Beranda Travelling Kemenparekraf Kembangkan 19 Desa Wisata di Danau Toba, Ini Potensi yang Dimilikinya

Kemenparekraf Kembangkan 19 Desa Wisata di Danau Toba, Ini Potensi yang Dimilikinya

6

JATENGPOS.CO.ID,  BALIGE -Kemenparekraf tengah mengembangkan desa wisata di Danau Toba. Ada 19 desa yang akan dikembangkan menjadi desa wisata. 19 desa tersebut tersebar di enam kabupaten yakni Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Humbanghas, Kabupaten Samosir, Kabupaten Dairi, Kabupaten Simalungun dan Kabupaten Toba. Sub Koordinator Area I A Kemenparekraf/Baparekraf, Andhy Marpaung menjelaskan, pengembangan desa wisata ini sudah barang tentu mendukung eksistensi Danau Toba sebagai destinasi super prioritas.

“Desa wisata ini merupakan program implementasi kebijakan Presiden Joko Widodo. Pengembangan desa wisata menjadi prioritas dalam RPJMN 2020-2024. Pengembangan desa wisata mendukung pencapaian indikator percepatan pengembangan destinasi pariwisata prioritas,” kata Andhy pada acara Focus Group Discussion (FGD) penyusunan roadmap desa wisata di Danau Toba, Senin (19/10/2020).

Pada acara yang diselenggarakan di Labersa Toba Hotel and Convention itu ia melanjutkan, keberadaan desa wisata akan menopang pembangunan dan bergeraknya perekonomian masyarakat. Artinya, selain potensi desa yang tergali, pengembangan desa wisata juga berdampak positif bagi perekonomian masyarakat desa tersebut.

“Desa wisata tak hanya mengeksplor potensi yang ada, tapi juga meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat oleh karena desa wisata memiliki triple down effect yang langsung dirasakan masyarakat,” kata Andhy.

Mengacu kepada paparan yang disampaikan, 19 pengembangan desa wisata di Danau Toba memiliki keunikan dan daya dukung tersendiri. Berikut potensi yang dimiliki oleh masing-masing desa wisata yang tengah dikembangkan Kemenparekraf/Baparekraf. Desa Wisata Huta Ginjang di Tapanuli Utara memiliki potensi wisata seperti panorama keindahan danau dari ketinggian 1.637 mdpl dengan kontur bukit menghijau, olahraga paralayang, gantole dan motorlayang, wisata religi sekaligus kawasan outbond, produsen kopi di Sumatera Utara dan budaya sejarah Raja Parbaringin dan situs-situs budaya Desa Huta Ginjang.

Desa Wisata Dolok Martumbur memiliki potensi view Danau Toba dari ketinggian, salah satu lokasi yang terpilih sebagai village business park dari Kemendesa PDTT dan sudah terdapat sepuluh rumah yang diusulkan menjadi homestay (bedah rumah PUPR). Destinasi wisata Sibandang memiliki potensi sejarah kerajaan Djaihoetan beserta peninggalannya, lokasi desa wisata di pulau terpencil, sudah pernah dikunjungi wisman dan sudah terdapat 35 homestay. Desa wisata Hutanagodang memiliki sejumlah potensi di antaranya kampung tenun ulos tradisional dengan tradisi menenun di bawah rumah tradisional, wisata edukasi menenun ulos, motif kain limited edition dan cita rasa kopi robusta Desa Hutanagodang.

Selanjutnya Desa Wisata Marbun Toruan memiliki potensi event ‘mangebang’ (memestakan peluncuran kapal), memiliki akses pelabuhan dan kedekatan lokasi dengan istana Sisingamaraja. Desa Wisata Tipang memiliki keunggulan tracking air terjun Sipultak Hoda. Desa wisata ini memiliki pengelompokkan wisata seperti air, agro, ekstrem atau petualangan dan sejarah. Ada pula komunitas raja Napitu, air terjun yang mengairi seluruh persawahan dan kuliner khas ikonik. Desa Wisata Nagasaribu I memiliki potensi berupa hasil kopi yang sudah terkenal, sudah rutin dikunjungi wisman, memiliki paket wisata pengolahan kopi (agrowisata). Desa Wisata Pearung memiliki potensi dataran tinggi yang menjadi bukti letusan dahsyat 74 ribu tahun yang lalu, pemandangan Danau Toba dari Sipinsur, agrowisata jeruk, kopi, pearung dan andaliman serta makanan khas Limi-limi.

Desa wisata Hariara Pohan memiliki potensi berkemah di atas Bukit Holbung dengan pemandangan Danau Toba (sunrise). Desa Wisata Sosor Dolok memiliki potensi keindahan air terjun dan mayoritas penduduknya petani kopi. Kampung Wisata Tigarihit memiliki keunggulan kampung warna-warni dengan pemandangan Danau Toba (sunset) dan suasana ‘perkotaan’ (urban village) serta kuliner khas Dolung-dolung. Desa wisata Silalahi 1 memiliki potensi berupa percampuran kebudayaan antara Pakpak, Toba dan Simalungun. Ada juga tenun ulos tradisional Silalahi, memiliki buah mangga paling manis dan buahnya sudah berusia ratusan tahun dan makanan khas berupa Bubur Sitohap. Desa Wisata Sigapiton memiliki potensi situs sejarah, terasering sawah yang luas dan rapih, Sanggar Tari Natulo, daya tarik mitos (bona naik, air terjun, batu pengasingan, nual tulung, pijakan Sisiagukguk dan batu sitali). Ada pula sanggar kesenian (musik dan tari) yang dikelola BPODT.

Desa Wisata Pardamean Sibisa hal-hal yang diunggulkan adalah kerajinan ukiran kayu khas Batak yang merupakan replika dari benda pusaka zaman dahulu seperti tongkat raja, ukiran ornamen Batak, alat musik kecapi dan lainnya. Mayoritas penduduk petani kopi dan telah dikemas “Kopi Sibisa”. Desa Wisata Jangga Dolok memiliki potensi perkampungan rumah adat dan sopo, agrowisata kopi, padi, sayur, rempah-rempah dan buah, cerita moral Tongkat Padaluang, Sungai Julu sebagai sumber air Danau Toba dan pemandian alam, memiliki mars Jangga Dolok dan lagu Partodian karya desa. Terdapat pula olahraga Marmoncak, memiliki warisan budaya yang bisa dilestarikan dan memiliki rumah adat tertua di Toba.

Desa Wisata Lumban Bulbul memiliki potensi pantai pasir putih yang luas dan landai, sudah ramai dikunjungi sebagai tempat rekreasi, Sanggar Naposo Lumban Bulbul, kuliner khas ikan Nila Andaliman dan Sasagon Toba. Desa Wisata Tara Bunga memiliki potensi agrowisata buah-buahan dan pemandangan Danau Toba, memiliki cukup banyak kerbau sebagai potensi wisata, Ulos Tarabunga yang memiliki nilai filosofi tinggi, dekat dengan makam Pardede, memiliki mitos pohon hariara dan batu besar, memiliki satu rumah adat dan satu sopo yang akan dijadikan pusat kerajinan dan sanggar seni. Desa Wisata Meat memiliki potensi berupa perkampungan rumah adat Ragihotang dan kerajinan tenun ulos tradisional. Terakhir, Desa Wisata Lintongnihuta memiliki potensi berupa pemandangan luas Danau Toba dari Bukit Singgolom.

Kepala Pusat Pengembangan dan Perencanaan Kepariwisataan ITB, Ina Herlina Koswara menyebut potensi-potensi tersebut yang kini tengah dikerucutkan untuk dibuatkan roadmap merealisasikan desa wisata. Potensi tersebut, kata Ina, menjadi kekuatan dan keunikan masing-masing desa yang bisa memberi nilai tambah kepada masyarakat jika dikelola dengan baik. “Penyusunan roadmap ini untuk melihat lebih detail problematika yang dihadapi dan solusi untuk menyelesaikannya,” kata Ina.

Di sisi lain, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Toba , Jhon Piter Silalahi mengucapkan terima kasih kepada Kemenparekraf/Baparekraf yang sudah memfasilitasi pengembangan desa wisata di kawasan Danau Toba. “FGD ini diharapkan tak sia-sia. Kita berharap seluruh potensi yang dimiliki dapat dikembangkan dan difasilitasi menjadi desa wisata. Ini butuh komitmen kita bersama,” ujarnya. (*)