien, dirinya menampik bahwa hal tersebut tidaklah benar. ‘’Itu merupakan limbah rumah sakit yang perlu dimusnahkan karena itu berbahaya bagi pasien. Itu pertimbangan kami dan kami tidak memaksa,’’ kata dia.

Puji menjelaskan kasus ini sudah selesai dan tidak ada masalah. Bahkan, kata dia,  selesai persalinan bidan terus melakukan monitoring kepada pasien.

Sebelumnya, kakak kandung korban Nurul (39) mengatakan,  usai proses persalinan bidan menjahit alat kelamin korban. Namun celakanya jarum untuk menjahit putus dan tertinggal di dalam alat kelamin. Kemudian bidan menjahit kembali alat kelamin korban tanpa mengambil jarum yang masih tertinggal.

Keesokan harinya, tepatnya hari Sabtu (17/3) sekitar pukul 9.00 WIB, bidan mendatangi rumah korban guna memastikan kepada korban bahwa apakah jarum benar tertinggal dan menyarankan untuk rontgen di Medika Patra pada Senin (19/3). Hasil rontgen menunjukan bahwa jarum benar tertinggal di dalam alat kelamin.

‘’Saat melakukan rontgen adik saya tidak boleh didampingi oleh siapa pun dan hanya didampingi bidan. Bahkan HP adik saya dibawa oleh bidan agar tidak bisa menghubungi siapa-siapa, entah kenapa seperti itu,’’ ujar Nurul, Sabtu (31/3).

Setelah memastikan jarum tertinggal, Bidan G menyarankan korban untuk dirujuk ke Semarang, namun korban menolak. Akhirnya ditangani bidan namun  tidak berhasil dan memanggil dokter Tedy dari RSU Cepu untuk menanganinya.

Tapi setelah mengetahui peralatan di Puskesmas kurang lengkap, akhirnya dokter Tedy menyarankan untuk dirujuk ke rumah sakit umum Cepu dan jarum tersebut berhasil diangkat.

“Jarumnya sampai saat ini masih di bawa adik saya. Bidan berusaha meminta tapi tidak diberikan. Bahkan bidannya juga menyuruh membuang jarum ke bengawan atau di kloset,’’ ujar Nurul. (jar/feb/muz)

BERBAGI