Beranda Jateng Solo Kasus Pembakaran Bendera Berkalimat Tauhid Berpotensi Pecah Persatuan

Kasus Pembakaran Bendera Berkalimat Tauhid Berpotensi Pecah Persatuan

37
BERBAGI
Singgih Nugroho, Peneliti dari Lembaga Percik.
Singgih Nugroho, Peneliti dari Lembaga Percik.

JATENGPOS.CO.ID, SOLO – Kasus pembakaran bendera tauhid di Garut, Jawa Barat beberapa waktu lalu berpotensi mengancam persatuan dan kesatymuan bangsa Indonesia jika tidak segera diselesaikan dengan baik oleh pemerintah. Bahkan gejala tersebut sudah terlihat saat ini, dimana mulai bermunculan gelombang protes dan aksi demonstrasi di mana-mana.

Peneliti dari Lembaga Percik, Singgih Nugroho mengatakan, isu sectarian di Indonesia memang menjadi salah satu senjata untuk memecah persatuan dan kesatuan bangsa. Apalagi jika melihat basic Negara Indonesia yang memiliki keberagaman budaya dan bahasa menjadi salah satu potensi keretakan yang patut dikhawatirkan.

“Dampak dari peristiwa Garut itu luar biasa. Selain telah membuat gaduh di dunia maya (medsos-red) juga terjadi gelombang protes dimana-mana. Jika tidak segera diatasi akan membawa dampak negatif yang mengkhawatirkan,” terang  saat berbincang dengan wartawan, Jumat (26/10) siang.

Pria yang konsen dalam penelitian demokrasi dan keadilan sosial ini pun berharap masyarakat tidak ikut terprovokasi dan dapat melihat persoalan tersebut dengan jernih. Pasalnya momen seperti ini tak jarang dimanfaatkan oknum tertentu untuk memecah bangsa. Serta tidak mudah terpancing dengan isu-isu yang terjadi saat ini. Provokasi dalam kasus pembakaran bendera kalimat tauhid ini sangat kental. Tentunya disertai dengan tujuan tertentu.

“Dalam hal ini, kami merasa ada pihak tertentu yang sengaja menggoreng isu tersebut supaya terus menggelinding untuk tujuan tertentu. Mari, kita berpikir dengan jernih. Jangan mudah terprovokasi, oleh pihak-pihak tertentu,” himbau pria yang juga aktifis ’98 tersebut.

Lebih lanjut ia memaparkan, kasus tersebut membutuhkan penanganan khusus dari pemerintah. Supaya tidak menjadi bola salju di tengah masyarakat. Tindakan yang diambil saat ini, yakni dengan penetapan tersangka dinilai tidak akan menyelesaikan masalah. Sebab yang dibutuhkan saat ini adalah kehadiran sosok yang dinilai independent dan suaranya didengar oleh kedua belah kubu yang saat ini tengah berkonflik.

“Memang tidak mudah, namun jika menemukan sosok tersebut tentunya akan lebih bijaksana dalam menangani masalah itu,” katanya.

Disisi lain, lanjutnya, pemerintah juga perlu memperbanyak ruang diskusi dengan menghadirkan pihak-pihak independent yang tidak memiliki tendensi apapun untuk membedah kasus tersebut dalam bingkai diskusi.

“Kenapa, karena ruang diskusi (yang dihadiri oleh tokoh tanpa tendensi apapun, red) saat ini dirasa sangat kurang. Yang ada, kepentingan satu dengan kepentingan yang lain, saling beradu argument dalam melihat perspektif kasus tersebut,” jelas Singgih. (Jay/bis)

BERBAGI