Beranda Sekolah Hebat Opini Guru Kemandirian Anak Tunagrahita Melalui Pelatihan Ketrampilan

Kemandirian Anak Tunagrahita Melalui Pelatihan Ketrampilan

103
Anik Sulistyowati, S.Pd Guru SLB Negeri Srage
Anik Sulistyowati, S.Pd Guru SLB Negeri Srage

Anak berkebutuhan khusus menurut Heward (dalam Suparno 2007) adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukkan ketidakmampuan mental, emosi, atau fisik. Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang secara signifikan mengalami kelainan/penyimpangan (fisik, mental-intelektual, sosial, dan emosional) dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya dibandingkan dengan anak-anak seusianya sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus.
Menurut Kauffman & Hallahan dan Bendi (2006) tipe-tipe kebutuhan khusus yang menyita perhatian dari orang tua dan guru adalah tunagrahita (mental retardation) atau anak dengan hambatan perkembangan, kesulitan belajar (learning disabilities) atau anak yang berprestasi rendah, hiperaktif (attention deficit disorder with hyperactive), tunalaras (emotional and behavioral disorder), tunarungu wicara (communication disorder and deafness), tunanetra anak dengan hambatan penglihatan (partially seing and legally blind), autistik, tunadaksa (physical handicapped), dan anak berbakat (giftedness and special talents).
Hak atas pendidikan sebagai bagian dari hak asasi manusia di Indonesia tidak sekadar hak moral melainkan juga hak konstitusional.Ini sesuai dengan ketentuan UUD 1945 (amandemen), khususnya Pasal 28 (C) Ayat (1) yang menyatakan, “Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak memperoleh pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan

budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.”Hak tersebut bukan hanya sekedar untuk anak normal tetapi anak berkebutuhan khusus juga mendapat hak penuh dalam memperoleh pendidikan (Undang-Undang Dasar 1945 & Konstitusi Indonesia, 2006 ).
Dilansirdari laman kemendikbud.go.id dari 1,6 juta anak berkebutuhan khusus baru 18 % yang mendapat layanan pendidikan inklusi. Dari 18 % tersebut terdapat 115 ribu anak bersekolah di SLB dan 299 ribu lainnya bersekolah di sekolah reguler pelaksana sekolah inklusi. Artinya, masih terdapat 1.186.000 anak berkebutuhan khusus yang belum mengenyam pendidikan di sekolah, baik sekolah khusus ataupun sekolah inklusi.
Pemahaman masyarakat umum mengenai penyandang disabilitas atau bisa juga disebut anak berkebutuhan khusus masih sangat minim, kebanyakan mereka menganggap bahwa anak berkebutuhan khusus merupakan anak yang tidak memiliki kemampuan apapun.
Salah satu dari mereka adalah anak tunagrahita.
Kemandirian menurut Erikson (dalam Monks, dkk, 1989), menyatakan

kemandirian adalah usaha untuk melepaskan diri dari orangtua dengan maksud untuk menemukan dirinya melalui proses mencari identitas ego yaitu merupakan perkembangan ke arah individualitas yang mantap dan berdiri sendiri.
Menumbuhkan kemandirian seorang anak sejak usia dini sangatlah penting, karena anak akan terbiasa mengerjakan kebutuhannya sendiri. Kemandirian dapat diartikan dengan sikap yang ditandai kepercayaan diri dan terlepas dari ketergantungan orang lain.
Salah satu tujuan layanan pendidikan anak retardasi mental adalah berkaitan dengan kemandirian. Anak tunagrahita mengalami hambatan dalam fungsi kecerdasan, maka target kemandiriannya harus dirumuskan sesuai dengan potensi yang mereka miliki, sehingga dapat dikatakan adanya kesesuaian antara kemampuan yang aktual dengan potensi yang mereka miliki. Pencapaian kemandirian tidak dapat diartikan sama dengan pencapaian kemandirian anak normal pada umumnya.
Beberapa upaya untuk mencapai ciri kemandirian yang sesuai dengan potensi yang dimiliki, diantaranya; menumbuhkan rasa percaya diri, tanggung jawab, kemampuan menentukan pilihan dan mengambil keputusan sendiri.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia keterampilan adalah kecakapan untuk menyelesaikan tugas. Jadi, dapat disimpulkan bahwa pelatihan keterampilan adalah kemampuan anak dalam melakukan berbagai aktivitas

terencana dalam usahanya untuk menyelesaikan tugas.
Pelatihan keterampilan yang diberikan pada anak tunagrahita di SLB Negeri Sragen bertujuan agar anak hidup secara wajar, dan mampu menyesuaikan diri di tengah-tengah kehidupan keluarga dan masyarakat, agar anak dapat mengurus keperluanya sendiri serta dapat memecahkan masalahnya sendiri, memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap dasar yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan di dalam mencari nafkah.
Adapun jenis ketrampilan yang diajarkan di SLB Negeri Sragen antara lain Ketrampilan Bina Diri atau dapat disebut dengan mengurus diri sendiri (self help) atau memelihara diri sendiri (self care). Bagi anak tunagrahita hal ini sangatlah perlu diajarkan dan dipraktekkan.Sebagai contoh kemampuan untuk memakai baju sendiri, mencuci peralatan makan, dan berbagai kegiatan sehari-hari. Selain ketrampilan bina diri, ketrampilan Sosial juga sangatlah perlu diajarkan kepada anak tunagrahita. Keterampilan sosial itu berupa keterampilan bermain, berinteraksi, bersikap ramah, tanggung jawab terhadap diri sendiri dan dapat memanfaatkan waktu luang.(*)


Anik Sulistyowati, S.Pd
Guru SLB Negeri Sragen