Beranda Sekolah Hebat Opini Guru Keimanan Digital

Keimanan Digital

BERBAGI
Moh Arif Mudhafir, S.PdI Guru PAI SMA Negeri 1 Weleri – Kendal
Moh Arif Mudhafir, S.PdI Guru PAI SMA Negeri 1 Weleri – Kendal

KENDAL – Kata Iman sudah menjadi makanan manusia Indonesia sejak kecil. Biasanya didefinisikan dengan percaya atau yakin. Adaula yang mendefinsikannya secara lebih lengkap dengan meyakini dalam hati, mengikrarkan dengan lisan, dan mewujudkan dengan perbuatan sehari-hari.

Kata digital muncul dikala era komputerisasi mulai merebak. Digital identik dengan peralatan elektronik/komputer berikut kemudahan yang tersaji di dalamnya. Buah karya akal pikiran manusia yang menghasilkan kemudahan-kemudahan dalam membantu kehiduan sehari-hari.

Pendidikan Agama Islam tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) atau yang sekarang, berdasar kurikulum 2013, disebut Pendidikan Agama dan Budi Pekerti masih tetap memuat materi tentang keimanan. Meskipun tingkat SMA sudah disebut dengan pendidikan menengah, namun materi keimanan masih tetap diajarkan mulai dari rukun iman yang pertama (iman kepada Allah) sampai dengan rukun iman yang terakhir (iman kepada Qadla dan Qadar).

Pelajaran tentang keimanan di tingkat SMA dimulai dari iman kepada Allah di semester satu, yang dikembangkan melalui gambaran Allah dalam Asmaul Husna. Iman kepada Malaikat Allah di semester duanya. Dilanjutkan kelas sebelas semester satu dengan Iman kepada Kitab-Kitab Allah dan Iman kepada Rasul-Rasul Allah di semester duanya. Dan di kelas dua belas semester satu dengan Iman kepada Hari Akhir dan Iman kepada Qadla dan Qadar di semester duanya.

Dan pelajaran pun dimulai, ketika peserta didik ditanya tentang definisi Iman kepada Allah, semuanya bisa menjawab dengan lantang dan tegas. Disampaikan lagi pertanyaan berikutnya tentang bagaimana caranya menjadi orang beriman kepada Allah, hampir semuanya menjawab dengan lantang, menjalankan segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya. Jawaban yang sangat memuaskan dan mengesankan. Namun ketika diajukan pertanyaan tentang darimana bisa mengetahui segala perintahNya dan segala laranganNya, para peserta didik terdiam sejenak. Ada yang muali berbisik-bisik dengan teman sebelahnya. Ada yang mencoba membuka-buka puku pelajaran. Ada pula yang mengotak-atik telepon pintarnya.

Satu per satu mulai ada yang memberikan jawaban. Ada yang menjawab dari orang tua, guru ngaji, guru agama di sekolah, majalah, televisi, broadcast di grup whatssap, status di facebook, hingga nonton di youtube. Sedikit sekali yang menjawab bahwa perintah dan laranganNya diketahui dari Al Quran.

Dari gambaran tersebut, setelah sekian tahun berikrar menjadi orang yang beriman, masih banyak diantara peserta didik yang beriman dengan bersumber dari “katanya” atau “jarene, menurut istilah jawanya. Antara tidak tahu, belum tahu, tidak mau tahu, atau karena sudah terlanjur hidup di lingkungan yang menyatakan diri beriman.

Ketika mereka ditanya, apakah semuanya memiliki handphone atau smartphone, hampir semuanya menjawab dengan kompak, punya. Smartphone merupakan salah satu hasil karya digital. Banyak hal bisa didapat dan dilakukan dengannya. Menjadi sumber belajar yang tak terbatas, bahkan bisa menjadi sumber godaan yang tak terbatas pula.

Berbicara tentang dunia digital dan godaannya, peserta didik akan dengan mudah sekali untuk mengakses (jika ada pulsa dan jaringan wifi nya) konten-konten negatif (pornografi, radikalisme, kriminal) secara bebas tanpa batas. Di situlah keimanan manusia yang bernama peserta didik mudah tergoyahkan. Ada pepatah yang mengatakan “the man behind the gun”, menunjukkan perilaku manusia dari segi nilai kemanfaatannya. Smartphone akan menjadi pereduksi iman, bahkan mungkin bisa menghilangkannya, jika digunakan oleh manusia yang salah. Begitu juga sebaliknya, smartphone yang terkoneksi internet akan menjadi materi pemuas dahaga dan kelaparan bagi manusia pemburu ilmu dan pengetahuan.

Dunia digital bagai pisau bermata dua. Akan menjadi sesuatu yang sangat bermanfaat dan bisa menjadi seusatu yang bisa menghilangkan martabat. Semua kembali lagi kepada pemanfaatannya. Di era modern seperti sekarang ini, dunia digital sudah menjadi bagiankehidupan manusia, termasuk para pelajar. Oleh karena itu, pemanfaatan smartphone untuk menunjang kegiatan belajar mengajar haruslah menjadi pembiasaan. Agar peserta didik tahu dimana nilai manfaat dunia digital yang bisa dia kembangkan. Sehingga secara tidak langsung bisa meredam potensi negatif yang ada di baliknya.

Kembali ke materi keimanan dan digital, darinya peserta didik bisa mengambil atau mendownload konten atau materi pelajaran. Khususnya yang berkaitan dengan materi Iman kepada Allah, yaitu download Al Quran digital. Yang utntuk saat ini sudah ada al quran digital resmi dari Kementrian Agama Republik Indonesia, lengkap dengan terjemahan dan tafsir per ayatnya. Dari situ peserta didik bisa lebih mengenal Tuhannya melalui ayat-ayat digitalnya. Membuka hp tidak lagi hanya sekedar hiburan dan permainan semata, tapi bisa menjadi bekal untuk lebih meningkatkan spritual keTuhanannya.

Sambil istirahat, tiduran, bahkan nongkrong pun bisa sambil tadarus. Dan yang tak kalah penting, bisa mencari tahu lebih banyak tentang perintah-perintah Nya dan larangan-larangan Nya. perintah Tuhan adalah petunjuk kehidupan. Isinya sangat manusiawi alias sesuai dengan jiwa dan raga manusia. Larangan Tuhan juga sama, akan berbahaya bagi jiwa dan raga manusia bila dilanggarnya. satu hari satu ayat, insya allah semakin bertambah hari bertambah pula keimanan manusia.

Sehingga diharapkan bisa menjadi manusia yang beriman karena memang benar-benar beriman. Sehingga kelak, semakin canggih manusia akan semakin tinggi pula spiritualitas keimanannya.

BERBAGI