Beranda Jateng Solo Kementerian Agama Sebutkan TITD Kwan Sing Bio Tuban Tetap Jadi Tempat Ibadah...

Kementerian Agama Sebutkan TITD Kwan Sing Bio Tuban Tetap Jadi Tempat Ibadah Tri Dharma

16
Dr. H. Wawan Djunaedi Kepala Pusat Bimbingan dan Pendidikan Khonghucu Sekjen Kemenag, ketua Penilik demisioner Alim Sugiantoro, pengurus dan umat Konghucu di TITD Kwan Sing Bio Tuban.

JATENGPOS.CO.ID, TUBAN – Umat Konghucu menggelar sembahyang perdana di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Kwan Sing Bio Tuban, Sabtu (14/11).

Nampak umat Konghucu khusyuk melakukan sembahyang di ruangan Linthang Konfusiani. Pelaksanaan sembahyang dilakukan dengan memperhatikan protokol kesehatan yang ketat.

 

Sembahyang perdana tersebut juga dihadiri oleh Dr. H. Wawan Djunaedi Kepala Pusat Bimbingan dan Pendidikan Khonghucu Sekretariat Jendral Kementerian Agama Republik Indonesia, dan Rohaniawan Wense Purwani dari Solo.

“Klenteng Kwan Sing Bio Tuban, merupakan tempat ibadah bersama bagi umat Khonghucu, Buddha dan Tao. Keberadaan kelenteng terbesar se-Asia Tenggara ini sebagai simbol kerukunan antar umat beragama yang harus tetap di jaga,” ungkap Wawan Djunaedi, saat melakukan pembinaan di TITD Kwan Sing Bio Tuban.

Wawan Djunaedi menambahkan, keberadaan TITD adalah simbolis sangat luar biasa yang harus mengedepankan untuk kerukunan umat beragama. Sebab TITD singkat dari tempat ibadah Tri Dharma yakni tiga agama.

 

“Orang bisa masuk ke TITD artinya secara keimanan bisa menerima keberagaman,” tegas Wawan Djunaedi.

 

Wawan datang ke rumah ibadah dengan patung kepiting itu dalam rangka untuk memberikan pelayanan keagamaan dan memastikan semua umat bisa beribadah dengan nyaman. Terkait dinamika yang terjadi selama ini, Wawan Djunaedi mempersilahkan untuk ke jalur Yudikatif sebab keberadaan kementerian adalah fokus di pelayanan agama.

 

Ia berpesan supaya dinamika (konflik kepengurus di kelenteng, red) bisa segera dituntaskan dan ada titik kesepahaman agar umat atau masyarakat bisa beribadah secara nyaman.

 

Ia pun memberikan saran terkait dinamika yang ada di kelenteng ini diselesaikan secara musyawarah atau jalur mediasi. Artinya, dicarikan solusi terbaik yang semua pihak bisa sama-sama menang.

 

“Dinamika ini supaya diselesaikan secara musyawarah atau jalur mediasi, sehingga umat yang menang adalah umat beragama,” terangnya.

 

Kedatangan rombongan pusat bimbingan dan pendidikan Khonghucu Sekretariat Jendral Kementerian Agama Republik Indonesia itu disambut baik oleh pengurus dan Alim Sugiantoro Ketua Penilik Domisioner Kelenteng Tuban.

 

“Kita sangat berterima kasih sama pak Wawan karena dia sangat antusias sekali untuk membimbing agama Khonghucu agar bisa bersatu dan menghormati agama lain,” terang Alim Sugiantoro.

 

Alim Sugiantoro telah sepakat untuk dinamika yang ada di kelenteng diselesaikan melalui jalur mediasi. Hal itu dibuktikan dengan pembukaan gerbang pintu kelenteng yang digembok sejak 28 Juli 2020 bisa dibuka kembali melalui jalur mediasi dengan melibatkan tiga tokoh berpengaruh.

 

Tiga tokoh yang dilibatkan itu adalah Bos Maspion Grup Alim Markus, Bos Kapal Api Soedomo Mergonoto dan Paulus Welly Affandi (Wefan), pada Minggu (25/10/2020).

 

Lebih lanjut, ia menegaskan jika masih ada pihak yang mempersoalkan maka itu dipastikan hanya segelintir umat bukan suara mayoritas umat. Sebab, semua telah sepakat semua persoalan diselesaikan jalur mediasi demi kerukunan umat beragama.

 

“Saya sepakat semua masalah diselesaikan secara mediasi, dan saya kira persoalan sudah selesai,” pungkasnya. (Dea/bis)